Merindukan Keperkasaan Juventus di Liga Champions, Bukan Cuma Jagoan di Serie A

Oleh Gregah Nurikhsani pada 16 Mei 2020, 16:30 WIB
Diperbarui 16 Mei 2020, 16:30 WIB
Juventus

Bola.com, Jakarta - Titel Liga Champions bisa jadi adalah satu-satunya trofi juara yang sangat dirindukan Juventus dan seluruh suporternya di dunia. Maklum saja, jika bicara liga domestik, tim berjulukan Si Nyonya Tua itu sudah kenyang akan gelar Serie A, terlalu kenyang mungkin.

Juventus baru juara Liga Champions sebanyak dua kali saja. Tentu ini berbanding terbalik dengan prestasi mereka di Serie A, di mana mereka menjadi tim dengan koleksi terbanyak, yakni 35 kali.

Trofi Liga Champions pertama yang Juventus angkat terjadi pada 1985. Sedangkan terakhir kali adalah pada 1996 silam. Ini menjadi sesuatu yang ironis karena jumlah tersebut masih kalah dari Cristiano Ronaldo yang sudah mengangkat Si Kuping Besar sebanyak lima kali.

Pada Liga Champions 1995-1996, Juventus besutan Marcello Lippi lolos dari babak grup yang dihuni oleh Borussia Dortmund, Steaua Bucuresti, dan Rangers.

Dalam perjalanannya di fase gugur, Juventus menyingkirkan Real Madrid dan Nantes sebelum bersua Ajax di babak pamungkas. Perl diketahui, Ajax pada saat itu merupakan tim yang sangat ditakuti di Eropa.

Benar saja, Juventus kesulitan memenangi laga kontra wakil Belanda tersebut. Fabrizio Ravanelli dkk. melakoni pertandingan hingga babak adu penalti.

Lebih dari 20 tahun lamanya, Juventus selalu kandas mengangkat trofi Liga Champions. Mereka bahkan kalah jauh dari AC Milan yang telah menjuarai piala supremasi antarklub Eropa itu sebanyak tujuh kali.

 

2 dari 5 halaman

Jejak Juventus di Liga Champions

Logo dan ilustrasi Juventus
Logo dan ilustrasi Juventus. (AFP/Marco Bertorello)

Juventus memang perkasa di Serie A, tapi di level antarklub Eropa, La Vecchia Signora seakan kurang bertaji. Tercatat, gelar Europa League mereka lebih banyak ketimbang trofi Liga Champions, yakni tiga.

Liga Champions (dulu bernama Piala Champions) edisi 1958-1959, Juventus kandas di babak kualifikasi oleh Wiener Sport-Club. Menang pada laga kandang 3-1, skor berbalik pada leg kedua, di mana Juve tumbang 0-7.

Pada musim berikutnya, Juventus kembali kandas di babak kualifikasi. Baru pada musim ketiganya di Liga Champions, Juve mampu melaju hingga perempat final, meski akhirnya dipulangkan raksasa Eropa, Real Madrid.

Liga Champions 1972-1973, untuk kali pertama, Juve lolos ke final. Lawannya adalah Ajax. Bermain di Rajko Mitić Stadium (dulu bernama Red Star Stadium), Ajax yang saat itu dihuni Johan Cruyff fan Johnny Rep mampu membungkam Dino Zoff dkk. dengan skor 1-0.

Gelar Liga Champions pertama yang Juventus dapatkan terjadi pada musim 1985-1986. Saat itu, format kompetisi masih belum seperti ini, yakni ada babak penyisihan grup.

Tampere United, Grasshopper Zurich, Sparta Praha, dan Bordeaux berhasil dilewati dengan ciamik oleh Juventus. Ujian sebenarnya baru dihadapi Juve tatkala bersua Liverpool di babak final.

Liverpool periode 1980-an merupakan kekuatan terbaik di Eropa. Namun, gol tunggal Michel Platini lewat titik putih ke gawang Bruce David Grobbelaar membawa Juventus keluar sebagai juara Liga Champions.

Kemenangan tersebut membayar kegagalan Juventus yang pada final 1982-1983, tumbang 0-1 atas Hamburg di Stadion Olympic Athens Spyros Louis, Yunani.

