Fakta Persib, Persija, SFC, Persipura Kepayahan Mengejar Arema

Oleh Ario Yosia pada 19 Agu 2016, 10:00 WIB
Diperbarui 19 Agu 2016, 10:00 WIB
Fakta Persib, Persija, SFC, Persipura Sempoyongan Mengejar Arema.(Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, Persib Bandung, Arema Cronus, Persija Jakarta, merupakan sederet klub kontestan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 presented by IM3 Ooredoo yang telah mengoleksi gelar juara kompetisi kasta tertinggi. Namun, hingga pengunjung putaran pertama kompetisi hanya Arema yang performanya paling stabil.

Empat klub lainnya, penampilannya cenderung turun naik. Mencuatnya Madura United sebagai pemuncak klasemen sementara TSC (hingga pekan ke-15), serta Semen Padang, Bhayangkara Surabaya United dalam percaturan persaingan lima besar juga menjadi kejutan tersendiri.

Sebagian besar pengamat sepak bola nasional banyak yang menjagokan Arema Cronus, Persib, Persipura, serta Sriwijaya FC sebagai kandidat juara. Faktanya hanya Arema yang sejak pekan pertama terlihat berlari kencang dalam perlombaan maraton memperebutkan trofi juara kompetisi level elite.

Harus diakui peran Milomir Seslija, pelatih Tim Singo Edan amat besar dalam menjaga kestabilan tim asuhannya.  Arema punya skuat yang mumpuni untuk bisa jadi jawara musim ini.

Kombinasi pemain-pemain asing berkelas macam Esteban Vizcarra (Argentina), Srdan Lopicic (Montenegro), Goran Gancev (Makedonia) dengan pilar-pilar lokal top layaknya Cristian Gonzales, Raphael Maitimo, Hamka Hamzah, Ahmad Bustomi, dan Hendro Siswanto, membuat Arema terasa mentereng.

Akan tetapi siapa sangka dalam perjalanan pasukan Kera-kera Ngalam mengalami situasi yang tidak mengenakkan. Silih berganti pemain-pemain kunci mereka bertumbangan karena cedera.

Pemain Arema Cronus, Ryuji Utomo dan Raphael Maitimo merayakan gol saat melawan PS TNI pada laga Torabika SC 2016 di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (31/7/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Dendi Santoso dan Ahmad Bustomi, pilar utama Arema beberapa musim terakhir, bisa dibilang tak bisa diandalkan sepanjang paruh pertama kompetisi karena cedera berat. Menepinya Cristian Gonzales, Hamka Hamzah, Srdan Lopicic, dan Hendro Siswanto, dalam pekan-pekan berbeda karena problem kebugaran kian membuat Milo pusing kepala.

Namun, di sinilah kejelian pelatih asal Bosnia tersebut terlihat. Arema selalu bisa keluar dari kemelut dan komposisi skuat minimalis. Dari 15 laga yang telah dijalani klub yang jadi juara Piala Bhayangkara 2016 hanya dua kali tersandung, yakni saat mereka kalah 1-2 oleh Mitra Kukar serta PS TNI di kandang lawan.

Yang patut dicatat Arema punya rekor tandang yang ciamik. Mereka tiga kali mencuri kemenangan di luar Malang. Menang saat bersua Persija (1-0), PSM Makassar (1-0), Persela Lamongan (2-0). Di luar kekalahan, sisanya Arema merengkuh hasil imbang.

Lantas bagaimana dengan rekor kandang mereka? Fantastis. Dari delapan pertandingan yang dilakoni Arema di Stadion Kanjuruhan, Tim Singo Edan hanya sekali tertahan kala mereka menjamu Persipura dengan skor kacamata.

Sukses Arema tak lepas dari keberhasilan Milo sukses memompa semangat pemain belia pelapis. Kala diberdayakan sebagai pemain inti, performa mereka tak kalah ciamik dibanding para seniornya. Ryuji Utomo, Junda Irawan, Syaiful Indra Cahya, Ahmad Nufiandani, dan Sunarto deretan pemain serep yang tampil ciamik saat diturunkan dalam starting eleven. Nama terakhir disebut kerap jadi supersub lewat gol-golnya.

"Menghadapi situasi sulit seperti ini, di mana banyak pemain bertumbangan karena cedera pilihan melakukan rotasi tak bisa dihindarkan. Beruntung kami punya pemain-pemain pelapis bermental baja. Mereka tampil bernyali di lapangan," tutur pelatih asal Bosnia.

