Demi Regenerasi, Singgih Pitono Bangga Dijuluki Pelatih Ndeso

Oleh Gatot Susetyo pada 25 Jul 2016, 15:20 WIB
Diperbarui 25 Jul 2016, 15:20 WIB
Singgih Pitono

Bola.com, Tulungagung - Mayoritas mantan pemain, terutama yang pernah berlabel bintang baik di level klub maupun Timnas Indonesia, ingin mengejar prestasi tinggi ketika alih profesi sebagai pelatih di klub-klub profesional. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Singgih Pitono.

Eks penyerang Arema dan pujaan Aremania kala masih aktif menggocek bola ini malah memilih menjadi pelatih kampung dibandingkan menangani klub profesional. Bahkan pemain yang ditemukan tokoh Arema, Ovan Tobing, ketika main tarkam di Tulungagung, Jatim, ini lebih suka dipanggil 'pelatih ndeso'.

"Hidup ini sebuah pilihan. Orang lain punya hak memilih masa depannya, begitu pula saya. Saya sudah senang bisa melatih klub kota kelahiran saya, Tulungagung. Saya juga tak merasa malu atau minder bila ada orang yang menilai karier melatih saya tak sebagus saat jadi pemain. Saya lahir di desa, saya bangga disebut pelatih ndeso," tutur Singgih, yang saat ini jadi arsitek Perseta Tulungagung di pentas Liga Nusantara Zona Jatim.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata Singgih Pitono punya cita-cita luhur dengan lebih memilih menjadi pelatih ndeso. Dia ingin melahirkan pemain-pemain hebat dari desa kelahirannya di Ngunut, Tulungagung. Motivasi ini semakin besar setelah dia resmi dapat restu dari manajemen Arema untuk mendirikan Akademi Arema di kampungnya.

"Kebanggaan tiap orang berbeda-beda. Ada yang puas bila berprestasi menangani klub besar. Tapi, saya lebih bangga dan puas jika bisa melahirkan pemain hebat. Terutama bila pemain itu binaan asli dari kampung saya. Saya ingin ada pemain yang mengikuti jejak saya jadi pemain hebat," ujarnya.

Singgih Pitono mengaku tidak bisa melupakan Arema yang telah melambungkan namanya, dari seorang pemain ndeso bisa berprestasi hingga pernah jadi penggawa timnas. Kecintaan dengan Arema itulah Singgih tidak mau meninggalkan anak-anak didiknya di Akademi Arema Tulungagung demi mengejar prestasi pribadi.

"Arema akan selalu ada di hati dan hidup saya. Kalau saya mengejar prestasi dan materi jadi pelatih dan jauh dengan anak-anak Akademi Arema, berarti saya mengkhianati hati nurani dan cita-cita saya. Kalau semua orang ingin jadi pelatih klub profesional, lalu siapa yang membina anak-anak usia dini yang sejatinya dari situ proses regenerasi pemain Indonesia," ucapnya.