Sekira 10 tahun berselang, Juventus meraih gelar keduanya di Liga Champions usai mengandaskan Ajax. Kemenangan ini juga membalas kekalahan atas tim yang sama pada final 1972-1973.

 

3 dari 5 halaman

Kutukan pada Musim-musim Berikutnya

Kepa Arrizabalaga, Kiper Termahal, Chelsea
5. Gianluigi Buffon - Dibeli Juventus dari Parma dengan harga 33 juta poundsterling. (AFP/Valery Hache)

Prestasi naik turun dilewati Juventus pada musim-musim berikutnya. Dua kali beruntun, Juventus berhasil menembus final. Dua kali pula, mereka tumbang, masing0masing oleh Borussia Dortmund dan Real Madrid.

Juventus nyaris hattrick lolos ke final Liga Champions, tapi pada musim 1998-1999, mereka tumbang dengan agregate 3-4 dari Manchester United, klub Premier League yang akhirnya keluar sebagai juara dan mengakhiri musim dengan raihan treble winner.

All Italian Finals terjadi pada musim 2002-2003. Saat itu, AC Milan menjadi lawan Juve di partai puncak. Lewat laga dramatis, Rossonerri menang adu penalti 3-2.

Setelah itu, empat kali Juventus gagal melaju lebih dari perempat final. Bahkan pada musim 2013-2014, mereka gagal lolos babak grup, sama seperti musim 2000-2001 dan 2009-2010.

Barulah pada 2014-2015, Juventus berhasil melaju ke partai final. Sayang, mereka tumbang atas Barcelona yang sedang moncer berkat penampilan Lionel Messi di lini depan.

Dua tahun kemudian, giliran Real Madrid yang menumbangkan Juventus. Saat itu, El Real membantai Bianconeri dengan skor telak 4-1 di Stadion Millennium, Wales.

 

4 dari 5 halaman

Ramalan Batu Sakti Belitung Timur

FOTO: Perayaan Real Madrid usai Meraih Gelar Liga Champions
Bek Real Madrid, Raphael Varane, mencium piala merayakan gelar juara Liga Champions di Stadion Millenium, Cardiff, Sabtu (3/6/2017). Madrid menang 4-1 atas Juventus. (AFP/Glyn Kirk)

Pada final Liga Champions 2016-2017, Juventus bersua Real Madrid. Sebelum pertemuan itu, kedua tim sudah pernah bentrok sebanyak 19 kali di kompetisi Eropa dengan catatan Juve menang delapan kali, imbang dua kali, sisanya kalah.

Di suatu kesempatan, jurnalis Bola.com yang kebetulan menyambangi satu daerah di Belitung mencoba iseng mencari tahu siapa pemenang pertandingan Juventus kontra Real Madrid menggunakan 'jasa' batu sakti.

Ya, batu ajaib itu dipercaya bisa menebak atau meramal dengan presisi mengenai apa yang akan terjadi. Singkat cerita, jurnalis Bola.com penasaran dan mencoba meramal laga tersebut. Jika batu bergerak ke kiri, Juventus menang. Sebaliknya, kalau ke kanan, Madrid yang menang.

Tidak cuma sekali, sebanyak tiga kali percobaan dilakukan. Mungkin supaya fair karena 'format'-nya best of three. Jurnalis Bola.com ini kebetulan juga seorang big fan Juventus, makanya ketika percobaan pertama si batu sakti bergerak ke kanan, ia mencobanya sebanyak tiga kali.

Hasilnya, tiga kali pula batu bergerak ke kanan. Itu artinya, Madrid diprediksi bakal memenangi pertandingan kontra Juventus.

Pada final tersebut, 4 Juni 2017, tanda-tanda kesaktian batu ajaib mulai terasa tatkala Cristiano Ronaldo mencetak gol pembuka menit 20'. Mario Mandzukic lantas membalas menit 27'. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.

Madrid mengamuk pada babak kedua. Gelandang Casemiro kembali membawa El Real unggul menit 61', ditambah gol kedua Ronaldo tiga menit berselang.

Juventus akhirnya harus mengakui keunggulan Madrid setelah Marco Asensio menyudahi perlawanan sengit Si Hitam Putih lewat golnya pada menit 90'.

5 dari 5 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