11 Film Indonesia Bertema Sepak Bola Era Benyamin S hingga Timnas Indonesia

Oleh Wiwig Prayugi pada 26 Des 2018, 14:15 WIB
Diperbarui 26 Des 2018, 14:15 WIB
Film Indonesia Bertema Sepak Bola (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Dunia layar lebar Indonesia dalam satu dekade terakhir banyak menghasilkan karya yang bertema sepak bola. Semenjak awal kebangkitan film Indonesia pada era 2000-an, para sineas Indonesia juga berkreasi dengan mengangkat cerita dengan tema sepak bola.

Tema yang diangkat mulai dari turnamen antarkampung, futsal, tim nasional, suporter, hingga mafia sepak bola. Namun, tema yang paling sering diangkat adalah tim nasional, termasuk kesuksesan Timnas U-19 menjuarai Piala AFF 2013.

Film populer tema sepak bola yang pertama diluncurkan oleh Andi Bachtiar Yusuf lewat The Conductors pada Februari 2008. Jauh sebelum era film modern, sineas Indonesia pernah menjadikan turnamen sepak bola sebagai bagian dari plot. Film yang paling populer adalah Buaye Gile, garapan almarhum Benyamin Sueb dan Syamsul Fuad pada tahun 1974.    

Berikut Bola.com merangkum 11 film Indonesia bertema sepak bola:

2 dari 12 halaman

The Conductors (2008)

Film ber-genre dokumenter ini mengangkat kisah dirigen Aremania, Yuli Sugiarto atau akrab disapa Yuli Sumpil. Meski tema utama tentang sepak bola, film ini menggambarkan tiga sosok yang memiliki profesi dengan label sama, yakni conductor

Conductor yang dimaksud adalah pemimpin sebuah orkestra yang melibatkan komposer ternama Addie MS, lalu pemimpin paduan suara legendaris dari UI, AG Sudibyo, dan sosok Yuli Sumpil sebagai pemimpin puluhan ribu Aremania saat mendukung Arema di stadion.

The Conductors (Bogalakon Pictures)

The Conductors melahirkan satu kesimpulan bahwa tidak semua orang dilahirkan sebagai pemimpin. Tiga pemeran utama dalam film itu punya gaya masing-masing. Addie MS dengan pembawaannya yang karismatik dan klasik, sementara AG Sudibyo adalah sosok yang punya keinginan kuat.

Sementara dari sisi Yuli Sumpil adalah gairah seorang dirigen yang tak kenal lelah mengatur ritme para suporter bernyanyi dan meneriakkan yel-yel. 

 

3 dari 12 halaman

Gara-Gara Bola (2008)

Setelah The Conductors dirilis, pada tahun yang sama muncul fim komedi berjudul Gara-Gara Bola. Dibintangi Khalid Kashogi dibintangi Herjunot Ali, dan Winky Wiryawan, dan Laura Basuki.

Tema yang diangkat dalam film ini sebenarnya cukup rumit, yakni tentang judi bola. Namun, sisi humor yang ditampilkan lewat para aktor membuat film ini enak dinikmati tanpa penonton harus berpikir. Herjunot dan Winky memerankan dua sahabat yang sama-sama menggemari sepak bola.

Mereka terjebak dalam judi ketika bertaruh dalam final Piala Dunia 2006. Alhasil, mereka pun dikejar-kejar oleh kaki tangan bandar judi besar di Jakarta. Indra Herlambang sukses memerankan kaki tangan bandar judi yang membuat film itu semakin kocak.

4 dari 12 halaman

Romeo Juliet (2009)

Setahun setelah merilis The Conductors, Andi Bachtiar Yusuf kembali mengangkat tema sepak bola dalam karyanya. Kali ini lewat Romeo Juliet, dibintangi Edo Borne, Sissy Pricillia, dan Alex Komang. Dirigen Aremania Yuli Sumpil kembali ditampilkan sebagai pemeran pendukung.

Sesuai dengan judul, film ini berakhir sedih. Dikisahkan hubungan cinta terlarang antara suporter Persib Bandung (Desi) dengan anggota The Jakmania (Rangga). Mereka pun kawin lari dan sempat singgah di Malang menemui Yuli Sumpil. 

