Perjalanan Karier Xavi Hernandez, dari La Masia ke Piala Dunia

Oleh Aditya Wicaksono pada 03 Mei 2019, 16:05 WIB
Diperbarui 03 Mei 2019, 16:05 WIB
Xavi Hernandez

Bola.com - Tidak berlebihan jika kata gelar maestro diberikan kepada Xavi Hernandez. Jebolan akademi sepak bola Barcelona itu merupakan satu di antara pesepak bola yang paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Spanyol setelah mengantarkan negaranya menjadi juara Piala Eropa dan Piala Dunia.

Xavi memutuskan untuk menuntaskan kariernya sebagai pemain profesional pada akhir musim 2018-19 bersama klubnya yang sekarang, Al Sadd. Agak unik juga pilihan tempatnya untuk menjalani periode akhir karier, yaitu di Timur Tengah, tepatnya Qatar.

Xavi memang bukan pesepak bola pada umumnya. Sosoknya sangat bersahaja dan benar-benar mencintai sepak bola.

Terlihat tidak terlalu ambisius, namun perannya untuk tim yang ia bela sangat besar. Tak sedikit pesepak bola dunia yang kagum dengan sosok Xavi yang rendah hati.

Sepanjang karier, Xavi hampir tidak pernah berselisih dengan pelatih atau rekan setimnya. Jikapun ada, mungkin hal itu hanya sekadar argumen demi kepentingan tim.

Karakter bermain Xavi pun tidak terlalu ‘wah’ khas pemain bintang, yang identik dengan liukan atau kontrol bola aduhai. Namun, Xavi seperti bermain untuk menyenangkan rekan setimnya, ia merupakan tipe pemain yang membuat pemain lainnya menjadi bintang.

Visi yang bagus dan tidak adanya egoisme membuat Xavi menjadi sosok gelandang yang ideal bagi rekan-rekan setimnya. Tak heran banyak yang menyayangkan ketika ia memutuskan untuk berpisah dengan Barcelona pada 2015.

Sebagai memoir untuk memberikan apresiasi terhadap karier brilian Xavi Hernandez, Bola.com bercerita sedikit mengenai perjalanan karier sang maestro.

2 dari 4 halaman

La Masia

Xavi Hernandez
Xavi Hernandez berhadapan dengan Pedro Muntis. (AFP/Christophe Simon)

Xavi lahir dengan nama Xavier Hernandez Creus pada 25 Januari 1980, di Terrassa, sebuah kota di bagian timur wilayah Catalunya. Ayahnya adalah pesepak bola profesional, yang membela klub kasta bawah Liga Spanyol, Sabadell.

Darah sepak bola pun mengalir deras dalam keluarga Xavi. Ia bergabung ke La Masia pada umur 11 tahun, atau pada tahun 1991.

Tujuh tahun berselang, Xavi mendapatkan kesempatan untuk promosi ke skuat utama. Adalah Louis van Gaal, pelatih yang melihat potensi Xavi. Ia menjalani kariernya sebagai bagian dari skuat utama Barcelona pada musim 1998-99.

3 dari 4 halaman

Barcelona

Xavi Hernandez
Xavi Hernandez dan Pep Guardiola. (EPA/Paco Campos)

Hebatnya, Xavi mendapat kepercayaan dari van Gaal untuk tampil dalam banyak pertandingan pada musim perdananya sebagai pemain skuat utama. Tercatat, Xavi tampil dalam 26 pertandingan dan menyumbang dua gol pada musim 1998-99.

Barcelona meraih gelar pada musim tersebut dan Xavi menjadi pemain debutan terbaik La Liga. Pada musim berikutnya, Xavi sempat menggantikan peran Pep Guardiola yang mengalami cedera.

Perjalanan Xavi di Barcelona tak selalu mulus. Ia sempat berada pada periode klub tersebut hampir bangkrut, yaitu pada 2001-2003.

Pada masa tersebut, Xavi mulai lebih sering berperan sebagai gelandang bertahan. Pada saat itulah, potensinya semakin terasah. Ia rajin memberikan assist kepada rekan-rekannya. Pada 16 Maret 2002, Xavi mencetak gol pertamanya dalam El Clasico.

Xavi hampir hijrah ke Bayern Munchen pada 2008. Namun, pelatih anyar Barcelona pada saat itu, Pep Guardiola, berhasil meyakinkan Xavi untuk bertahan.

Guardiola melihat Xavi sebagai pemain paling penting di Barcelona. Guardiola berhasil membangun skuat Barcelona dengan inti permainan di Xavi. Kualitas Xavi semakin diakui dunia.

Barcelona menjadi langganan juara La Liga dan Liga Champions pada era tersebut. Xavi sempat memutuskan untuk meninggalkan Barcelona pada 2014. Namun lagi-lagi, usahanya dihalangi pelatih anyar Barcelona pada saat itu, yaitu Luis Enrique.

Bujukan Luis Enrique membuahkan hasil. Xavi bertahan di Barcelona pada musim 2014-15 dan menjabat sebagai kapten klub, menggantikan Carles Puyol yang pensiun.

Xavi menutup kariernya d Barcelona dengan catatan cemerlang. Blaugrana berhasil menjadi treble winners pada musim 2014-15 setelah merengkuh gelar La Liga, Liga Champions dan Copa del Rey. Namun, prestasi tersebut juga menjadi tonggak terakhir perjalanan Xavi di Barcelona.

4 dari 4 halaman

Timnas Spanyol

Xavi Hernandez
Xavi Hernandez. (AFP/Franck Fife)

Xavi tampil kali pertama untuk timnas Spanyol pada 2000. Turnamen senior pertamanya adalah Piala Dunia 2002. Ia terus menjadi langganan timnas hingga memutuskan pensiun setelah Piala Dunia 2014.

Secara total, Xavi mencatatkan 133 penampilan dan mencetak 13 gol untuk negaranya.

Prestasi puncak Xavi bersama timnas Spanyol adalah ketika menjadi juara Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Gol terakhir Xavi untuk Spanyol terjadi pada pertandingan melawan Belarusia pada babak kualifikasi Piala Dunia 2014 (11/10/2013). Laga berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan La Furia Roja.

Saksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Premier League, La Liga, Ligue 1, dan Liga Europa di sini

Lanjutkan Membaca ↓
Mauricio Pochettino, Massimiliano Allegri dan Deretan Pelatih Terkenal Tanpa Klub