Salah satu pemain muda, Ryuji pun memberikan apresiasi terhadap Milo yang memberikannya banyak kesempatan bermain di TSC 2016. "Saya pribadi berterima kasih atas kesempatan bermain yang diberikan pelatih. Walau berstatus pemain junior, pelatih tidak pilih-pilih," kata Ryuji, bek sayap kanan yang di sejumlah laga Arema dimainkan sebagai stopper.

Namun, mantan Direktur Teknik Barito Putera tersebut juga mengakui badai cedera belakangan terasa mengganggu. Saat jadwal TSC 2016 memadat di pengujung putaran pertama, Arema terlihat ngos-ngosan. Mereka tak bisa terus-menerus bermain dalam level terbaik karena kelelahan fisik.

Jangan heran jika ia sempat sinis dengan pelaksanaan pelatnas seleksi Timnas Indonesia Piala AFF 2016 yang digelar medio bulan Agustus ini. Ia khawatir pemainnya ambruk saat kembali ke klub. 

Imbas olengnya Arema belakangan ini adalah menyodoknya Madura United ke posisi puncak klasemen. Milo sendiri masih punya keyakinan di laga tersisa mereka bisa kembali menjadi nomor satu. "Jika kami bisa fokus menyapu bersih dua pertandingan ke depan peluang menggeser Madura United masih terbuka. Saya yakin para pemain saya bisa melakukannya," ucap Milomir Seslija

Perjuangan Arema kembali ke singgasana tidak mudah. Dua lawan tersisa di putaran pertama, Pusamania Borneo FC (kandang) serta Persib (tandang) punya komposisi pemain yang tak kalah mentereng. 

Prestasi Era Indonesia Super League Arema Cronus (bola.com/Rudi Riana)

2 dari 5 halaman

Persib: Bencana Kepergian Gerbong Pemain Juara

Berstatus sebagai juara Indonesia Super League edisi terakhir 2014 serta Piala Presiden 2015, tak pernah ada yang membayangkan langkah Persib Bandung bakal tertatih-tatih saat menjalani Torabika Soccer Championship 2016 presented by IM3 Ooredoo.

Maung Bandung juga jadi klub paling sehat secara finansial. Dengan ditopang dana berlimpah dari konsorsium pengusaha yang tergabung di PT Persib Bandung Bermartabat serta pasokan duit dari sponsor, mereka bisa membangun The Dream Team dengan mudahnya.

Saat klub ditinggal gerbong pemain bermental juara, macam: Firman Utina, Supardi, Achmad Jufriyanto, Muhammad Ridwan (Sriwijaya FC), Makan Konate (T-Team Malaysia), Dedi Kusnandar (Sabah FA Malaysia), serta Illija Spasojevic (Melaka United Malaysia), Persib diyakini tidak akan goyah.

Pelatih baru, Dejan Antonic, dapat bekal finansial gemuk untuk kembali membangun kekuatan Tim Pangeran Biru. Benar saja, pelatih asal Serbia tersebut langsung agresif memboyong pemain-pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pilar lawas.

Hanya berbeda dengan pelatih sebelumnya, Djadjang Nurdjaman, pemain-pemain gres yang didatangkan Dejan ke Persib mendapat hujan kritik dari bobotoh. Beberapa di antaranya dianggap tidak pantas jadi bagian dari Persib, yang berstatus klub elite. Kim Jeffrey Kurniawan, Hermawan, David Laly, serta Rahmat Hidayat, bekas anak buah Dejan di Pelita Bandung Raya, dianggap bobotoh kelas semenjana.

Di sisi lain, Dejan Antonic juga mendaratkan pesepak bola-pesepak bola impor sesuai seleranya. Robertino Pugliara (Argentina) serta Juan Belencoso (Spanyol) digaet untuk mengisi pos kosong yang ditinggalkan Makan Konate dan Illja Spasojevic.

Kim Kurniawan, kedatangannya ke Persib dipersoalkan bobotoh. Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Injeksi pemain lokal macam, Samsul Arif serta Purwaka Yudi, sempat mengobarkan optimisme. Di tengah badai kritik dari suporter, pengamat menilai dengan modal pemain yang dimiliki Persib punya kans jadi juara TSC 2016.

Nyatanya, modal di atas kertas tak berbanding lurus dengan kenyataan. Persib yang bermain dengan gaya baru terseok-seok pada laga-laga awal kompetisi. Upaya Dejan menyatukan pemain baru dengan lawas tidak mulus.

Bobotoh melihat permainan sepak bola indah ala Djanur hilang pada era Dejan. Mandulnya bomber asing, Juan Belencoso, membuat posisi Dejan terpojok. Ia dianggap melakukan kesalahan dalam pembelian pemain.

