Greysia Polii / Apriyani Rahayu dan Impian Kumandangkan Indonesia Raya

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 05 Agu 2018, 10:00 WIB
Diperbarui 05 Agu 2018, 10:00 WIB
Greysia Polii/Apriyani Rahayu
Garuda Kita, Greysia Polii/Apriyani Rahayu. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Greysia Polii/Apriyani Rahayu menjadi salah satu andalan Indonesia pada cabang olahraga bulutangkis dari sektor ganda putri di Asian Games 2018. Merengkuh medali, terutama emas, pada event bergengsi di kandang sendiri diakui merupakan ambisi besar pasangan tersebut. 

Apriyani menyimpan rasa penasaran besar. Apalagi ini adalah Asian Games edisi pertamanya bagi Apriyani. Berbeda dengan Greysia Polii yang sudah punya pengalaman di event akbar tersebut. Bahkan, Greysia sudah pernah mencicipi indahnya merengkuh medali emas pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. 

Pada Asian Games 2014, Greysia Polii berpasangan dengan Nitya Krishinda Maheswari. Pada partai final, mereka sukses mengalahkan wakil Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, dengan skor 21-15, 21-5.

Namun, sejak 2017 Greysia tak lagi berpasangan dengan Nitya. Pelatih ganda putri bereksperimen memasangkan Greysia dengan Apriyani Rahayu.

Pasangan ini terbilang lintas generasi. Apriayani Rahayu lebih muda 10 tahun dibanding Greysia. Meski demikian, gap usia tak menjadi halangan. Sejak berpasangan, Greysia/Apriyani sejauh ini sukses meraih empat gelar di berbagai turnamen.

Penampilan apik keduanya berdampak langsung pada posisi di ranking dunia. Greysia/Apriyani bercokol di peringkat keeenam, dengan perincian 43 kemenangan serta 14 kali kalah. Mengacu pada catatan tersebut, pasangan ini layak dibebani target medali di Asian Games 2018.

2 dari 3 halaman

Saling Menghargai dan Terbuka

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu berpose saat sesi pemotretan di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung, Jakarta, Senin (7/5/2018). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Kalian terbilang cukup cepat beradaptasi sebagai pasangan di ganda putri hingga menembus peringkat 10 dunia. Apa resepnya?

Greysia: Beradaptasi dengan pasangan baru kan tidak mudah. Contohnya ada karakter dia yang saya tidak suka, ada karakter saya yang dia tidak suka, akan tetapi kami bisa cepat menyatu ya karena ada itu.

Ada kombinasi dan kami komunikasi. Yang paling penting sebenarnya ada kepercayaan satu sama lain.

Ketika pertama kali diputuskan berpasangan, respons kalian seperti apa?

Apriyani: Kalau saya senang dan lebih termotivasi ketika bermain bersama Kakak Greysia.

Greysia: Saya kaget seperti kok bisa ya? Kok pelatihnya milih seperti ini? Akan tetapi, intinya ya begini pasti ada hal yang baik. Yang pertama saya tanya ke dia mau berpasangan, mau komitmen, mau konsentrasi tidak? Itu semua saya bicarakan sebelum latihan. Saya coba tantang dia untuk keluar dari zona nyaman dan ajak menjadi juara.

Menurut Apriyani, sosok Greysia Polii itu seperti apa?

Apriyani: Kak Greysia itu kalau di lapangan keras banget. Apalagi ke saya. Saya seorang yang pecicilan. Dia menerima sifat saya yang seperti itu. Kalau di luar lapangan dia bisa menyesuaikan dengan pergaulan saya. Dia bisa seperti teman. Jadi, ya intinya saling menghargai dan terbuka.

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu berpose saat sesi pemotretan di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung, Jakarta, Senin (7/5/2018). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Kalian berdua terpaut usia 10 tahun, apa keuntungan atau kerugiannya?

Apriyani: Saya lebih dapat keuntungannya. Saya lebih banyak pelajaran yang didapat. Saya juga makin dewasa dan banyak masukan yang didapat dari kak Greysia. Dulu sempat ada tekanan karena main dengan senior, kalau sekarang tidak ada.

Greysia: Saya sejak berpasangan dengan dia kan inginnya mendidik. Saya ingin ada pemain yang mampu meneruskan saya di masa depan. Jadi, saya tidak ingin menggunakan ego saya dengan prestasi saya yang dulu. Jadi, ketika berpasangan sama dia, mulai dari nol lagi. Jadi memang harus jadi contoh yang benar.

