Menguak Fenomena Kelam Pemecatan Pelatih di Awal Liga 1

Oleh Ario Yosia pada 10 Mei 2017, 08:04 WIB
Diperbarui 10 Mei 2017, 08:04 WIB
Liga 1 2017
Kursi panas pelatih di Liga 1 2017. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Klub-klub kasta elite Tanah Air dikenal kejam terhadap pelatih. Cerita-cerita sedih pemecatan pelatih di tengah kompetisi berjalan selalu mucul di tiap musimnya. Tak terkecuali di pentas Liga 1 2017 ini.

Sudah tiga pelatih dipaksa lengser, karena grafik performa tim yang diasuhnya jeblok di awal musim. Timo Scheunemann (Persiba Balikpapan), Hans Peter Schaller (Bali United), dan Laurent Hatton (PS TNI) harus menepi secara paksa di liga yang belum sampai seperapat jalan.

Hans Peter Schaller yang didapuk manajemen Bali United menggantikan Indra Sjafri yang diangkat sebagai arsitek Timnas Indonesia U-19, hanya bertugas di tim kurang lebih tiga bulan saja.

Pelatih yang jadi asisten Alfred Riedl di Timnas Indonesia saat tampil di Piala AFF 2016 mendapat warning lampu kuning ketika gagal meloloskan Bali United gagal di fase penyisihan turnamen pramusim Piala Presiden 2017. 

Hans Peter Schaller (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Dan benar saja, tanpa ampun manajemen Serdadu Tridatu memecat Peter seusai tim kalah beruntun di dua laga awal Liga 1 2017. Irfan Bachdim dkk. digasak Persipura Jayapura 1-2 dan Madura United 2-0. Tim sempat terpuruk di posisi juru kunci.

Pencapaian yang tidak bisa diterima petinggi klub, mengingat Bali United terhitung agresif mendatangkan banyak pemain baru dengan kualitas wahid jelang Liga 1 2017.

Gagalnya Peter di Bali United konon karena pemain kesulitan berdaptasi dengan perubahan formasi main dari 4-3-3 yang mengakar di era Indra Sjafri ke 4-4-2. Sebagian besar pemain tidak merasa nyaman dengan perubahan ini.

Bali United kemudian menunjuk Eko Purjianto (asisten pelatih) sebagai caretaker. Rumor berhembus kalau klub yang dimiliki pengusaha perhotelan Yabes Tanuri itu berniat mendatangkan Widodo C. Putro. Calon pelatih baru juga baru terdepak dari Sriwijaya FC usai Piala Presiden.

2 dari 5 halaman

Derita Pelatih Tim Musafir

Timo Scheunemann
Timo Scheunemann (Bola.com/Iwan Setiawan)

Derita dirasakan Timo Scheunemann di Persiba. Ia memutuskan mundur dari posisi pelatih kepala Tim Beruang Madu setelah tim kalah tipis 0-1 dari Arema FC.

Arsitek berdarah Jerman tersebut dihadapkan situasi yang tidak menguntungkan. Persiba harus jadi tim musafir karena Stadion Batakan, Balikpapan, yang disiapkan jadi kandang klub proses pembangunannya belum kelar.

Persiba harus mengungsi ke Stadion Gajayana, Malang. Dukungan suporter amat minim.

Saat menghadapi Arema, mereka semestinya berstatus sebagai tuan rumah. Namun, stadion justru dipenuhi suporter Tim Singo Edan.

Timo sempat menangis usai pertandingan kontra Arema. Ia kemudian menyampaikan pernyataan mundur lewat Twitter pribadinya. "Persiba akan lebih baik meski tanpa saya. Karena grafik permainannya memang sudah menanjak," katanya.

Di tangan Timo Persiba kalah tiga laga beruntun. Mereka takluk 0-2 dari Persija Jakarta, 1-2 versus Perseru Serui, serta 0-1 kontra Arema FC.

Laurent Hatton di PS TNI juga tak kalah apes. Nakhoda asal Prancis itu secara tiba-tiba dilengserkan dan digantikan Ivan Kolev seusai PS TNI menjalani dua laga.

Penampilan Manahati Lestusen dkk. sejatinya tidak bisa dibilang tampil mengecewakan. Mereka meraih dua hasil imbang 2-2 kontra Pusamania Borneo FC dan Persib Bandung.

Rumor tak sedap berhembus menyebut kalau Laurent dicopot dari jabatannya karena ia kesulitan berkomunikasi dengan para pemainnya. Bahasa Inggrisnya kurang bagus, sehingga para pemain kesulitan memahami keinginannya.

Ivan Kolev yang matang jam terbang di Indonesia dinilai sosok yang lebih pas untuk menukangi PS TNI. Pelatih asal Bulgaria tersebut sempat menukangi Timnas Indonesia, Persija, Persipura Jayapura, Mitra Kukar, dan Sriwijaya FC. Hanya ia punya catatan minor di negaranya baru-baru ini.

3 dari 5 halaman

Pemain Lebih Penting

Angel Alfredo Vera
Angel Alfredo Vera (Bola.com/Nicklas Hanatubun)

Jika mau mundur ke belakang, Angel Alfredo Vera sukses mempersembahkan gelar Torabika Soccer Championship 2016 buat Persipura, secara tiba-tiba didepak oleh manajemen Mutiara Hitam hanya berselang dua hari jelang kick-off Liga 1 2017. 

Alasan lisensi dipakai untuk melengserkan sang pelatih. Alfredo membantah alasan tersebut. "Ada persoalan lain yang tidak bisa saya buka," kata pria asal Argentina tersebut.

Sejak akhir musim lalu Alfredo konon seringkali terlibat percekcokan dengan petinggi Persipura. Ketua Umum Persipura, Tommy Mano, sempat melontarkan pernyataan nyinyir saat acara penyerahan bonus juara TSC.

"Persipura besar bukan karena pelatih. Saya mengambil contoh Jacksen F. Tiago besar karena kami, bukan sebaliknya," ucap Tommy sambil melirik Alfredo Vera yang ada di dekatnya.

Intinya Tommy ingin mengarisbawahi kalau pencapaian Persipura (5 gelar kasta tertinggi) bukan karena kehadiran pelatih, tapi karena mereka memiliki pemain-pemain dengan kualitas di atas rata-rata.

Siapapun pelatihnya kerjanya lebih mudah karena adanya Boaz Solossa cs. Pernyataan yang terkesan arogan namun terasa masuk akal.

Sebelum Alfredo, Persipura tanpa ragu-ragu memberhentikan Jacksen Tiago di pengujung Indonesia Super League 2014. Kala itu tim berpeluang besar jadi juara kompetisi.

Manajemen Persipura kesal karena Jacksen kerap meninggalkan tim untuk kegiatan pribadinya. Mereka mendapat informasi hati pelatih asal Brasil itu sudah tidak di Persipura.

Padahal di tangan Jacksen Persipura juara tiga kali ISL (2008-2009, 2010-2011, 2013). Hal yang sangat ironis karena di era Jacksen, Persipura sukses melakukan regenerasi pemain.

Ketika pemain-pemain senior macam Eduard Ivakdalam, Ortizan Solossa, menua Jacksen dengan berani memunculkan pemain-pemain muda untuk mempertahankan hegemoni tim.

"Sudahlah tak perlu bicara tentang Persipura. Klub tersebut sudah menjadi bagian masa lalu. Saya tidak ingin memperburuk hubungan dengan manajemen Persipura," ujar Jacksen kepada Bola.com dalam sebuah perbincangan santai.

Kasus yang dialami Jacksen F. Tiago menjadi salah satu contoh begitu panasnya posisi pelatih di Indonesia. Posisi mereka tidak pernah aman. Tuntutan prestasi amat tinggi, para nakhoda harus berkompromi dengan hal-hal nonteknis dengan manajemen klub.

4 dari 5 halaman

Mereka yang Terancam

Stefano Teco Cugurra
Stefano Teco Cugurra (Bola.com/Nicklas Hanatubun)

Gelombang pemecatan pelatih di awal musim Liga 1 2017 diyakini belum akan berakhir. Setidaknya ada tiga pelatih dalam kondisi rawan pecat seiring hasil-hasil negatif tim yang diasuhnya.

Arsitek Persija Jakarta, Stefano Teco Cugurra, jadi salah satu komandan yang posisinya rawan geser. Tim Macan Kemayoran kini berada di posisi 14 klasemen sementara. Di luar harapan manajemen baru yang ingin klub ibu kota bisa meramaikan persaingan papan atas.

Posisi Teco terpojok pasca dua hasil kurang memuaskan di kandang. Bambang Pamungkas dkk. kalah 0-1 dari Madura United serta bermain imbang 1-1 kontra Barito Putera di Stadion Patriot, Bekasi.

Di sisi lain, Persija juga digasak PSM Makassar 0-1 di kandang lawan. Mereka baru sekali meraih kemenangan, yakni saat tandang ke markas Persiba Balikpapan dengan skor tipis 1-0.

Teco yang terakhir tercatat jadi pelatih klub Thailand, Royal Thai Navy, kabarnya mulai dipercayai pemain. Nakhoda yang pernah jadi asisten Jacksen F. Tiago di Persija Jakarta pada musim 2004 silam mulai dimusuhi sejumlah pemain senior, yang minim jam terbang bertanding.

Sebut saja gelandang sayap, Ramdani Lestaluhu yang di Liga 1 2017 jadi spesialis cadangan. Pemain asal Tulehu, Maluku, musim lalu juga bermasalah dengan Paulo Camargo, yang dipecat karena gagal mengatrol posisi Persija ke papan atas.

Pertandingan tandang Persija Jakarta kontra Persela Lamongan di Stadion Surajaya pada Selasa (10/5/2017) amat mungkin akan jadi hari penghakiman bagi Teco. Jika Macan Kemayoran kembali meraih hasil negatif, pintu keluar agaknya bakal dibuka lebar-lebar oleh manajemen.

Situasi kurang lebih sama mengiringi Oswaldo Lessa di Sriwijaya FC. Ia dalam tekanan karena permainan Laskar Wong Kito tak terlihat stabil.

Sriwijaya FC bahkan sempat kalah 1-2 dari Bhayangkara di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, pada (3/5/2017). Kekalahan ini jadi aib bagi suporter, mengingat Alberto Goncalves cs. dikenal amat perkasa kalau bermain di hadapan pendukungnya sendiri.

Lessa, sampai perlu meminta maaf kepada Sriwijaya Mania atas hasil jelek tersebut. "Kekalahan ini menjadi tanggung jawab saya sebagai pelatih. Para pemain telah bekerja keras tapi hasil akhir pertandingan tidak berpihak pada kami," ujar pelatih yang dilengserkan Persipura Jayapura seusai turnamen Bhayangkara Cup 2016 karena alasan prestasi.

5 dari 5 halaman

Sokongan Dana Minimalis

Oswaldo Lessa
Oswaldo Lessa (Bola.com/Nicklas Hanatubun)

Pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy sempat melontarkan simpati pada Oswaldo Lessa. Ia menyebut tekanan melatih di klub-klub Indonesia amat tinggi.

"Sebelum pertandingan kami sempat berdiskusi, berbincang soal beratnya melatih di Indonesia. Hasil-hasil buruk secara beruntun membuat posisi kami tidak aman. Kabar pemecatan bisa datang kapanpun. Saya bisa memahami apa yang dirasakan Oswaldo saat ini," ujar pelatih asal Skotlandia yang pernah merasakan pahitnya tersingkir dari Mitra Kukar serta Pelita Bandung Raya beberapa tahun silam.

Oswaldo Lessa bisa sedikit bernafas lega setelah Sriwijaya FC menang 2-0 di markas Persiba Balikpapan pada Selasa (9/5/2017). Namun, bukan berarti posisinya safety, Sriwijaya FC yang selama ini dikenal sebagai pelanggan papan atas sudah barang tentu punya ekspetasi tinggi di Liga 1 2017. Mereka ingin menjadi juara. Peluang ke arah sana untuk saat ini belum terlihat.

Di sisi lain perasaan was-was dirasakan Hanafi di Persegres Gresik United. Klub yang diasuhnya saat ini menghuni posisi juru kunci klasemen.

Persegres punya track record tak bersahabat dengan pelatih. Musim 2016 lalu, Liestiadi didepak di pertengahan putaran pertama kompetisi. Tuntutan dari kelompok suporter amat tinggi ke pengurus klub. Padahal klub satu ini bisa dibilang amat minimalis dalam pendanaan.

"Sulit bagi saya untuk bisa berkreasi karena minimnya pemain sarat reputasi di tim. Bujet belanja pemain yang dianggarkan tidak besar," ucap Liestiadi yang kini menukangi Persipura.

Hanafi pun menghadapi situasi yang sama. Ia juga tidak diuntungkan dengan jadwal pertandingan klubnya yang amat rapat di awal musim. "Pemain saya tidak mendapat waktu istirahat yang cukup. Mereka tampil dalam kondisi tidak prima. Kalau diminta mundur saya siap. Kondisi yang dihadapi tim ini jauh dari kata ideal," papar Hanafi.

Bisa dibayangkan betapa tinggi tekanan yang dihadapi pelatih di klub-klub Liga 1 2017. Manajemen klub ingin prestasi instan, mereka tak ingin kehilangan muka di hadapan suporter yang dikenal rata-rata kritis bersuara. Para pelatih yang dinilai tak mampu menyajikan hasil positif harus siap kehilangan kursi jabatan. Alamak.

Lanjutkan Membaca ↓