Analisis KickOff!: 5 Pesan Penting dari Piala AFF untuk Pembinaan

Oleh Bola pada 20 Des 2016, 15:30 WIB
Diperbarui 20 Des 2016, 15:30 WIB
Timnas Indonesia
Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia kembali untuk kelima kalinya menjadi runner-up di Piala AFF 2016. Di final, Boaz dkk takluk 2-3 dari tim Gajah Putih besutan Kiatisuk Senamuang.

Kita harus memberikan apresiasi pada perjuangan timnas. Tapi, di sisi lain kita juga harus menyikapi secara kritis prestasi ini dengan suatu refleksi yang introspektif. Bangga boleh, cepat puas jangan!

Kemandekan prestasi ini harus dimulai dengan sebuah kejujuran bahwa masih banyak yang kurang dalam pembinaan usia muda kita. Ini meliputi sktruktur klub usia muda, kompetisi usia muda, kepelatihan usia muda dan infrastruktur usia muda.

Semua saling terkait dan perlu mendapatkan perhatian yang semestinya. Usia muda jangan lagi hanya menjadi komoditi dan bahan kehumasan yang seksi.Melainkan perlu dibuat suatu perencanaan dan agenda aksi yang kongkret.

Pada tataran teknis, performa timnas di Piala AFF 2016 memberikan pelajaran, yakni tentang hal penting apa saja yang perlu diberi penekanan lebih agar generasi berikut dapat membawa timnas ke level lebih tinggi.

Melalui jejaring WhatsApp, penulis mencoba melakukan riset kecil-kecilan tentang hal ini kepada para kolega pelatih. Mereka melatih di berbagai jenjang.Ada yang merupakan pelatih professional, pelatih amatir, juga pelatih SSB.

Respons para kolega amat beragam. Ada yang menyoroti pada level taktik tim, ada juga yang menyoroti level individu. Dari beragam respon para kolega, penulis berusaha merangkumnya menjadi lima poin penting. Satu poin soal umum, tiga soal menyerang dan satu soal bertahan.

Berikut 5 pesan penting performa Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 untuk pembinaan usia muda?

2 dari 6 halaman

Pesan #1: Bek Jago Menyerang, Striker Jago Bertahan

Timnas Indonesia
Fachrudin Aryanto (kiri) dan Dedi Kusnandar, berusaha menghentikan pergerakan pemain Thailand, Chanathip Songkrasin, dalam laga leg kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pesan #1: Bek Jago Menyerang, Striker Jago Bertahan

Sepak bola top level menuntut pemain yang memiliki kemampuan komplet. Pengertian komplet di sini adalah pemain yang mampu bertahan, menyerang dan melakukan transisi dengan sangat baik.Kemampuan ini terlepas apapun posisi pemain. Ya, di sepak bola top level, bek tak cukup hanya jago bertahan. Sebaliknya striker atau pemain sayap tak cukup hanya jago menyerang.

Tentu kita semua paham bahwa Fachrudin, Yanto Basna ataupun Hansamu adalah bek yang memiliki kemampuan bertahan prima. Aksi menekan, tekel, bertahan dengan heading mereka peragakan dengan sangat baik. Sayangnya mereka amat buruk dalam melakukan aksi-aksi menyerang. Umpan, kontrol, membuka ruang dan penetrasi bukan sesuatu yang mereka senangi.

Tak heran bek Indonesia gagap saat harus bangun serangan dari bawah. Pada laga kontra Filipina atau Vietnam misalnya, timnas unggul skor. Pada beberapa situasi lawan terlihat menunggu dan tak lakukan tekanan tinggi.

Situasi ini seharusnya dipakai timnas untuk turunkan tempo permainan dengan cara mainkan penguasaan bola pasif dari bawah. Kiper dan keempat bek bisa lakukan umpan ke kiri, kanan dan belakang untuk membunuh permainan. Sayang, bek timnas tak cukup hebat untuk lakukan hal tersebut. Mereka memilih untuk bermain umpan lambung tanpa arah.

Bagaimana dengan daya serang Boaz, Andik, atau Zulham? Luar biasa! Kemampuan bertahannya? Kita semua sepakat, banyak gol yang diderita Kurnia Meiga tidak melulu persoalan lini belakang. Melainkan buruknya striker atau winger dalam bertahan. Misalnya kebiasaan lambatnya pemain sayap kembali untuk ciptakan kompaksi (jarak yang terjaga antara dua pemain terjauh, baik secara horizontal maupun vertikal), selalu ciptakan lubang besar untuk lawan mengumpan secara vertical ke zona tengah.

Gambar 1

Analisis KickOff! Ilustrasi 1

Untuk itu di sepak bola usia muda, pelatih tidak boleh hanya terlalu fokus pada apa yang bisa dilakukan oleh pemain berbakatnya. Tetapi juga pada yang belum bisa dilakukan oleh pemain berbakatnya. Pelatih bisa mengubah posisi atau peran pemain berbakat tersebut. Misal bek yang kesulitan memprogresi bola kedepan, bisa diminta untuk membangun serangan konstruktif dari bawah. Atau memindahkan pemain tersebut menjadi gelandang. 

