Kisah Natalie dan Mute Di Panggung Esports PUBG

Oleh Luthfie Febrianto pada 15 Sep 2019, 02:21 WIB
Diperbarui 15 Sep 2019, 02:21 WIB
Natalie dan Mute - PUBG Mobile B.E.S.T

Jakarta - Panggung olah raga esports bukan sekadar menjadi milik kaum pria. Para wanita sudah terjun menjadi pemain esports profesional.

Natalie dan Mute dari tim Onic adalah contohnya. Mereka ikut ambil bagian dalam turnamen PUBG Mobile B.E.S.T (Bubu Esports Tournament) di ICE BSD, Sabtu (14/9/2019).

Natalie dan Mute punya alasan masing-masing soal terjunnya mereka menjadi pemain esports. Natalie misalnya, wanita berusia 26 tahun ini mengaku penasaran dengan dunia esports khususnya PUBG. "Saya nggak bisa main game sebenarnya. Tapi, karena ada PUBG, bikin orang penasaran," ujar Natalie.

Natalie mengaku mendapat dukungan dari orang-orang sekitar untuk berkarier sebagai pemain esports. Ia menuturkan banyak pemain wanita yang sebetulnya tidak kalah jago ketimbang para pemain pria.

"Banyak yang skillnya sama kayak cowok. Tahun lalu belum kelihatan saja," ujar Natalie yang juga mengaku berkarier sebagai wiraswasta. Turnamen esports B.E.S.T menjadi salah satu turnamen yang hadir dengan wajah berbeda. Turnamen yang diinisiasi Bubu.com itu turut diikuti tim-tim esports wanita di Indonesia.

Hadiah yang disediakan pihak panitia turnamen esports yang berlangsung di Tangerang tersebut, para pemenang wanita mendapat angka yang tidak main-main. Dari total Rp 750 juta, sebanyak Rp 290 juta dialokasikan untuk tim-tim yang juara. Natalie berharap, akan ada lebih banyak turnamen serupa yang memberi kesempatan bagi para pemain wanita. "Semoga ada turnamen ini lagi kalau bisa jauh lebih besar," kata Natalie.

 

2 dari 2 halaman

Berawal dari Hobi

Natalie dan Mute - PUBG Mobile B.E.S.T
Dua pemain tim Oni, Natalie (kiri) dan Mute dalam kompetisi PUBG Mobile B.E.S.T di ICE BSD, Serpong, Sabtu (14/9/2019). (foto: Liputan6.com/Luthfie Febrianto)

Kisah Natalie agak berbeda dari rekan setimnya, Mute. Wanita berusia 19 tahun itu mengaku sudah hobi bermainn PUBG sejak awal. Namun Mute mengaku keinginannya berkarier sebagai pemain esports sempat diragukan orangtuanya. Ia menuturkan, yang terpenting adalah soal mengatur waktu berlatih dan belajar.

"Setelah buktiin mereka dukung. Selama kita manage waktu, why not, dunia sekolah tak terganggu. Esports juga. Kenapa enggak," ujar mahasiswi jurusan Administrasi Negara Universitas Padjadjaran tersebut.

Mute mengatakan banyak hal positif yang ia dapat usai berkarier sebagai pemain esports. Salah satu hal positif itu adalah memiliki banyak teman dari berbagai daerah.

"Gim itu ada positifnya karena kita bisa lagi mengenal orang-orang dengan gim ini gue jadi kenal orang luar kota," katanya mengakhiri.

Disadur dari:  Liputan6.com

Penulis / Editor: Lutfhi Febrianto / Bogi Triyadi

Published: Sabtu, 14 September 2019

 

Lanjutkan Membaca ↓