Di bulutangkis kan prestasi pasang surut. Ketika meraih juara, kalian dibanggakan, tetapi ketika kalah kadang malah dijatuhkan. Apa rahasianya supaya tidak terpengaruh hal seperti itu?

Apriyani: Ketika memang sedang di atas, kami mencoba untuk seperti biasa saja. Menganggap diri sendiri belum menjadi apa-apa. Akan tetapi, kalau sedang di lapangan harus bisa menyombongkan diri juga di mata lawan supaya lebih percaya diri.

Greysia: Ketika sedang di bawah, kami harus sadar berarti ada sesuatu yang kurang. Contohnya dalam tindakan permainan atau mungkin banyak melakukan kesalahan. Sebaliknya, ketika menjadi juara kami juga harus sadar. Kuncinya selalu sadar.

3 dari 3 halaman

Demi Mimpi dan Harga Diri Indonesia

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu berpose saat sesi pemotretan di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung, Jakarta, Senin (7/5/2018). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bagaimana peta persaingan ganda putri saat ini? 

Apriyani: Kalau dilihat sekarang peta persaingan lebih merata. Negara-negara seperti Jepang, China, dan Korea Selatan itu semuanya bagus.

Greysia: Kalau sekarang itu zamannya siapa yang siap itu yang juara. Contohnya kalau dilihat di ganda putri juaranya ganti-ganti. Berbeda dengan dahulu yang juaranya itu-itu saja.

Kalian bisa melangkah sejauh apa di pentas dunia ganda putri? punya target khusus?

Apriyani: Kalau target khusus, inginnya menang dan meraih medali di Asian Games. Berbeda dengan Kaka Greys, kan saya belum pernah meraih medali di sana. Intinya, bermain baik dulu saja. 

Greysia pernah juara Asian Games bersama Nitya. Apakah itu bisa memotivasi untuk kembali juara bersama Apriyani?

Greysia: Pastinya kami termotivasi untuk bermain di Asian Games. Apalagi nanti bermain di Indonesia dan saya yakin seluruh penggemar bulutangkis Indonesia akan memberikan dukungan, jadi kami bisa lebih termotivasi di lapangan.

Saya sudah pernah meraih medali emas di Asian Games 2018, jadi tidak terlalu penasaran lagi. Namun, saya tetap akan membantu dan berusaha keras dengan Apriyani agar bisa meraih kesuksesan.

Ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu berpose saat sesi pemotretan di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung, Jakarta, Senin (7/5/2018). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bagaimana kalian melihat Asian Games ini, apakah sesuatu yang spesial?

Apriyani: Asian Games tahun ini sangat spesial buat saya karena bermain di negara sendiri, Indonesia. Ini juga menjadi yang pertama buat saya, jadi saya berharap bisa meraih medali. Apalagi ini harga diri bangsa yang jadi pertaruhan.

Greysia: Tentu, sebagai atlet ingin menyanyikan lagu Indonesia Raya di rumah sendiri, saya berharap bukan negara lain. Tapi itu cita-cita dan mimpi. Kami punya target.

Sekarang, tinggal bagaimana kami sebagai pemain dan pelatih untuk meningkatkan apa yang perlu dioptimalkan pada saat Asian Games nanti.

Apa fokus persiapan kalian menjelang Asian Games? 

Greysia: Sama seperti turnamen lainnya. Persiapannya sama saja, berlatih keras, konsultasi dengan pelatih, dan mengevaluasi kekurangan. Intinya lawannya itu-itu saja, jadi karakternya tak jauh beda. Kami berdua berharap dukungan dari seluruh masyarakat saja nanti supaya bisa memberikan yang terbaik.

Apakah impian terbesar yang ingin kalian capai?

Apriyani: Saya masih muda dan masih banyak yang ingin saya raih. Namun, yang terdekat ini saja dulu Asian Games 2018.

Greysia: Saya masih banyak yang ingin dijuarai. Namun, semua itu kan takdirnya Tuhan. Pokoknya apa yang saya lakukan sekarang itu ya harus bekerja keras masalah nanti juara dunia, olimpiade itu bonus saja dari Tuhan.

Lanjutkan Membaca ↓