Manajemen Persib sebenarnya tetap memberi dukungan 100 persen kepada Dejan. Namun, sang mentor tak tahan juga dengan kritik yang tak berhenti-henti mencuat setiap kali Persib bertanding. Ia mengumumkan pengunduran diri setelah Persib mengalami kekalahan telak 1-4 dari Bhayangkara Surabaya United di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

"Saya tidak kuat lagi," ungkap Dejan Antonic yang langsung memilih terbang ke Hong Kong begitu melayangkan surat pengunduran diri sebagai pelatih Persib.

Manajemen Persib bergerak cepat dengan kembali mendatangkan Djadjang Nurdjaman. Hanya saja kehadiran sang pelatih bermental juara ternyata tidak langsung membuat Persib kembali ke trek yang benar. Penampilan Maung Bandung masih terlihat bak yoyo alias turun-naik.

Di tangan Djadjang, Persib mengantongi empat kemenangan dalam tujuh laga terakhir. Rekor cukup lumayan, tapi belum cukup membuat Atep dkk. lepas landas ke jajaran papan atas. Kekalahan 0-4 dari Semen Padang di Ranah Minang serta skor imbang 0-0 melawan seteru abadi Persija di Kota Kembang menunjukkan Persib belum benar-benar solid.

Djanur berkilah sulit maksimal karena stok pemain yang ada bukan pilihannya. "Saya perlu melakukan penyesuaian dengan mereka, begitu pula sebaliknya. Butuh waktu. Semoga saja pada putaran kedua nanti kami bisa bangkit," ungkap sang pelatih.

Persib kabarnya bakal melakukan penyegaran skuat pada putaran kedua TSC 2016. Mereka kini sibuk berburu striker asing baru pengganti Juan Belencoso, yang akhirnya diputus kontrak. Kebutuhan ini tak terhindarkan karena penyerang lokal, Sergio van Dijk, yang jadi titik tumpuan lini depan terlihat masih seret gol.

Persib Bandung harus kerja keras. Menduduki posisi ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 23 poin, mereka tertinggal 10 angka dari Madura United yang kini berada di posisi puncak. Bisakah?

Prestasi Era Indonesia Super League Persib Bandung (bola.com/Rudi Riana)

3 dari 5 halaman

Persipura: Persiapan yang Terburu-buru

Delapan tahun terakhir Persipura Jayapura jadi tim langganan papan atas kompetisi kasta elite. Jika tak jadi juara, paling banter mereka berada di posisi kedua klasemen akhir.

Berbeda dengan kebanyakan klub lain, Tim Mutiara Hitam punya skuat yang amat kompak. Di setiap musim mereka jarang melakukan perombakan. Boaz Solossa, Ian Kabes, Imanuel Wanggai, Ricardo Salampessy, Yoo Jae-hoon, Bio Paulin, Yustinus Pae, Nelson Alom, Lukas Mandowen, Ferinando Pahabol, deretan pemain yang jadi fondasi utama kekuatan Persipura beberapa tahun terakhir.

Jafri Sastra, gagal beradaptasi dengan gaya bermain Persipura. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Sayang, modal soliditas tersebut tak bekerja maksimal di TSC 2016. Mereka bisa dibilang minim persiapan menghadapi kompetisi kasta elite tahun ini.

Saat kompetisi profesional vakum sepanjang tahun 2015 serta awal 2016 Persipura tak selalu ikut serta dalam turnamen yang digelar pihak ketiga di luar PSSI.

Manajemen Persipura sempat membubarkan tim sebelum akhirnya mengumpulkan pemain secara dadakan jelang turnamen Piala Bhayangkara 2016. Gagal total di turnamen tersebut, pelatih Oswaldo Lessa dipaksa out. Pelatih asal Sumatera Barat, Jafri Sastra, yang sukses bersama Mitra Kukar di Piala Jenderal Sudirman didatangkan hanya beberapa pekan menjelang TSC 2016 bergulir.

Keputusan merekrut Jafri agak mengejutkan. Gaya bermain ofensif yang menjadi khas Persipura bertolak belakang dengan style Jafri, yang dikenal pelatih dengan filosofi permainan cederung bertahan.

Bersama Jafri, Persipura tampil tidak stabil pada sepanjang paruh pertama kompetisi. Boaz Solossa cs. di tangan Jafri seperti kehilangan kesaktian di kandang sendiri, Stadion Mandala. 

Mereka sempat dikalahkan Persib 0-2 plus hasil imbang melawan Persija (1-1), Bali United (0-0), Persiba Balikpapan (1-1). Hal yang belum pernah terjadi di musim-musim sebelumnya.

