Di Balik Bergulirnya K League 1, Mencoba Hidup Harmonis dengan Karantina Pandemi Virus Corona

Oleh Aning Jati pada 08 Mei 2020, 16:20 WIB
Diperbarui 08 Mei 2020, 16:20 WIB
K League 1

Bola.com, Jakarta- Sebelum Bundesliga mengumumkan tanggal pasti comeback, K League 1 atau kompetisi kasta tertinggi sepak bola di Korea Selatan telah melakukannya.

Pada pekan terakhir April lalu, Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) dan pengelola K League menyepakati tanggal 8 Mei 2020 atau pada Jumat hari ini menjadi awal kompetisi musim 2019-2020.

K League menjadi liga elite pertama di dunia yang bangkit setelah hantaman pandemi virus corona. Meski, sejatinya Korea Selatan belum sepenuhnya tuntas berperang dengan virus yang telah menginfeksi lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia itu.

Bahkan terkini, seperti dilansir dari Yonhap, Jumat (8/5/2020), ada 15 kasus positif baru yang berasal dari "cluster klub di Itaewon".

Namun, the show must go on. Pemerintah Korea Selatan memberikan lampu hijau pada pengelola liga olahraga profesional untuk mulai memulai kompetisi yang tertunda.

Tak hanya sepak bola (K League 1), namun olahraga lain seperti bisbol, yang juga jadi olahraga favorit di Negeri Ginseng.

K League 1 2019-2020 semestinya mulai bergulir pada 29 Februari 2020. Namun, Korea Selatan sudah lebih dulu dihantam wabah COVID-19, sebelum K League musim ini sempat memainkan satu pertandingan.

Alih-alih, seluruh perhelatan olahraga di negara yang tenar dengan Hallyu-nya itu, mandek. Fokus seluruh sumber daya sepenuhnya diarahkan untuk melawan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Hingga pada pekan terakhir April lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) mencatat adanya grafik menurun atas kasus positif COVID-19 di negaranya. 

Situasi itu tak dilewatkan begitu saja. Tekad memulai kompetisi musim ini mulai membara. Hal itu juga mengacu pada penanganan COVID-19 yang diterapkan Korea Selatan.

Negeri Ginseng itu tidak memberlakukan lockdown atau bahkan pembatasan akses transportasi, sekalipun di wilayah yang paling parah diserang wabah, semisal di Daegu. Hal ini berbeda dengan mayoritas negara lain di dunia, seperti Italia, Spanyol, Prancis, dan Inggris.

Dengan prinsip TRUST, yakni transparansi, skrining dan karantina ketat, tes menyeluruh, kontrol ketat, serta perawatan, Korea Selatan bisa membuat kurva positif COVID-19 di negara mereka menjadi landai.

Tentu, mental warga ikut berperan dalam keberhasilan mengendalikan penyebaran virus corona. Contoh kecil, warga di sana rajin mengenakan masker dan mematuhi regulasi yang ditetapkan terkait penanganan COVID-19.

2 dari 3 halaman

12 Aturan Ketat

K-League
K-League logo. (dok. K-League)

Tak heran, kehidupan di Korea Selatan tak sepenuhnya lumpuh. Ambil contoh, proses syuting K Drama atau yang populer dengan istilah drakor, kembali aktif setelah rata-rata hanya vakum selama satu pekan saja sejak awal wabah. Break itu untuk memberi kesempatan pada setiap individu melakukan karantina mandiri.

Namun, untuk agenda yang melibatkan massa lebih besar, semisal konser musik, hingga kini memang masih belum mendapatkan lampu hijau.

Agenda olahraga, khususnya K-League 1, juga senada. Setelah dipaksa mundur hingga dua bulan dari jadwal semula, KFA dan pengelola akhirnya sepakat  menggulirkan musim baru pada 8 Mei 2020.

Bahkan, sekalipun 12 tim peserta harus rela menjalani pertandingan yang jauh lebih sedikit, dari yang normal 38 laga pada 2020, menjadi hanya 27 pertandingan saja.

