Sukses


Bedah Statistik AC Milan: Tangguh di Belakang, Tumpul di Depan

Bola.com — Penunjukkan Sinisa Mihajlovic sebagai pelatih AC Milan pada awal musim 2015-16 belum menunjukkan hasil signifikan bagi Il Diavolo Rosso. Hingga Giornata ke-21, Milan belum mampu menemukan bentuk permainan terbaiknya. Beberapa rekrutan anyar pun dinilai belum maksimal. 

Apabila melihat statistik permainan, sebenarnya performa Milan tidaklah buruk. Setidaknya, Milan masih dapat menjadi lima besar tim yang rajin sekali membuat peluang dan melepaskan tembakan ke arah gawang. Namun, yang menjadi masalah adalah konversi peluang Milan bisa dibilang belum baik.

Kalau dibandingkan dengan lima tim yang secara posisi klasemen berada di atas mereka, Milan hanya lebih baik dari Inter dalam hal perolehan gol per pertandingan. Dengan catatan peluang, tembakan, dan gol yang semuanya berada di bawah mayoritas tim papan atas kelasemen, tidak heran Milan sekarang bertengger di posisi keenam. Lantas, apa yang menyebabkan melempemnya lini serang Milan tersebut?

Lini serang Milan musim ini terlalu bergantung pada Carlos Bacca. Pemain Kolombia ini menjadi top skorer sementara Milan, sekaligus menjadi pemain yang selalu dimainkan dalam setiap laga Serie A. Namun, performa Bacca sebenarnya sedikit tertahan oleh sistem dua striker yang mayoritas digunakan Milan pada musim ini.

Dengan formasi dua striker, Bacca sering berduet dengan Luiz Adriano di lini depan. Sayangnya, Adriano kurang mampu melepaskan umpan matang kepada Bacca yang ada di depannya. Catatan umpan kunci Adriano bahkan tidak lebih baik dari Mario Balotelli yang baru dimainkan enam kali sampai saat ini.

Dukungan dari lini kedua juga kurang. Suplai bola matang praktis hanya bergantung pada Giacomo Bonaventura. Keisuke Honda maupun Alesio Cerci belum menunjukkan kualitas mereka.

Statistik enam besar klub-klub Serie A. (Labbola)

Dengan kenyataan seperti ini, tidak heran kalau kemudian catatan tembakan Bacca hanya tercatat sebesar 1.7 tembakan per pertandingan. Seandainya Bacca diberi kesempatan menembak yang lebih banyak, mungkin catatan golnya akan lebih mampu mengatrol posisi Milan.

Selain itu, yang lebih mengkhawatirkan adalah pasangan duet Bacca belum menunjukkan performa yang selevel dengan eks pemain Sevilla ini. Bahkan, catatan gol Bacca lebih baik dibandingkan catatan milik Adriano, Niang, dan Balotelli. Justru Bonaventura yang menjadi mesin gol kedua bagi Milan.

Akan tetapi, posisi Bonaventura dalam formasi 4-4-2 yang sedikit jauh dari kotak akan membuatnya kesulitan menyamai level gol milik Bacca. Bahkan, dalam formasi 4-3-1-2, Bonaventura lebih berperan sebagai central midfielder untuk memberikan ruang bagi Honda yang menjadi “pemain no. 10.”

Harapan muncul saat Mihajlovic memutuskan menggunakan sistem 4-3-3. Dengan Bacca dan Bonaventura lebih mendekat ke kotak penalti, lini serang Milan lebih menjanjikan. Namun, rapor pertandingan Milan dengan sistem tersebut juga tidak begitu baik lantaran hanya mampu mencatatkan tiga kemenangan.

Kemungkinan, seretnya peluang yang datang dari Honda di sisi kanan dan problem di lini belakang yang belum selesai menjadi alasan sistem ini tidak digunakan lagi.

Apakah Milan punya masalah di lini belakang? Jawabannya, iya. Setelah era Thiago Silva dan Alessandro Nesta berakhir, Milan memang belum mampu menemukan pengganti yang sepadan. Dengan kultur bertahan ala liga Italia, tim dengan pertahanan terbaik selalu mampu menguasai klasemen.

Apabila dibandingkan dengan 5 tim papan atas lainnya, sekali lagi, Milan hanya lebih baik dari Inter untuk urusan menerima tembakan ke gawang. Hanya perbedaannya adalah di catatan kebobolan. Donnarunma yang masih belia memang masih harus banyak belajar untuk menyamai level Handanovic di Inter.

Posisi gelandang bertahan yang ditempati Montolivo juga memunculkan keraguan tersendiri, mengingat Montolivo dikenal sebagai pemain yang piawai mengalirkan bola dan bukan sebagai pemutus serangan lawan. Terutama jika kita melihat formasi 4-4-2 Milan, dengan montolivo dan Kucka/ Bertolacci yang sering kalah jumlah dengan lini tengah tim lawan yang kadang menggunakan tiga atau lima gelandang.

Pertanyaan yang muncul kini adalah kapan inkonsistensi I Rossoneri akan berakhir?

Sumber: Labbola

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini

Video Populer

Foto Populer