Bintang Kejuaraan Dunia League of Legends 2018: Eric Ritchie, Dari Liga Amatir Menjadi Top Laner Dunia

Oleh Nurfahmi Budi pada 25 Okt 2018, 10:26 WIB
League of Legends

 

NIHIL dalam alam pikiran Eric Ritchie menjadi tenar. Begitu juga tak ada sinyal kalau dirinya akan menjadi atlet electronic sports (e-Sports), yang kelak bisa membawanya keliling dunia.

Kehidupan masa kecil Eric Ritchie seperti pada umumnya. Satu yang menjadi pembeda, ia punya 'kecerdasan' dalam bermain game online. Beranjak remaja, aktivitas game membuatnya semakin intens dan berkenalan dengan terapan teknologi virtual. Ia memilih League of Legends (LoL) sebagai 'laku hidup' profesional.

Kini, di tengah kejuaraan dunia League of Legends (LoL) 2018 yang menciptakan banyak pencapaian spesial bagi beberapa tim, Eric Ritchie nongol. Ia muncul bersamaan dengan rangkaian kejutan dari timnya, Cloud9.

Cloud9 menjadi wakil pertama asal Amerika pertama yang mencapai babak semifinal Kejuaraan Dunia League of Legends. Alkisah, satu pemain yang menjadi sorotan adalah top laner, Eric Ritchie (Licorice).

Kejuaraan Dunia League of Legends 2018 menjadi debut bagi pemuda berusia 21 tahun di turnamen tahunan tersebut. Meski begitu, Ritchie berhasil membuktikan diri sebagai top laner yang wajib diperhitungkan.

Awal karier Eric Ritchie dimulai di beberapa tim amatir Amerika Utara. Ritchie bergabung dengan tim Storm pada Desember 2015. Setelah tim Storm, Ritchie bergabung dengan tim Frank Fang Gaming, Cloud9 Challenger dan eUnited.

Popularitas Ritchie sebagai top laner mulai naik ketika bergabung dengan eUnited. Nama terakhir meraih status jawara North America Challenger Series 2016, setelah mereka tampil dominan pada dua penyelenggaraan, musim panas dan musim semi.

Setelah malang melintang di tim amatir, Ritchie direkrut tim profesional Amerika Utara, Cloud9. Dari sini, Ritchie menapaki kariernya sebagai top laner papan atas.

Pencapaian mengejutkan Cloud9 tidak lepas dari kerjasama tim yang kompak. Mereka menjadikan rumah di Los Angeles sebagai tempat tinggal dan berlatih bersama. Ritchie mengaku berlatih delapan jam sehari bersama rekan-rekannya.

“Saya dapat menggambarkan tampilannya seperti rumah yang minimalis. Namun, menyenangkan dapat tinggal bersama dengan rekanmu, yang juga adalah temanmu”, ujar Ritchie dilansir dari Calgary Herald.

Kerja keras Ritchie dan rekan-rekannya membuahkan hasil pada Kejuaraan Dunia League of Legends 2018. Sejak penyisihan, Cloud9 sudah mencuri perhatian.

Cloud9 berhasil lolos dari grup sulit yang berisi Royal Never Give Up dan Gen.G Esports. Kejutan Cloud9 terus berlanjut. Pada babak 8 besar, Cloud9 menang 3-0 atas wakil tuan rumah, Afreeca Freecs.

Kini, Ritchie bersama Cloud9 bertekad menjadi yang terbaik di Korea Selatan. Cloud9 akan menghadapi wakil Eropa, Fnatic pada babak semifinal di Gwangju, Korea Selatan pada Minggu (28/10/2018). (Reynaldo Imanuel)

Sumber: Gamepedia, Calgary Herald