3 dari 6 halaman

Pesan #2: Pemahaman Ruang dan Pengambilan Posisi

Timans Indonesia
Pemain Indonesia, Bayu Pradana, berebut bola dengan pemain Vietnam, Nguyen Van Quyet (kiri), dalam laga leg pertama semifinal Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu (3/12/2016). (Bola.com/Peksi Cahyo)

Pesan #2: Pemahaman Ruang dan Pengambilan Posisi

Untuk bisa mencetak gol, pemain membutuhkan ruang. Ruang untuk melakukan penyelesaian akhir, ruang untuk melakukan assist dan ruang untuk lakukan berbagai aksi menyerang sebelumnya. Definisi ruang sebenarnya adalah tumbukan antara posisi berdiri tim kita dan tim lawan.

Pada praktiknya, wilayah lapangan yang tidak ada pemain lawan berdiri adalah ruang yang harus dieksploitasi tim kita. Ada dua isu utama terkait buruknya pemahaman ruang dan pengambilan posisi pemain Indonesia.

Pertama, pemain Indonesia tidak berusaha mencari posisi di ruang antar lini, yaitu ruang di antara lini belakang dan tengah, serta antar lini tengah dan depan. Penyebaran pemain yang tidak merata di ruang antarlini, menimbulkan diskoneksi. Akibatnya timnas terpaksa harus meluncurkan umpan jauh yang berpotensi hilang bola. 

Gambar 2 dan 3

Analisis KickOff! Ilustrasi 2

Analisis KickOff! Ilustrasi 3

Isu kedua adalah pemain Indonesia tidak paham untuk berbagi ruang satu sama lain. Akibatnya sering terjadi kawan sendiri justru menutup jalan untuk progresi bola ke depan. Saat Fachrudin menguasai bola misalnya Bayu Pradana datang menghampirinya. Tanpa sadar Bayu justru menutup jalur umpan ke striker, sehingga opsi umpan Fachrudin menjadi berkurang. Ada salah kaprah di mana dukungan disalahartikan dengan mendatangi kawan dengan bola. Memang masalah ini juga terjadi akibat buruknya kemampuan menyerang bek Indonesia seperti diulas poin di atas.

Gambar 4

Analisis KickOff! Ilustrasi 1

4 dari 6 halaman

Pesan #3: Bodyshape saat Minta Bola

Timnas Indonesia
Pemain Timnas Indonesia, Rizky Pora, berusaha melewati hadangan pemain Thailand dalam laga leg kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pesan #3: Bodyshape saat Minta Bola

Bila posisi menentukan di titik ruang mana pemain harus bergerak dan minta bola, maka bodyshape (posisi dan sikap tubuh) ada bentuk postur yang harus dipasang saat berada di titik posisi tersebut. Aksi-aksi sepak bola adalah interaksi pemain dengan kawan dan lawan.

Sebelum menerima bola, ia harus berkomunikasi dengan kawan dan lawan. Berdasarkan komunikasi tersebut, baru ia dapat memutuskan dan mengeksekusi bola yang diterima.

Nah, bodyshape sangat berguna untuk berkomunikasi. Umumnya pemain timnas sering meminta dan menerima bola dengan bodyshape yang 100% membelakangi gawang lawan.

Akibatnya saat akan menerima bola, ia tidak memiliki informasi yang cukup tentang situasi yang ada di belakangnya. Bodyshape seperti ini juga menyulitkan pemain untuk scanning menengok ke belakang melihat situasi terkahir. Ujungnya terkadang pemain salah memutuskan.

Kurangnya informasi menurunkan akurasi pemain timnas dalam mengambil keputusan. Harusnya turning - malah backpass, harusnya backpass – malah turning. Kalaupun ternyata keputusannya benar untuk melakukan turning, terkadang pemain harus lakukan full turn (melakukan putaran 360 derajat). Lalu ia baru bisa melihat situasi setelah full turn untuk pilihan aksi selanjutnya. Artinya kecepatan aksi demi aksi menjadi cenderung pelan.

Pada konteks ini, pemain timnas perlu mencontoh Sarach Yooyen. Gelandang #6 Thailand ini selain melakukan penempatan posisi prima, body shape-nya hampir selalu 90 derajat. Body shape ini membantunya dapatkan informasi sebanyak mungkin. Dengan sedikit toleh kiri kanan, ia dapat melihat kawan, lawan dan situasi di depan.

Bila bola benar-benar diumpan kepadanya, ia akan dengan mudah ambil keputusan untuk turn ke depan atau backpass. Jika ternyata bebas, ia tidak perlu lakukan full turn, cukup half turn (melakukan putaran 180 derajat) ke depan. Dari segi durasi aksi, tentu aksinya sangat cepat dan ia bisa segera lakukan aksi berikutnya.

