3 Bintang Serie A yang Gagal Bersinar

Oleh Liputan6.com pada 02 Nov 2017, 00:14 WIB
Diperbarui 02 Nov 2017, 00:14 WIB
Inter Milan, Hellas Verona, Serie A
Aksi pemain Inter Milan, Borja Valero saat membobol gawang Verona pada lanjutan Serie A di Bentegodi stadium, Verona, (30/10/2017). Inter Milan menang 2-1. (Filippo Venezia/ANSA via AP)

Jakarta Serie A Italia merupakan salah satu liga terbaik di dunia. Di sana bertebaran pemain bintang, mulai dari yang bermain sebagai kiper hingga yang berposisi sebagai penyerang.

Untuk penjaga gawang, sebut saja ada Gianluigi Buffon, Pepe Reina, dan Gianluigi Donnarumma. Lalu, untuk posisi bek, ada Leonardo Bonucci, Kalidou Koulibaly, Giorgio Chiellini, Milan Skriniar, dan Kostas Manolas.

Di lini tengah ada Radja Nainggolan, Sami Khedira, Sergei Milinkovic-Savic, higga Borja Valero. Sedangkan untuk striker, ada Gonzalo Higuain, Mauro Icardi, Paulo Dybala, Edin Dzeko, hingga Ciro Immobile. Tidak cuma di Serie A, kehebatan mereka sudah diakui dunia.

Pendeknya, daftar tersebut akan sangat panjang apabila dideretkan semuanya. Dari sekian banyak pemain bintang yang ada, tentu saja tidak semua dari mereka bermain di klub besar. Sebaliknya, tak sedikit dari mereka yang memilih membela klub kecil macam Hellas Verona, Cagliari, atau SPAL.

Beberapa hal menjadi faktor. Namun yang paling umum di antaranya adalah performa yang mulai menurun atau usia yang tak lagi muda. Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa mendapatkan jam bermain yang banyak.

Sebab terbukti, mereka yang bermain di klub besar, tidak selamanya bisa memancarkan sinarnya. Apalagi, jika mereka kalah bersaing dengan rekan-rekan setim.

Risikonya adalah mereka akan lebih sering duduk di bangku cadangan ketimbang beraksi di lapangan. Musim ini, “hukum” itu pun masih berlanjut. Ada sejumlah pemain bintang yang sering dicadangkan oleh pelatihnya. Liputan6.com merangkum tiga di antaranya yang mengalami nasib demikian. Berikut daftarnya.

2 dari 4 halaman

Andre Silva

AC Milan
Penyerang AC Milan, Andre Silva merayakan golnya ke gawang Rijeka pada laga Grup D Liga Europa 2017/2018 di San Siro, Jumat (29/9/2017) dinihari WIB. (MIGUEL MEDINA / AFP)

AC Milan sangat menyia-nyiakan potensi para pemain yang mereka beli di bursa transfer musim panas lalu. 11 pemain yang mereka datangkan dengan dana 230 juta euro sepatutnya bisa mengembalikan mereka ke kejayaan atau paling tidak mendongkrak permainan mereka.

Salah satu pemain yang tak mereka manfaatkan dengan maksimal adalah Andre Silva. Dari 11 pertandingan di Serie A, striker 21 tahun itu baru enam kali dimainkan.

Bahkan, tiga di antaranya ia dimasukkan sebagai pemain cadangan. Artinya, baru tiga kali dia main sebagai starter. Di lima pertandingan lainnya, ia bahkan tidak dimainkan sama sekali. Padahal, Silva sedang naik daun saat ini.

Buktinya, ia sukses mengantarkan Timnas Portugal lolos ke Piala Dunia 2018 tanpa harus melewati babak play-off. Saat Cristiano Ronaldo tengah paceklik gol, kehadirannya menjadi solusi yang memuaskan. Ia pun turut menyumbang satu gol di pertandingan terakhir babak kualifikasi melawan Swiss beberapa waktu lalu.

Kondisi ini sempat membuat para fans AC Milan marah terhadap pelatih Vincenzo Montella beberapa waktu lalu, saat dikalahkan Sampdoria 0-2 di Serie A. Milanisti tak habis pikir, kenapa Montella sering mencadangkan penyerang yang direkrut seharga 38 juta euro dari FC Porto itu.

3 dari 4 halaman

Federico Bernardeschi

Juventus
Sederet pemain telah sukses mengenakan jersey bernomor 10 Juventus, tapi Federico Bernardeschi memilih angka 33. (twitter.com/juventusfcen)

Juventus dikenal piawai dalam memanfaatkan bakat pemain bertalenta yang mereka rekrut. Contohnya seperti Alvaro Morata, Paulo Dybala, hingga pemain gratisan macam Paulo Dybala dan Sami Khedira.

Namun, hal itu sepertinya tidak selamanya berlaku. Buktinya ada pada Federico Bernardeschi. Ya, setidaknya sampai sejauh ini, Si Nyonya Tua tidak memanfaatkan mantan bintang Fiorentina itu dengan baik.

Pemain Timnas Italia itu lebih sering dimasukkan sebagai pemain pengganti, dan itupun di menit-menit akhir laga. Total, dari 12 kesempatan tampil di semua kompetisi, ia baru bermain selama 274 menit. Artinya kalau diakumulasikan, itu sama dengan ia baru bermain tiga kali 90 menit.

Selain lebih sering dimasukkan saat pertandingan akan segera selesai, Bernardeschi juga tidak selalu diturunkan di Serie A. Dari 11 laga, ia hanya dimainkan di 8 pertandingan.

Kondisi ini tentu saja berbanding terbalik dari saat ia masih bermain untuk Fiorentina. Bersama La Viola, winger 23 tahun itu begitu menonjol musim lalu.

Ia selalu diandalkan untuk membongkar pertahanan lawan. Ia mencatatkan 14 gol dan 5 assist dalam 42 pertandingan. Itu pulalah yang membuat Juventus merekrutnya seharga 40 juta euro di bursa transfer musim panas lalu.

4 dari 4 halaman

Joao Mario

Inter-Milan-AS-Roma-Liga-Italia
Gelandang AS Roma, Daniele De Rossi (kanan) berusaha mengontrol bola dari kawalan gelandang Inter Milan, Joao Mario di Liga Italia Serie A di Stadion Giuseppe Meazza, Milan (27/2). AS Roma menang atas Inter dengan skor 3-1. (AFP Photo / Giuseppe Cacace)

Gelandang Timnas Portugal, Joao Mario masih belum menunjukkan kualitasnya bersama Inter Milan musim ini. Malahan, ia lebih sering diturunkan sebagai pengganti. Dari sembilan penampilan di Serie A, hanya tiga kali ia diturunkan sebagai starter.

Itupun tidak bermain selama 90 menit penuh, kecuali saat melawan Crotone di pekan keempat. Atas performanya yang menurun itu, Mario juga belum banyak memberi kontribusi bagi Inter Milan. Ia baru menyuplai empat assist sejauh ini, tanpa satu gol pun.

Wajar jika pelatih Luciano Spalletti lebih suka memainkan Borja Valero dan Matias Vecino sebagai starter di lini tengah. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat I Nerazzuri merekrutnya dengan harga 40 juta euro dari Sporting CP tahun lalu.

Musim ini sejatinya merupakan kesempatan kedua baginya untuk membuktikan dirinya. Sebab musim lalu, ia sudah gagal memenuhi ekspektasi petinggi klub. Ia nyaris didepak di bursa transfer musim panas lalu. Inter masih mempertahankannya lantaran sudah terkadung membelinya dengan harga mahal. (Abul Muamar)

Lanjutkan Membaca ↓