Bahkan, sekalipun ada segudang aturan yang menyertai. Setidaknya, ada 12 aturan yang wajib dipatuhi, dari sebelum, saat, dan setelah pertandingan.

Sebelum menerapkan 12 aturan itu, seluruh pemain dan staf pelatih K League 1 telah menjalani tes dan semuanya dinyatakan bebas COVID-19.

Ke-12 aturan tersebut, di antaranya, seluruh kontestan K League 1 wajib mematuhinya. Beberapa di antaranya, yakni pertandingan digelar tanpa ada kehadiran penonton, stadion disterilkan dengan disinfektan paling lambat tiga jam sebelum pertandingan, menyiapkan disinfektan di beberapa titik stadion, tak ada seremoni salaman di lapangan, mereka yang duduk di bangku cadangan maupun tepi lapangan diwajibkan mengenakan sarung tangan dan masker.

Komunikasi pemain dan dengan wasit harus dalam jarak tertentu, pelukan antarpemain dilarang selama pertandingan, pembedaan jadwal kedatangan tim di stadion, adanya skrining temperatur badan saat tiba di stadion untuk kedua tim, penggunaan seluruh alat-alat, semisal botol air minuman, handuk, dan sebagainya terbatas hanya untuk pemain bersangkutan dan dilarang saling berbagi.

Aturan lain, adanya larangan bersin dan meludah di lapangan, larangan mengganti jersey dan bagian pakaian lainnya saat pertandingan termasuk saling tukar jersey setelah laga, hingga adanya seluruh pihak yang terlibat dalam sesi konferensi pers setelah pertandingan akan mendapatkan masker.

3 dari 3 halaman

Hidup Berdampingan dengan Karantina

K League 1
Ilustrasi pertandingan K League 1, Jeonbuk Hyundai Motors vs Suwon Samsung Bluewings. (Bola.com/Dok. K League)

Seluruh aturan tersebut disepakati. Semua stakeholder sepak bola Negeri Ginseng sudah tak sabar menanti saat "bersejarah" ini.

Kalangan fans, kendati tak bisa mendukung langsung tim kesayangan di stadion, tak khawatir karena khusus laga pembuka K League 1 musim ini, disiarkan lewat kanal Youtube dan akun Twitter K League. 

Setelah itu, pertandingan satu musim ini bakal ditayangkan secara langsung di stasiun lokal pemegang hak siar, termasuk ke 17 negara lain di dunia. 

KFA, K League, dan insan sepak bola Korea Selatan memang belum selesai dalam perang melawan virus corona. Tetapi, mereka sudah "selesai" berperang dengan diri sendiri, dengan menyadari pentingnya pencegahan penyebaran virus corona serta tetap menjalani hidup dengan kesadaran dan mentalitas tersebut.

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, sangat bangga dengan perkembangan terkini di negaranya. Pada Rabu (6/5/2020), seperti dilansir dari Yonhap, dia menyatakan, kembali menggeliatnya kompetisi olahraga profesional, menunjukkan kehidupan masyarakat di Korea Selatan mulai mendekati normal.

Bahwa perilaku keseharian warga Negeri Ginseng mulai bergeser, dari social distancing ke "karantina sehari-hari", setelah terjadinya penurunan kasus positif COVID-19 dari hari ke hari.

"Dunia akan belajar, dengan melihat dari dekat, bagaimana menikmati olahraga sambil melakukan karantina dan kehidupan sehari-hari, saling hidup berdampingan," tulis Moon Jae-in dalam akun media sosialnya.

"Saya berharap olahraga memberi harapan kepada orang-orang yang menginginkan pemulihan kehidupan sehari-hari mereka, sedini mungkin. Itulah mengapa, penyelenggaraan musim baru agenda olahraga harus mapan, selaras dengan karantina," imbuh Sang Presiden.

Lanjutkan Membaca ↓
Jadwal Perempat Final Liga Champions, Cristiano Ronaldo Bisa Reuni dengan Real Madrid