5 dari 6 halaman

Pesan #4: Menggunakan Tangan untuk Lindungi Penguasaan Bola

Timnas Indonesia
Usaha pemain Timnas Indonesia, Stefano Lilipaly (kiri), memenangi duel dengan pemain Thailand, Tristan Do, dalam laga leg kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pesan #4: Menggunakan Tangan untuk Lindungi Penguasaan Bola

Salah satu detail sederhana yang terlupakan adalah tidak terbiasanya pemain Indonesia merentangkan tangannya sebelum dan sesaat menerima bola. Kebiasaan kecil ini memiliki dampat dahsyat pada penguasaan bola.Kurangnya maksimalisasi penggunaan tangan untuk memblok lawan leluasa lakukan intersep sering berujung pada penguasaan bola.

Melindungi penguasaan bola di kaki dengan bantuan tangan merupakan alat bantu terakhir. Kunci keberhasilan sentuhan pertama dan sukses lakukan aksi berikut selalu diawali dengan penempatan posisi yang baik (Poin #2). Posisi yang baik menyulitkan lawan untuk marking.

Kita jadi punya ruang lebih yang berefek pada waktu lebih untuk ambil keputusan dan eksekusi. Kunci selanjutnya adalah body shape (Poin #3). Body shape yang baik menolong pemain informasi, sehingga pemain dapat mengambil keputusan dan eksekusi dengan tepat.

Analisis KickOff! Ilustrasi 6

Meski demikian penempatan posisi dan body shape belum selalu cukup. Pada sepak bola top level, terkadang intensitas tekanan begitu tinggi. Kualitas tekanan lawan akan menyulitkan pemain untuk bisa lakukan aksi berikutnya setelah terima bola. Mungkin pemain tidak sempat lakukan half turn (melakukan putaran 180 derajat).

Bahkan untuk sekadar backpass pun pemain tidak sempat. Pada situasi ini, penting untuk pemain bisa terus melindungi penguasaan bola. Dengan body shape yang dibantu bentangan tangan, pemain bisa mengulur waktu untuk mencari kemungkinan aksi berikutnya.

6 dari 6 halaman

Pesan #5: Pendidikan Zonal Marking yang Tidak Tuntas

Timnas Indonesia
Pemain Timnas Indonesia, Beny Wahyudi, berebut bola dengan pemain Thailand dalam laga leg kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pesan #5: Pendidikan Zonal Marking yang Tidak Tuntas

Pada era 90-an hinga akhir 2000-an, timnas dan klub Indonesia menggunakan sistem 1352 yang berbasis pada man to man marking, di mana 5v5 terjadi di tengah, kemudian dua striker lawan selalu dijaga oleh 3 bek.

Kedua striker dijaga secara man to man oleh 2 stoper, sedangkan 1 bek lagi berfungsi menjadi libero. Seorang pemain yang tidak memegang lawan, tetapi fokus melapis kebocoran marking stoper.

Pada awal 2000-an, Peter Withe mulai menggalakkan zonal marking. Ia mengubah Timnas Piala AFF 2004. Dari sistem 2 stoper dan 1 libero menjadi empat bek sejajar dan tiga gelandang berbasis zonal. Sejak itu, zonal defending mulai popular di Indonesia. Tim-tim tidak melakukan penjagaan berorientasi pada lawan, tapi berorientasi pada bola. Lawan dengan bola akan demarking, kemudian pemain lainnya melakukan penjagaan daerah di area sekitar lokasi bola.

Gambar 7

Sayangnya, model zonal defending tampaknya belum tersosialisasi secara massif. Baik di pendidikan pelatih, maupun di pembinaan sepakbola usia muda. Akibatnya jelas terpampang pada aplikasi zonal defending klub ISC dan Timnas. Secara teori, timnas melakukan zonal defending 1442.

Praktiknya, banyak pemain yang masih melakukannya dengan cara yang sangat man oriented. Andik Vermansyah atau Bayu Pradana misal seringkali mengikuti lawan tanpa bola secara man to man. Ini berujung pada banyaknya gap antar pemain untuk lawan dapat lakukan umpan vertikal.

Kebiasaan pemain timnas melakukan penjagaan man oriented menjadi berkah di final leg ke-1. Saat itu Kiatisuk memainkan formasi 14231 sama dengan timnas. Dengan kata lain hampir semua pemain memiliki lawan secara langsung yang tinggal diikuti dengan man to man marking ketat. Sebaliknya timnas cenderung memble dan mudah dibongkar pertahanannya saat ketemu lawan yang menempatkan jumlah pemain lebih di suatu area.

Kemampuan pemain bertahan sebagai sebuah unit dan sebagai sebuah tim berbasis zonal tampak belum fasih. Ini berarti ada banyak detail yang belum tuntas didapatkan pemain dalam pembinaan usia muda mereka. Sebuah pertunjukan evaluasi yang menohok!


@ganeshaputera
Co Founder kickoffindonesia.com
Pusat Kepelatihan Sepakbola

Lanjutkan Membaca ↓
Lebih Dekat dengan Sandy Walsh (Part 2), Beragam Alasan untuk Bisa Bela Timnas Indonesia