5 Bintang Sepak Bola Indonesia yang Gagal Bersinar pada 2016

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 31 Des 2016, 09:30 WIB
Diperbarui 31 Des 2016, 09:30 WIB
5 Bintang Indonesia yang meredup di 2016
5 Bintang Indonesia yang meredup di 2016. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Tahun 2016 menjadi tahun kebangkitan sepak bola Indonesia yang berhasil lepas dari sanksi FIFA. Para pemain Indonesia dapat kesempatan bermain sejak awal tahun dalam turnamen yang diakhiri TSC 2016. Namun, ada sejumlah pemain yang gagal memperlihatkan sinar kebintangannya tahun ini, termasuk bersama Timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

TSC 2016 menjadi turnamen jangka panjang layaknya sebuah liga yang menyelamatkan para pemain dari kemungkinan tidak bisa bekerja. Selama kurang lebih delapan bulan TSC 2016 bergulir, sejumlah kejutan terlihat.

Persija Jakarta, tim besar asal ibu kota, gagal tampil mengesankan dan harus finis di posisi papan bawah. Sementara itu, Madura United mampu bersaing di papan atas klasemen meski pada akhirnya Persipura Jayapura yang menjadi juara.

Selain itu ada Piala AFF 2016 yang menjadi ajang kejutan bagi Timnas Indonesia. Dengan persiapan yang begitu minim usai lepas dari sanksi FIFA, Alfred Riedl sang pelatih kepala harus memutar otak lebih keras karena klub-klub Indonesia menolak melepas pemain lantaran keikutsertaan di TSC 2016.

Jalan keluarnya, klub hanya akan melepaskan dua pemain untuk Timnas Indonesia yang tengah mempersiapkan diri untuk Piala AFF 2016.

Kondisi tersebut membuat banyak bintang sepak bola Indonesia kehilangan kesempatan untuk mencoba peruntungan masuk dalam skuat Timnas Indonesia yang kurang lebih melakukan empat sesi pemusatan latihan dan empat laga uji coba.

Selain tak cemerlang di level klub, ada pula pemain yang akhirnya bisa menembus masuk Timnas Indonesia tapi gagal mereplikasi kecemerlangan selama persiapan saat harus tampil di pertandingan resmi dalam turnamen sepak bola Asia Tenggara itu.

Bola.com memilih lima pemain bintang yang dinilai gagal mempertahankan sinar kebintangannya di lapangan hijau sepanjang 2016.

2 dari 6 halaman

Bambang Pamungkas

Bambang Pamungkas
Bambang Pamungkas. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Ikon Persija Jakarta ini harus diakui sudah tidak muda lagi karena usianya genap 36 tahun pada 10 Juli 2016. Namun, keberadaannya di skuat Macan Kemayoran di TSC 2016 memang harus diakui cukup sentral, terutama bagi para pemain muda.

Bambang Pamungkas kehilangan kesempatan untuk menjadi pemain inti secara reguler di skuat Persija. Manajemen Persija membuat lini depan Macan Kemayoran semakin gemuk di awal putaran kedua TSC.

Mulai dari hadirnya Djibril Coulibaly dan Rodrigo Tosi sebagai duo pemain asing baru, yang kemudian disusul kehadiran Emmanuel Kenmogne yang menggantikan Coulibaly yang dicoret karena tidak memenuhi standar target Persija. Kemudian dilanjutkan dengan kembalinya Greg Nwokolo ke skuat klub ibu kota.

Bepe semakin tersisih dengan kehadiran Tosi, Kenmogne, dan Greg. Belum lagi ada Rachmat Afandi yang juga menjadi salah satu pilihan di lini depan Persija. Gemuknya lini depan Persija pun membuat Bambang yang tak lagi muda pun kian tersisih.

Situasi tersebut tentu menjadi sangat kontras dengan banyaknya permintaan Jakmania yang ingin Bambang Pamungkas kembali ke Persija sebelum TSC 2016 dimulai. Bepe tampak seperti tidak mampu mewujudkan harapan para pendukung Persija itu.

Namun, keberadaan Bepe tetap dipertahankan oleh klub, dan para Jakmania pun tetap mendukung keberadaan Bepe di dalam tim kesayangan mereka. Bahkan Pelatih Persija di putaran kedua TSC 2016, Muhammad Zein Alhadad, sampai mengeluarkan pernyataan mengenai pentingnya Bepe di skuat Persija.

"Bambang Pamungkas adalah sosok yang masih dibutuhkan oleh tim ini. Ia adalah sosok yang bisa menyatukan semua pemain di skuat Persija, baik pemain muda, senior, dan pemain asing," ujar pelatih yang akrab disapa Mamak itu.

Hingga akhirnya TSC berakhir, Bepe tercatat hanya berhasil mencetak satu gol dan dua assist dalam 21 pertandingan yang dimainkannya. Kebanyakan bermain sebagai pemain pengganti, Bepe hanya berhasil menjebol gawang Barito Putera yang berhasil mengantar Persija menang 3-2 di Stadion Manahan Solo pada 9 Oktober 2016.

