Timnas Indonesia Punya Banyak PR Setelah Takluk dari Kyrgystan

Oleh Abdi Satria pada 06 Des 2017, 22:10 WIB
Ilija Spasojevic

Bola.com, Banda Aceh - Mantan asisten pelatih Persipura Jayara, Tony Ho, menilai timnas Indonesia punya banyak pekerjaan rumah (PR) dan mendapat pelajaran berharga setelah ditekuk Kyrgyzstan 0-1 pada laga World Solidarity Tsunami Cup (AWSTC) 2017 di Stadion Harapan Bangsa, Aceh, Rabu (6/12/2017).

Menurut Tony, Toni mendapat pelajaran cara bermain efektif untuk menyiasati kondisi lapangan yang buruk. "Indonesia memang sudah berusaha main cepat. Tapi, aliran bolanya tidak lancar karena lapangan jelek. Kondisi ini diperparah oleh aksi Febri Hariyadi dan Osvaldo Haay yang terlalu individualistis dari sisi sayap," ujar Tony kepada Bola.com.

Aksi kedua pemain jadi percuma karena lini belakang Kyrgyzstan bermain rapat dan bermain ke dalam. Alhasil, tidak ada ruang buat keduanya untuk berkreasi.  "Dukungan antar lini pun tidak berjalan optimal," jelas Tony.

Selain memiliki organisasi pertahanan yang baik, Kyrgyzstan dinilai bermain efektif atau jarang berlama-lama dengan bola. "Mereka juga mengandalkan umpan panjang. Alhasil, saat mereka diserang, delapan sampai sembilan pemain Kyrgyzstan lebih muda menghadapi Indonesia yang hanya mengandalkan paling banyak lima pemain," papar Tony yang baru saja mengikuti kursus lisensi A AFC ini.

Tony juga menyebut dua bek sayap timnas Indonesia, Putu Gede dan Ricky Fajrin, kurang aktif membantu serangan sampai sepertiga daerah pertahanan lawan. Tony juga menyoroti gol Kyrgyzstan yang terjadi karena kelalaian lini belakang dalam mengontrol pergerakan lawan.

"Seperti biasa, pemain timnas kita terpaku dengan bola tanpa melihat pemain lawan yang muncul," tutur Tony yang pernah masuk dalam staf pelatih di PSM Makassar, Arema Indonesia, Persela Lamongan dan Borneo FC ini.

Terkait dengan penampilan Ilija Spasojevic, striker timnas yang masuk kedua, Tony menilai tidak membawa pengaruh besar untuk menambah kualitas serangan tim Garuda.

"Saya malah melihat Spaso terkesan jadi 'orang bodoh' menghadapi pemain yang posturnya sama dengan dia," kata Tony.

Tony berharap Luis Milla bisa mendapatkan solusi untuk mengatasi kelemahan timnas. Terutama menghadapi lawan yag secara fisik lebih unggul. Apalagi di Asian Games 2018, Indonesia yang membidik semifinal akan menghadapi tim kuat seperti tim dari Timur Tengah dan pecahan Uni Soviet yang berpostur tinggi besar.

Dari sisi mental, Tony juga menyentil dua penggawa Timnas Indonesia, Putu dan Hargianto, yang tidak bisa mengotrol emosi saat mendapat provokasi lawan. "Kalau wasit asing, Putu dan Hargianto sudah mendapat kartu merah pada pertandingan tadi," ujar Tony.  

Ireng WdIreng Wd

wahai luis milla sobA dengarLah itu sebagai masukan positif, jgn tutup kuping ya. tim kuat jgn sll diartikan berpostur tubuh tinggi-besar saja tapi yg tepat adalah 'STRATEGI MENGHADAPI LAWAN DAN CARA MENGHADAPI STRATEGI LAWAN'

endang taryonoendang taryono

hargianto songong ....

endang taryonoendang taryono

harguanto dan putu gede ga mutu

Lihat Lainnya