Thailand Seret Penyala Flare di Final Piala AFF ke Pengadilan

Oleh Aning Jati pada 20 Des 2016, 13:15 WIB
Diperbarui 20 Des 2016, 13:15 WIB
Flare di Stadion Rajamangala, Bangkok
Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) dan kepolisian Thailand bereaksi keras dengan insiden penyalaan flare di Stadion Rajamangala (17/12/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Bangkok - Timnas Thailand sudah sukses mempertahankan gelar juara Piala AFF dengan menjadi kampiun Piala AFF 2016. Namun, ada hal yang membuat Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) dan pihak kepolisian Thailand berang.

Seperti dilansir dari Bangkok Post, Selasa (20/12/2016), FAT kecewa berat dengan adanya flare yang menyala di Stadion Rajamangala, Bangkok, saat menjamu Indonesia di leg kedua final Piala AFF (17/12/2016). Flare terlihat menyala sesaat setelah Siroch Chatthong menjebol gawang Kurnia Meiga menjadikan skor 1-0 untuk keunggulan tuan rumah.

Timnas Thailand akhirnya mengalahkan Indonesia dengan skor akhir 2-0 lewat dua gol yang seluruhnya dilesakkan Siroch Chatthong.

Disinyalir, flare menyala di tribune yang diduduki kelompok suporter yang menamakan diri Ultra Thailand. Saking kesalnya, kepolisian Thailand menyebut para pelaku penyala flare sebagai orang tidak waras.

"Saya yakin orang-orang "sakit" itu bertujuan mendiskreditkan FAT dan merusak reputasi negara," kata Piyapan Pingmuang, juru bicara kepolisian.

Sesuai regulasi, insiden ini bisa membuat FAT dijatuhi hukuman oleh FIFA atau AFC dengan sanksi denda berkisar 25 ribu hingga 50 ribu swiss franc (sekitar Rp 325 juta-Rp 650 juta) serta sanksi larangan menjamu lawan dengan penonton, hingga larangan jadi tuan rumah.

Namun, bukan sanksi yang membuat FAT dan kepolisian bereaksi keras. FAT yang bekerja sama dengan aparat kepolisian sama sekali tidak menoleransi aksi seperti penyalaan flare karena memang ingin menegakkan aturan dan meminta suporter mematuhi aturan.

Apalagi, Thailand masih dalam suasana berkabung atas mangkatnya Raja Bhumibol Abdulyadej pada 13 Oktober 2016. Pemerintah Thailand bahkan secara khusus meminta warganya untuk merayakan pergantian tahun nanti dengan cara-cara bijaksana karena Negeri Gajah Putih masih dalam masa 100 hari berkabung.

"Selebrasi mereka sangat berlebihan. Menang atau kalah, Anda tidak bisa bertindak seperti itu. Kami bahkan meminta masyarakat untuk tidak menyalakan kembang api selama perayaan tahun baru," ujar Piyapan Pingmuang.

Presiden FAT, Somyot Poompunmuang, meminta kepolisian mengusut insiden ini hingga tuntas. Mengejar dan menjatuhi hukuman kepada para pelaku.

"Kejadian ini seperti menampar muka saya dengan keras. Saya minta polisi mengejar kasus ini hingga tuntas," kata Somyot Poompunmuang, yang pernah jadi kepala kepolisian Thailand.

Di sisi lain, kepolisian Thailand membantah adanya flare dalam stadion karena kelengahan mereka dalam menerapkan prosedur kepada calon penonton yang akan masuk stadion.

Saat ini pihak kepolisian sedang mengumpulkan bukti untuk mengambil tindakan hukum pada para terduga pelaku. "Kami memiliki nama-nama anggota kelompok itu dan segera mengeluarkan surat panggilan kepada mereka," imbuh Piyapan Pingmuang.

Bila terbukti, para pelaku bisa diseret ke pengadilan dengan tuduhan menciptakan gangguan keamanan. Sebelumnya, FAT sempat menawarkan hadiah sebesar 30 ribu baht thailand (Rp 11,2 juta) kepada mereka yang bisa memberikan informasi terkait pelaku penyala flare.