Virtual Athletic League, Bentuk Nyata Virtual Reality E-Sports

Oleh Darojatun pada 03 Nov 2018, 12:34 WIB
Ilustrasi E-Sports SEACA di Mall Taman Anggrek, Jakarta, pada September 2018.

Bola.com, Jakarta Meski telah diakui dewan olimpiade Asia (OCA) sebagai sebuah cabang olah raga, e-sports terus menjadi obyek perdebatan mengenai keabsahannya sebagai sebuah bentuk olah raga. Banyak orang berpendapat bahwa ketika sebuah kegiatan tidak memancing keluarnya keringat, berarti itu tidak layak dikategorikan sebagai olah raga. Silang pendapat ini bisa berakhir dengan virtual reality e-sports. 

Teknologi virtual reality dengan menggunakan perangkat google khusus membuat seorang atlet e-sports terlibat langsung dalam sebuah ekosistem game play. Mereka bisa bermain anggar dan menggerakan seluruh tubuhnya menghadapi atlet e-sports lain yang juga tengah online.

Berdasarkan ujicoba yang telah dilakukan oleh Virtual Athletic League (VAL), kegiatan ini nyata-nyata telah memeras keringat atlet pelakunya hingga baju yang mereka pakai basah kuyup.

Sebagai lembaga kompetisi e-sports, Virtual Athletic League di Amerika Serikat pada Oktober 2018 meluncurkan VR e-sport league yang disponsori Hewlett Packard dan HTC E-Sports. Mereka telah menetapkan tujuh nomor olah raga dalam kompetisi tersebut.

Pada awalnya, VAL telah mereview sekitar 100 game virtual reality sebelum akhirnya memilih Space Pirate Trainer, Arizona Sunshine, Island 359 for Halloween, QuiVR, Archangel: Hellfire, Skyfront, dan After-H, sebagai cabang resmi dalam virtual reality e-sports.

Sejauh ini QuiVR masih menjadi  favorit karena cabang panahan e-sports ini terbilang menggemaskan, menarik, dan menantang kecakapan motorik penggunanya hingga atlet terpancing untuk berguling-guling menghindari anak panah pemain lawan.

 

 

2 of 2

Memancing Gerak Kelompok Otot Utama

"Turnamen yang revolusioner ini adalah contoh utama bagaimana kami dari Hewlett Packard memang melakukan langkah yang tepat dengan berinvestasi besar dalam dunia virtual reality. E-Sports memang benar-benar sports sesungguhnya karena dalam game play para atlet dituntut memperlihatkan refleks dan kemampuan fisik yang prima dengan menggunakan seluruh kelompok otot utama pada tubuh," kata Joanna Popper, global head VR entertainment HP, kepada Esports Observer.

Pada sisi lain, HTC E-Sports menyebut kompetisi virtual reality e-sports ini akan memiliki jenis komunitas baru yang mempertemukan atlet olah raga reguler dengan atlet e-sports.

"Kejuaraan yang dibangun Virtual Athletic League ini adalah kunci utama untuk menjembatani e-sports dengan cabang olah raga yang telah ada sebelumnya. Belum pernah ada sebelumnya sebuah organisasi yang fokus pada virtuality reality arcades yang mulai banyak penggemarnya di seluruh dunia," kata Andrew Wu, marketing manajer HTC E-Sports. 

Ya, setelah mengalami kebangkitan besar di semester pertama 2018 karena harga teknologi VR makin murah dan kian massal digunakan, memang pada akhirnya kelahiran VR e-sports league tinggal menunggu waktu saja. 

Petinggi VAL, Joe Gabriel, menyatakan keyakinannya bahwa kompetisi ini akan tumbuh cepat dengan berbasis online di mana atlet dari berbagai kota berbeda yang masih berada dalam zona waktu yang bedekatan bisa bergabung dalam sebuah kejuaraan VR e-sports league. 

"Setiap atlet di masing-masing kota akan memiliki pendukungnya masing-masing. Mereka juga akan memiliki jersey virtual dan nyata yang bisa diperjualbelikan, dan pada akhirnya industri VR ini akan memiliki caster profesional dan tim pendukung yang mapan di belakangnya. Kami sangat termotivasi untuk membangun platform juaraan masa depan di ranah VR e-sports ini," kata Gabriel lagi. 

Dari sisi komersil, teknologi VR ini juga menjanjikan banyak ruang baru untuk  beriklan di mana sponsor seperti HP dan HTC akan dapat memasang logo dan promosi produknya di dalam lingkungan virtual yang diamati para penonton turnamen tersebut secara online dari berbagai penjuru dunia. Sungguh menjanjikan!

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait