Secangkir Teh Keberanian

Oleh Darojatun pada 03 Mar 2018, 06:54 WIB
Tottenham Hotspur

SEBAGIAN dari rentetan pertemuan kedua pada fase 16 Besar Liga Champions 2017-2018 akan bergulir pekan depan dan sisanya pada medio pertengahan Maret mendatang. Banyak penggemar sepak bola deg-degan sekaligus penasaran menantikan hasil akhir dari duel ketat Barcelona kontra Chelsea, yang pada leg pertama berakhir imbang 1-1 di London.

Hal berbeda ada pada sudut pandang saya, karena justru lebih menantikan kisah dramatis yang bakal muncul dari laga Tottenham Hotspur versus Juventus di Wembley, pada Kamis depan. Secara statistik, agregat sementara 2-2 menguntungkan Spurs.

Latarnya tak lain adanya fakta yang memerlihatkan Juventus hanya mencatatkan sekali kemenangan saat berstatus tim tamu pada musim ini. Sementara sang tuan rumah menangguk nilai maksimal, sembilan, dari hasil setiap kali bermain di London pada fase grup pada periode yang sama.

Akan tetapi, bukan sekadar angka dan tren teranyar yang jadi acuan saya dalam mengukur kedalaman makna pertandingan kubu Inggris lawan wakil Italia ini. Figur bos Totttenham, Mauricio Pochettino, adalah kunci keberhasilan mereka bangkit dari kematian dalam duel pertama di kota Turin.

Bermain berani di lapangan adalah satu-satunya cara yang saya tahu dalam bermain sepak bola. Saya tidak melihat ada pilihan lain

Tanpa determinasi yang pas dari sang gaffer, amatlah sulit menyamakan kedudukan setelah gawang klub asal London utara itu dijebol dua kali oleh Gonzalo Higuain dalam tempo kurang dari 10 menit sejak peluit wasit pertama berbunyi. Alih-alih sekadar berjuang mencuri sebiji gol away yang menjanjikan secercah harapan di duel kedua nanti, saat itu Spurs justru tampil spartan. Mereka berani bermain terbuka sepanjang paruh kedua dan berbalik menekan Juventus sehingga membuat pendukung tuan rumah ketar-ketir.

Filosofi kepelatihan Pochettino sederhana saja tapi sejalan dengan performa penuh bunga dari timnya di kandang Juventus. Manajer berusia 46 tahun asal provinsi Santa Fe, Argentina, itu mengaku suka pada pemain dengan kemampuan teknis standard namun memiliki nyali mengimbangi nama-nama besar di lapangan.

2 of 3

Cerminan Kepribadian di Luar Lapangan

Menurutnya, apa yang diperlihatkan pemain di lapangan adalah refleksi jati diri dari yang bersangkutan di kehidupan sehari-hari. Jika seorang pemain tampil berani di lapangan, ia pasti memiliki prinsip dan nilai-nilai yang sama dalam menghadapi hidup.

“Bermain berani di lapangan adalah satu-satunya cara yang saya tahu dalam bermain sepak bola. Saya tidak melihat ada pilihan lain. Itulah sebabnya tim yang saya latih selalu menekan lawan dengan pressing yang ketat, tanpa peduli apakah mereka memiliki kualitas teknis yang lebih baik daripada kami atau tidak,” Mauricio Pochettino, Pelatih Tottenham Hotspur.

Hal yang menarik dari latar belakang credo Pocchetino di atas adalah sosok yang sudah menukangi The Lilywhites sejak empat tahun silam itu mendapatkan tips cara mengatasi Juventus dari koleganya yang sesama pelatih di Premier League, Paul Lambert. Keduanya merasa klop karena mengetahui kesamaan filosofi mereka di dalam kehidupan dan juga ---tentunya--- di lapangan hijau.

Tabloid laris di Inggris, The Sun, sempat mencibir saat tahu Lambert berbagi resep dengan Pochettino. Ya, saat ini Lambert, yang asal Skotlandia itu, bak bumi dan langit jika diperbandingkan dengan Pochettino. Hal itu berkaitan dengan performa tim asuhan Lambert, Stoke City, tengah mengais-ngais kesempatan guna keluar dari tarikan gravitasi zona degradasi.

Lambert dengan filosofinya disebut nyamuk-nyamuk pers Inggris hanyalah sebagai seorang Scotsman yang sekadar bisa mengasah Stoke kembali sebagai klub papan tengah. Ini jelas hanya sebuah sentimen berbasis sejarah persaingan lama orang Inggris dan Skotlandia karena Lambert bahkan baru menangani, dan diharapkan menjadi juruselamat, Stoke sejak Januari tahun ini.

Well, jangan remehkan Lambert mate.. Lelaki bongsor setinggi 180 centimeter itu wajar bila jadi “penasihat” Pochettino karena sejarah yang ditorehkannya dua dekade silam di pentas Liga Champions. Ayah empat anak berusia 48 tahun itu adalah orang Britania pertama yang mengangkat trofi Liga Champions dengan klub non-britania.

3 of 3

Pujian Dilayangkan Zidane dan Keane

Sebagai jangkar tangguh di lini tengah Borussia Dortmund pada 1997, Lambert diberi stempel sebagai pemain terbaik di laga pemuncak kompetisi antarklub kasta tertinggi di Eropa tersebut. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bagaimana seorang lelaki asal Skotlandia justru menjadi motor sebuah klub Jerman menjadi kampiun Benua Biru. Dan tebak siapa yang saat itu ditaklukkan Dormund? Juventus!

Pocchetino tidak akan lupa dengan penampilan Lambert di final yang berakhir dengan skor 3-1 tersebut. Dalam wawancara dengan majalah Champions League, Ia menyatakan semula menjagokan Juventus untuk menang. Kemenangan Dormund berawal dari kerja keras Lambert membayangi Zinedine Zidane selama 90 menit.

Itulah sebabnya tim yang saya latih selalu menekan lawan dengan pressing yang ketat, tanpa peduli apakah mereka memiliki kualitas teknis yang lebih baik daripada kami atau tidak.

Bukan hanya Zidane yang kelak mengakui kehebatan Lambert, tapi juga figur gelandang bertahan sekelas Roy Keane memuji orang yang sama. Dalam autobiografi-nya, Keane menyebut Lambert sebagai braveheart factor ketika Dortmund menyingkirkan Manchester United, yang dibela Keane, pada semifinal Liga Champions 1997-1998.

Nah, di titik ini saya jadi berpikir jangan-jangan patron “bermain berani” ala Tottenham di bawah asuhan Pochettino sendiri berawal dari karakter braveheart Lambert (brave = berani). Asumsi saya bisa jadi salah lantaran Pochettino jauh sebelum melihat dan berkenalan dengan Lambert, adalah seorang pemain bernyali besar.

Saat ia memperkuat Newell’s Old Boys di akhir '80-an, Pochettino adalah seorang gelandang bertahan pekerja keras yang kemudian beralih menjadi bek tengah menjelang dirinya hijrah bermain ke tanah Eropa pada 1994.

Hasil obrolan Pochettino dan Lambert telah berbuah hasil imbang di kota Turin. Belum ada kabar terbaru apakah akan ada jamuan teh kedua menjelang sengketa lanjutan Tottenham dengan Juventus pekan depan. Tapi, saya cukup yakin, nasib baik akan terus berpihak pada mereka yang bernyali besar, bukan hanya di sepak bola tapi juga dalam kehidupan.#

Lanjutkan Membaca ↓