Sebagai seorang striker, raihan satu gol dalam satu musim kompetisi tentu sangat mengecewakan. Namun, sebagai salah satu pemain panutan dalam sepak bola Indonesia, harus diakui bahwa Bepe memang merupakan sosok yang bisa menyatukan para pemain dalam satu tim meski pada akhirnya Persija harus finis di papan bawah klasemen TSC 2016.

3 dari 6 halaman

Achmad Jufriyanto

Achmad Jufriyanto
Achmad Jufriyanto. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bek Sriwijaya FC ini diharapkan bisa bermain bagus dan menjadi salah satu pemain yang bisa membantu Laskar Wong Kito mengejar trofi juara di TSC 2016. Namun, Achmad Jufriyanto justru gagal membantu Sriwijaya FC mendapatkan gelar juara.

Tim asuhan Widodo C Putro kerap mengalami kekalahan atau gagal meraih kemenangan karena tidak bisa mempertahankan keunggulan yang sudah didapatkan. Tak jarang kegagalan tersebut karena disebabkan oleh rapuhnya pertahanan pada pengujung laga.

Untuk yang lebih personal, Achmad Jufriyanto adalah pemain dengan jumlah peringatan dari wasit yang cukup banyak. Dalam 25 pertandingannya bersama Sriwijaya FC di TSC, 63 pelanggaran dilakukan pemain yang akrab disapa Jupe itu. Itu tak lepas dari kesuksesan tekel yang tidak lebih dari 50 persen.

Meski tidak memiliki catatan buruk tanpa adanya kartu meraih, 10 kartu kuning didapatkan oleh Jupe dalam 25 pertandingan yang diikutinya. Selain itu Jupe juga gagal membantu timnya terhindar dari jumlah kebobolan yang besar.

Total 62 gol ke gawang lawan adalah jumlah yang cukup besar, di mana SFC dan Pusamania Borneo FC menjadi dua tim dengan jumlah gol terbanyak sepanjang TSC 2016 dengan catatan tersebut. Namun, kebobolan 39 gol juga jelas menggambarkan Jupe dkk. gagal mengantisipasi serangan lawan dengan baik.

4 dari 6 halaman

Ramdani Lestaluhu

Ramdani Lestaluhu
Ramdani Lestaluhu. (Bola.com/Romi Syahputra)

Masih dari Persija Jakarta, kali ini ada nama Ramdani Lestaluhu. Pemain mungil yang memiliki kecepatan yang sangat baik ini pun gagal mempertahankan kecemerlangannya di TSC 2016. Ramdani sempat berniat hengkang dari Persija pada Juli 2016 dengan isyarat ada orang yang memiliki dendam kepadanya di dalam skuat Macan Kemayoran.

Namun, selepas kepergian pelatih Paulo Camargo dari Persija, Ramdani tetap berada di skuat Macan Kemayoran. Ramdani tetap berada di Persija, tapi kerap tidak dimainkan sejak awal pertandingan.

Kehilangan cukup banyak menit bermain bersama skuat Macan Kemayoran di TSC 2016 ikut andil membuat Ramdani gagal mengesankan di TSC 2016. Kendati bermain cukup baik ketika dipercaya turun ke lapangan, Ramdani bisa dibilang tidak menjadi pemain yang istimewa bagi Persija di TSC 2016.

Pemain bertubuh mungil itu hanya mencetak dua gol dari 23 pertandingan bersama Persija yang diikutinya. Sebagai seorang gelandang serang, raihan tersebut tentu sangat buruk. Belum lagi catatannya dalam membantu tim menjalankan skema permainan yang baik.

Dari catatan statistik performa Ramdani Lestaluhu, disimpulkan pemain asal Tulehu tersebut tidak mencatat kesuksesan akurasi tembakan mencapai lebih dari 50 persen. Bahkan sebagai pemain yang dipercaya menjadi pemain sayap di lini tengah Persija, akurasi umpan silang yang dilepas cukup buruk, 20 persen.

Namun, harus diakui bahwa catatan buruk Ramdani itu bukan disebabkan oleh buruknya performa sang pemain. Kegagalan Persija sebagai sebuah tim besar yang bisa bicara banyak di TSC 2016 juga jelas menjadi faktor utama.

Semua pemain Persija gagal mengangkat performa tim sepanjang TSC 2016. Namun, harus diakui sebagai salah satu pemain bintang yang dimiliki Macan Kemayoran, Ramdani memang tidak bisa membuat perbedaan berarti pada turnamen panjang yang digelar sebagai pengganti liga pada 2016.