Jafri tak bisa disalahkan sepenuhnya. Rekrutmen pemain asing yang terburu-buru membuat Mutiara Hitam oleng. James Koko Lomell (Liberia), Boakay Eddie Foday (Kamerun), Thiago Fernandes (Brasil), dan Segbah Kennedy (Liberia), kesulitan menyatu dengan pemain lokal dan unjuk gigi.

Pergantian figur Jafri ke tangan Angel Alfredo Vera (Argentina) diharap bisa mengubah situasi. Manajemen Persipura menyakini jika gaya permainan ala Amerika Latin lebih cocok bagi Ian Kabes dkk. Tim Mutiara Hitam yang kini berada di posisi enam klasemen sementara masih punya peluang juara jika pada putaran kedua nanti membayar utang poin.

Prestasi Era Indonesia Super League Persipura Jayapura (bola.com/Rudi Riana)

4 dari 5 halaman

Sriwijaya FC: Ketergantungan pada Pemain Senior

Seperti halnya Arema Cronus, Sriwijaya FC langsung ngebut di awal TSC 2016. Keduanya silih berganti menghuni posisi pertama dan kedua klasemen sementara.

Jika melihat komposisi skuat Sriwijaya FC yang mengoleksi dua gelar kompetisi kasta tertinggi (2007-2008 dan 2011-2012), mereka memang pantas masuk daftar unggulan juara TSC 2016. Tim asuhan Widodo C. Putro dihuni banyak pemain matang pengalaman bermental juara. Firman Utina, Supardi Nasir, M. Ridwan, Achmad Jufriyanto, datang ke Tim Laskar Wong Kito setelah mengantarkan Persib juara ISL 2014 serta Piala Presiden 2015.

Belum lagi ditambah sosok Eka Ramdani serta Airlangga Sucipto, yang sukses mengantar Semen Padang menembus babak 8 besar ISL 2014.

Mereka berkolaborasi dengan pemain-pemain asing yang sudah sarat pengalaman mengarungi kerasnya kompetisi Indonesia, layaknya: Yoo Hyun-koo, Alberto Goncalves, dan Hilton Moreira. Begitu banyaknya pemain berlabel bintang ternyata tak menguntungkan sepenuhnya.

Supardi Nasir, salah satu pemain matang pengalaman yang jadi motor permainan Sriwijaya FC musim ini. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Mayoritas di antara pemain pilar SFC berusia di atas 30 tahun. Mereka mulai terlihat kepayahan saat mengarungi jadwal padat TSC 2016. Begitu mereka bertumbangan karena cedera, Widodo C. Putro kesulitan menjaga keseimbangan permainan tim asuhannya.

Sebenarnya Sriwijaya FC punya kedalaman skuat yang terhitung lumayan. Mereka punya pemain belia berkualitas macam Teja Paku Alam, Anis Nabar, atau Ichsan Kurniawan. Sayangnya, permainan mereka tidak stabil.

Sriwijaya FC berulangkali kehilangan poin di fase-fase penting perburuan gelar juara. Mereka menjadi tim papan atas yang mengoleksi hasil imbang paling banyak sebanyak enam laga.

Beberapa dari hasil imbang itu juga seharusnya tidak terjadi. Contohnya saat Firman Utina cs. ditahan juru kunci Persela Lamongan 2-2 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Terakhir, terasa menyesakkan kala mereka harus berbagi skor imbang 1-1 melawan Arema Cronus. Padahal kalau bisa menang mereka bisa merapatkan jarak dengan tim di jajaran tiga besar.

Sriwijaya FC sendiri saat ini menduduki posisi tiga besar, dengan koleksi 27 poin. Widodo C. Putro masih memendam keyakinan tim asuhannya bisa mengganggu dominasi Arema Cronus dan Madura United. "Terlalu dini menyebut kami sudah tak berpeluang menjadi juara. Masih banyak pertandingan tersisa. Kami mencoba tidak memikirkan tim pesaing dan fokus pada diri sendiri," papar Widodo.

Sang mentor belum berniat melakukan penambahan amunisi pemain pada putaran kedua. Ia amat percaya diri dengan komposisi pemain yang saat ini dimiliki.

5 dari 5 halaman

Persija: Imbas Anggaran Belanja Tipis

Mengantungi gelar juara terbanyak kompetisi kasta tertinggi (9 Perserikatan dan 1 Liga Indonesia), Persija Jakarta kehilangan taji sebagai tim elite. Semenjak klub tak bisa mendapat kucuran dana APBD dan dikelola swasta (Ferry Paulus), Macan Kemayoran tak lagi jadi tim papan atas.

