Tugas Pendamping pada Pelari Disabilitas Netra Asian Para Games

Oleh Ahmad Fawwaz Usman pada 12 Okt 2018, 08:55 WIB
Asian Para Games 2018 : Atletik

Jakarta - Ahmad Azlan memainkan peran krusial pada kesuksesan Abdul Halim Dalimunte meraih medali perak di pentas Asian Para Games 2018. Dia menjalankan peran sebagai guide runner yang ikut berjuang langsung di trek.

Halim jadi salah satu penyumbang medali Indonesia di Asian Para Games 2018. Ia menyabet medali perak 100 m T11 putra pada babak final yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Rabu (10/10/2018).

T11 sendiri adalah klasifikasi untuk pelarih disabilitas netra. Meski sama sekali tak bisa melihat, kecepatan larinya tak kalah dengan orang normal. Namun, ia tetap membutuhkan bantuan pendamping untuk mengarahkan kakinya agar melaju cepat.

Karenanya, peran Azlan dalam kesuksesan Halim mengamankan perak Asian Para Games 2018 cukup besar. Bahkan, menurut pengakuan Azlan, kecepatan lari seorang guide runner harus jauh lebih cepat dari pelari utamanya. "Kalau kecepatannya sama, waktu terbaiknya gak dapat. Saya itu kan (tugasnya) menarik (Halim), jadi harus cepat," ujar Azlan.

Keduanya pun mengaku tak kesulitan membangun chemistry. Itu karena mereka sudah bekerja sama sejak lama meski sempat vakum. Saat sedang bertugas, keduanya pun selalu berlatih bersama dan melakukan berbagai hal soal persiapan bersama-sama.

*Grab selaku official mobile platform partner juga mendukung Asian Para Games 2018

 

2 of 2

Bangun Chemistry

Asian Para Games 2018 : Atletik
Pelari Indonesia, Abdul Halim Dalimunthe, melakukan selebrasi usai finis di posisi dua nomor 100M T11 pria pada Asian Para Games di SUGBK, Jakarta, Rabu (10/10/2018). Abdul Halim meraih medali perak. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

"Kami sudah lama bersama, sejak 2013 meski sempat satu tahun vakum karena saya juga jadi atlet normal. Ya, dulu sempat pelatnas, setelah keluar, ikut Halim karena dipanggil pelatih Slamet Widodo untuk kembali jadi guide," kata Azlan.

Tak hanya soal berlatih, guide runner juga bisa rangkap peran layaknya psikolog. Artinya, jika pelari utamanya sedang dalam kondisi terpuruk atau grogi, pendamping bertugas untuk menenangkan suasana.

Hal itu pula yang dialami Halim saat akan memainkan babak final 100 m T11 putra. Menurut Azlan, Halim sempat gugup sebelum pertandingan. "Nah biasanya jika ada yang gugup ya saling melengkapi. Saya bilang, udah tidak perlu tegang. Anggap saja seperti latihan. Kan sudah biasa bertemu," jelasnya.

Azlan sendiri bukan satu-satunya guide runner yang disiapkan untuk Halim. National Paralympic Committee (NPC) Indonesia juga menyiapkan pendamping cadangan jika ada kondisi di mana Azlan tak bisa berjuang bersama Halim.

Karena tugasnya yang terbilang berat, ia pun meminta agar haknya juga disamakan seperti Halim. "Mohon agar disamakan saja bonusnya dengan atlet. Kan sama-sama lari. Kami seperti tim," ungkap Azlan.

Sumber: Liputan6.com

Lanjutkan Membaca ↓