5 dari 6 halaman

Samsul Arif

Samsul Arif
Samsul Arif. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pemain depan Persib Bandung ini gagal bersinar karena cukup banyak hal. Salah satunya jelas kesempatan bermain sebagai pemain utama yang sangat minim. Persib kerap memainkan Sergio van Dijk sebagai striker tunggal sepanjang TSC 2016 dan Samsul Arif kerap bermain hanya sebagai pemain pengganti.

Imbasnya cukup besar bagi pemain berusia 31 tahun itu. Sepanjang TSC 2016, Samsul Arif hanya berhasil mencetak dua gol dan dua assist dalam 23 pertandingan yang sebagian besar dilakukan pemain kelahiran Bojonegoro itu sebagai pemain pengganti pada babak kedua.

Tak hanya mendapatkan menit bermain yang minim dalam tim asuhan Djadjang Nurdjaman pada TSC 2016, secara pribadi persentase performa Samsul Arif di lapangan pun tidak terlalu istimewa. Akurasi tembakan yang dilakukan Samsul tak lebih dari 60 persen, di mana itu memperlihatkan bahwa Samsul banyak membuang kesempatan untuk mencetak gol.

Salah satu dampak terburuk dari kegagalan Samsul cemerlang bersama Persib adalah pemain berusia 31 tahun itu pun gagal masuk dalam skuat Timnas Indonesia asuhan Alfred Riedl sejak persiapan menuju Piala AFF 2016.

Peraturan satu klub hanya memberikan dua pemain untuk Timnas Indonesia membuat Samsul Arif kalah saing dengan Zulham Zamrun dan Rudolof Yanto Basna yang dikirim oleh Persib karena permintaan Alfred Riedl.

Sebenarnya nama Samsul Arif pun sudah masuk dalam 40 pemain yang didaftarkan oleh PSSI kepada AFF atas permintaan Alfred Riedl. Namun, hingga akhirnya Timnas Indonesia berangkat ke Filipina untuk menjalani babak grup Piala AFF 2016, Samsul tetap gagal mendapatkan kesempatan untuk bisa bergabung dengan Tim Garuda.

6 dari 6 halaman

Zulham Zamrun

Zulham Zamrun
Zulham Zamrun. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pemain yang pernah cemerlang bersama Mitra Kukar ini gagal memenuhi ekspektasi pada TSC 2016. Zulham Zamrun hanya tampil sebanyak 15 kali untuk Persib Bandung di turnamen pengganti liga pada 2016 itu.

Tak berbeda dengan Samsul Arif yang performanya menjadi merosot karena terbatas menit bermain, Zulham pun akhirnya hanya berhasil mencetak dua gol dan dua assist sepanjang TSC 2016. Bahkan akurasi tembakan pemain yang memperkuat Timnas Indonesia sejak 2011 itu sangat buruk, hanya 48 persen.

Tidak berhasil cemerlang di level klub, Zulham Zamrun memiliki kesempatan untuk membuktikan kualitasnya di level Timnas Indonesia. Pemain kelahiran Ternate ini mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan tim asuhan Alfred Riedl sejak masa persiapan atau pemusatan latihan.

Zulham bahkan kerap mendapatkan kesempatan menjadi pemain inti dalam skuat Timnas Indonesia saat melakukan laga uji coba jelang keberangkatan tim menuju Piala AFF 2016. Namun, saat akhirnya turnamen sepak bola Asia Tenggara itu bergulir, Zulham justru masuk sebagai anggota tim pelapis.

Namun, ia tetap beruntung. Alfred Riedl tetap mempercayakannya sebagai salah satu dari tiga pemain yang kerap dimainkan sebagai pemain pengganti dalam banyak pertandingan. Bahkan ia menjadi pemain inti di leg kedua final Piala AFF 2016, menyingkirkan Bayu Gatra, saat Andik Vermansah mengalami cedera di laga leg pertama final Piala AFF 2016.

Sayangnya performa Zulham Zamrun dinilai tidak maksimal saat mendapatkan kesempatan untuk bisa tampil membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Sejak babak grup hingga pertandingan puncak yang berakhir dengan Tim Garuda menjadi runner-up, Zulham kerap menjadi target cemooh dari para penggemar Timnas Indonesia.

Zulham pernah dianggap sebagai biang kegagalan Timnas Indonesia meraih kemenangan saat harus menghadapi Timnas Filipina di pertandingan kedua babak grup. Pelanggarannya terhadap Phil Younghusband di dekat kotak penalti membuat gawang Timnas Indonesia harus bobol melalui tendangan bebas sang kapten tim tuan rumah.

Selain itu, di pertandingan lain pun Zulham tidak bisa memperlihatkan permainan yang memuaskan dan kerap membuang kesempatan dan kehilangan bola ketika si kulit bundar berada di kakinya. 2016 tampaknya memang bukan menjadi tahun yang baik bagi Zulham Zamrun meski berhasil masuk dalam Timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

Lanjutkan Membaca ↓
Lebih Dekat dengan Sandy Walsh (Part 2), Beragam Alasan untuk Bisa Bela Timnas Indonesia