Lokasi pemotretan film Romeo Juliet. (Istimewa)

Akhir cerita, Rangga meninggal di Bandung saat akan menemui istrinya yang sedang menonton pertandingan Persib. Film ini sempat menimbulkan kontroversi dan penolakan dari suporter Persib karena dianggap memojokkan mereka.

Terlepas dari hal itu, sebenarnya ada pesan positif dalam film tersebut, yakni apapun bisa terjadi di antara kedua suporter yang berseteru, mulai persabahatan hingga percintaan.

5 dari 12 halaman

Garuda di Dadaku (2009)

Garuda di Dadaku jadi film Indonesia pertama yang mengangkat tema Timnas Indonesia. Film arahan sutradara Ifa Isfansyah dibintangi Marsa Aruan, Maudy Koesnaedy, Emir Mahira, dan Ari Sihasale.

Diceritakan sosok Bayu yang berusia 12 tahun dan bercita-cita menembus skuat Timnas U-13. Bayu yang sejak kecil menggemari sepak bola sering menggiring bola di gang-gang sempit tempat ia tinggal. 

Aliando Syarief saat berakting dalam film Garuda di Dadaku 2. (Twitter)

Satu hal yang fenomenal dari film ini adalah original soundtrack (Garuda di Dadaku) yang diciptakan band Netral. Lagu itu menjadi pengiring timnas ketika bertanding dan dinyanyikan oleh suporter Indonesia.

Pada 2011, sekuel Garuda di Dadaku dirilis. Emir Mahira kembali jadi pemeran utama dalam film yang disutradarai Rudy Soejarwo.

6 dari 12 halaman

Tendangan dari Langit (2011)

Tema sepak bola juga diangkat oleh sutradara terkenal Hanung Bramantyo lewat film Tendangan dari Langit. Dua pesepak bola top, Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan turut andil dalam film tersebut. Selain itu, aktris cantik Maudy Ayunda dan Joshua juga mewarnai film produksi Sinemart

Cerita film ini tentang remaja bernama Wahyu, tinggal di lereng gunung Bromo, Jawa Timur. Namun, Wahyu tidak mendapat restu dari sang ayah untuk melanjutkan cita-cita jadi pesepak bola.

Pemeran utama Tendangan dari Langit (Cosmopolitan.co.id)

Padahal, ia ditemukan oleh pelatih Persema Malang, Timo Scheunemann dan Matias Ibo yang tengah berwisata ke Bromo. Kedua pelatih juga merupakan sosok nyata di perhelatan sepak bola nasional.

Pesan moral dalam film itu adalah perjuangan Wahyu melawan rintangan untuk mengejar impian. Rintangan tak hanya datang dari orang tua, tapi juga dirinya.

 

7 dari 12 halaman

Hari Ini Pasti Menang (2012)

Film Hari Ini Pasti Menang merupakan adaptasi dari novel berjudul Menerjang Batas karta Estu Ernesto. Tema yang diangkat oleh sutradara Andi Bachtiar Yusuf adalah perjuangan Timnas Indonesia berjuang di Piala Dunia 2014. 

Tokoh sentral dalam film itu adalah Gabriel Omar Baskoro yang diperankan Zendhy Zain. Ia jadi bintang Timnas Indonesia yang lolos ke perempat final Piala Dunia. Diceritakan, Omar memperkuat klub Jakarta Metropolitan yang bermain di Liga Utama Indonesia.

Konflik terjadi setelah ada isu mafia sepak bola yang terlibat dalam Timnas Indonesia. Selain itu, tokoh utama, Omar, menghadapi berbagai problem termasuk popularitas di Indonesia. 

8 dari 12 halaman

Cahaya dari Timur (2014)

Film Cahaya dari Timur (Beta Maluku) adalah film bertema sepak bola pertama yang mengangkat salah satu pusat sepak bola di Indonesia, Maluku. Musisi Glenn Fredly merupakan produser film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko.

Dibintangi Chicco Jericho, Cahaya dari Timur memadukan tema sepak bola dengan isu sosial di Maluku, yakni konflik antaragama.

Ciccho berperan sebahai Sani Tawainella, mantan pesepak bola Timnas U-15 yang kini jadi tukang ojek. Ia berusaha menyelamatkan anak-anak di kampungnya dari konflik agama.