Di TSC 2016, Persija berlaga dengan skuat yang terhitung minimalis. Mereka memberdayakan banyak pemain muda yang nominal kontraknya murah meriah. Manajemen Macan Kemayoran agaknya trauma dengan kejadian yang terjadi pada musim 2015.

Ferry Paulus, yang kondisi keuangannya tak wah, berjudi membangun The Dream Team. Persija mendatangkan pelatih berbanderol mahal Rahmad Darmawan, yang kemudian diikuti gerbong pemain top. Apesnya kompetisi ISL 2015 macet karena konflik antara PSSI dengan Kemenpora. Sponsor yang jadi tulang punggung untuk menutupi pengeluaran tinggi klub dalam mengontrak pemain satu per satu harus pergi. Jadilah Persija berutang gaji ke para pemain dan ofisial.

Menyadari situasi tidak ideal, musim ini Persija berhemat. Di awal musim dengan skuat biasa-biasa saja performa Persija sempat membius publik sepak bola nasional. Pada laga pembuka TSC 2016 tim asuhan Paulo Camargo menahan Persipura 1-1 di Stadion Mandala, Jayapura.

Selanjutnya Ismed Sofyan dkk. meraih dua kemenangan beruntun di kandang melawan Semen Padang 1-0 dan Persela 2-1. Ketangguhan mereka kemudian terlihat saat memaksakan hasil imbang 0-0 kontra Perseru Serui di markas lawan.

Setelah itu kartu Persija yang sebenarnya mulai terbuka. Bermodal anak-anak muda potensial plus pemain-pemain gaek yang mulai tergerus usia, Persija sulit untuk bisa tetap stabil.

Kekalahan 0-1 dari Barito Putera menjadi awal keterpurukan Persija. Sempat meraih kemenangan dengan skor serupa di kandang atas PS TNI, selanjutnya Persija terkapar dihantam Arema Cronus 0-1 dan Sriwijaya FC 0-3.

Prestasi Era Indonesia Super League Persija Jakarta (bola.com/Rudi Riana)

Pertandingan kontra SFC juga menyisakan masalah. Suporter pendukung tim ibu kota membuat kerusuhan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, saat skor 0-1 buat tim tamu. Dinilai menodai kompetisi, Komdis ISC kemudian menjatuhkan hukuman kekalahan WO 0-3!

Apesnya, setelah itu Persija seakan dijauhi keberuntungan. Mereka tidak pernah meraih kemenangan dalam enam laga. Camargo, akhirnya mengundurkan diri setelah tim asuhannya terkapar kalah 1-2 melawan Bhayangkara SU. Pelatih asal Brasil itu mengaku tidak kuat melanjutkan tugasnya.

"Saya mengajukan rencana melakukan perubahan komposisi pemain pada putaran kedua ke manajemen dan mereka menolaknya. Padahal, melihat performa kami sepanjang putaran pertama banyak kelemahan yang harus dibenahi. Kami butuh pemain baru," ujar mantan pelatih Persibo Bojonegoro itu.

Bambang Pamungkas, mandul gol di sepanjang putaran pertama TSC 2016. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Persija mengalami sejumlah kesialan sepanjang paruh pertama TSC 2016. Pemain-pemain asing mereka bertumbangan karena cedera. Striker asal Kolombia, Jose Guerra, tak pernah dimainkan karena cedera lutut parah.

Gelandang jangkar, Hong Soon-hak, berulangkali absen karena problem serupa. Praktis hanya Willian Pacheco, stoper asal Brasil yang tampil reguler. Ketajaman lini depan menjadi persoalan utama Persija seret poin. Tanpa Guerra, Macan Kemayoran hanya punya figur Bambang Pamungkas, Rahmat Affandi, serta Aldy Al-Achya. Dua nama pertama disebut, pemain sarat pengalaman, namun seperti kesulitan menemukan ritme mencetak gol reguler musim ini.

Persija kini berkubang di papan bawah berada di posisi ke-15 klasemen sementara dengan koleksi 14 poin. Mereka jadi tim paling seret gol dengan koleksi sembilan gol dari 15 pertandingan. Hal yang mengenaskan karena mereka kalah produktif dibanding tim juru kunci Persela yang sudah 15 kali menjebol gawang lawan.

Posisi pelatih kepala Persija saat ini dihuni Jan Saragih, yang sebelumnya jadi asisten Paulo Camargo. Tak mudah bagi pelatih yang minim pengalaman memegang klub untuk membalikkan keadaan. 

Lanjutkan Membaca ↓