Cahaya dari Timur (Beta Maluku) (Movie.co.id)

Sani akhirnya diberi tugas menangani tim Maluku pada kejuaraan nasional. Film ini sangat kental dengan kultur Maluku dengan menggunakan bahasa Ambon dalam dialog. Film ini mendapat penghargaan di Festival Film Indonesia 2014 sebagai film terbaik. 

Film ini memotret kehidupan pesepak bola-pesepak bola sungguhan, seperti Alfin Tuasalamony, Hendra Bayauw, Rizky Pellu, serta beberapa lainnya yang saat ini aktif bermain di perhelatan kompetisi Tanah Air.

 

9 dari 12 halaman

Tabula Rasa (2014)

Sineas Indonesia mulai menjelajahi Papua untuk mengangkat tema sepak bola dalam karya mereka. Pada tahun 2014, setelah Cahaya dari Timur, sutradara Adrianto Dewo membuat film Tabula Rasa dengan latar belakang Kepulauan Yapen, Serui, Papua.

Tabula Rasa bercerita tentang Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional. Hans menghadapi masalah hingga mempertemukan dia dengan pemilik warung nasi Padang bernama Mak Umo.

Film ini tergolong unik. Meski ada latar belakang sepak bola, sutradara memperlihatkan keberagaman suku Indonesia dan kuliner. Adrianto Dewo mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik pada Piala Citra 2014.

10 dari 12 halaman

Garuda U-19 (2014)

Perjuangan Timnas U-19 di Piala AFF U-19 2013 dan menuju Piala AFC U-19 2014 diangkat dalam sebuah film karya Andi Bachtiar Yusuf berjudul Garuda U-19 yang dirilis pada 9 September 2014. 

Garuda U-19 menceritakan perjuangan Indra Sjafri dalam mencari pemain meskipun ada banyak keterbatasan. Film tersebut dibintangi Mathias Muchus dan Ibnu Jamil. 

Peluncuran film ini bersamaan dengan menjelang pertempuran Indonesia di Piala AFC U-19. Sayang, perjuangan Evan Dimas terhenti di babak penyisihan grup.

 

11 dari 12 halaman

Hattrick (2012)

Selain delapan film di atas, ada satu lagi film berjudul Hattrick yang dirilis pada 2012 dibintangi Arumi Bachsin, Denny Sumargo, dan Lukman Sardi, dan Dion Wiyoko. Namun, fillm tersebut mengangkat tema futsal.

Setingan ceritanya tentang sebuah turnamen Underground Futsal bertaraf internasional yang diikuti oleh tim amatir Indonesia.

Tim tersebut dibentuk oleh seorang wanita paruh baya yang jadi mafia. Ia meneruskan cita-cita almarhum suaminya yang sangat mendamba memiliki tim futsal kuat berprestasi internasional.

Tim ffutsal dibentuk dari pemain-pemain futsal jalanan. Mereka dikumpulkan dengan cara diculik dan kemudian dilatih di sebuah tempat misterius.

12 dari 12 halaman

Buaye Gile (1974)

Film yang dibintangi seniman legendaris Benyamin S ini bercerita tentang kehidupan sebuah kampung di Jakarta, di mana ada sebuah keluarga yang baru pindah. Tidak ada tema sepak bola secara khusus dalam film ini. Namun, Film yang disutradarai Syamsul Fuad menggambarkan kehidupan sebuah kampung yang selalu ramai dengan turnamen tarkam menjelang perayaan kemerdekaan.

Benyamin S. (Bintang.com)

Dua klub tarkam paling top bersaing di kampung itu, yakni PS Apes dan PS Dongkrak. Dalam film itu, sepak bola kampung digambarkan sebagai sebuah gengsi, terutama bagi pemain yang ingin memikat hati wanita yang diperankan oleh Ida Royani.

Adegan pertandingan PS Apes vs PS Dongkrak sangat kocak dengan bumbu celotehan khas Benyamin S. Benyamin juga membuat sebuah lagu berjudul sepak bola pelawak.

Lanjutkan Membaca ↓
Bima Sakti Jelaskan Latihan Timnas Indonesia U-16 yang Berbeda di Tengah Pandemi COVID-19