24 Pelamar Calon Sekjen PSSI Ikut Psikotes

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 22 Mei 2017, 19:15 WIB
Diperbarui 22 Mei 2017, 19:15 WIB
PSSI
PSSI. (Bola.com / Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Jakarta - Sebanyak 24 pelamar untuk posisi Sekjen PSSI mengikuti psikotes di Kantor PSSI di Gedung Gran Rubina, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (22/5/2017). Psikotes ini menjadi rangkaian pertama dari tiga rangkaian yang dilakukan oleh PSSI untuk mencari sekjen baru setelah mundurnya Ade Wellington.

Psikotes calon Sekjen PSSI digelar mulai pukul 09.00 WIB, dengan delapan pelamar mengundurkan diri karena sejumlah alasan pribadi. Ada beberapa aspek yang dinilai dari psikotes tersebut. Antara lain tes intelejensia, tes kepribadian, tes grafis, tes integritas, dan tes ketenangan stres.

"Penting untuk mengetahui saat bekerja apakah motivasi, semangat, dan keinginannya yang lebih dominan atau perasaan yang lebih dominan. Kami juga ukur tingkat stresnya karena tak mudah menjadi seorang sekjen. Wawasan seorang sekjen juga harus luas, bagaimana kontaknya dengan lingkungan, bagaimana membangun relasi, dan bagaimana memelihara hubungan baik dengan orang lain seperti Asprov PSSI, Exco, atau FIFA dan AFC," ujar Ketua Departemen Personalia PSSI, Ashari Joni.

Rencananya setelah melakukan psikotes, 24 pelamar Sekjen PSSI ini akan melakukan tes kesehatan di Rumah Sakit Mayapada di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Dari dua tes tersebut akan disaring calon Sekjen PSSI yang akan mengikuti tes kompetensi dengan metode in depth interview.

"Semua yang hadir di sini akan mengikuti tes kesehatan. Setelah psikotes dilakukan hari ini, hasilnya akan kita lihat malam ini. Jadi besok setelah tes kesehatan ada hasilnya, sudah bisa ditentukan siapa saja yang lolos ke fase berikutnya, yaitu tes kompetensi," ujar Ashari Joni.

Metode penentuan Sekjen PSSI dengan cara menyaring pelamar adalah cara baru yang dilakukan dalam sejarah organisasi PSSI. Ashari Joni mengaku metode ini lebih baik dan sempurna. Dengan pengalaman yang sudah dilakukan melalui metode psikotes dan tes kompetensi, Ashari menjamin tingkat keberhasilan yang dicari mencapai 80 persen.

"Jika mencari Sekjen PSSI yang hanya punya kedekatan dengan ketua umum, tapi tidak bisa membina hubungan baik dengan wartawan atau stakeholder sepak bola, ya buat apa? Sekjen PSSI harus bisa memahami semua aspek. Kompetensi yang dibutuhkan dan yang tahu adalah para anggota Komite Eksekutif PSSI karena mereka yang tahu bagaimana kualitas mereka. Namun, ketika bicara kompetensi perilaku manusia, sisi psikologi yang dibutuhkan," ujarnya.

Salah satu peserta psikotes untuk menjadi Sekjen PSSI adalah mantan Sekjen Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Hifni Hasan. Dengan pengalaman yang sudah dimilikinya bersama KOI, Hifni merasa yakin punya kapabilitas untuk memikul tanggung jawab di PSSI.

"Saya ingin membantu kelembagaan PSSI menjadi lebih kuat dan saya yakin bisa melakukannya karena saya sudah mengikuti perkembangan PSSI sejak era reformasi. Saya punya pengalaman dengan KOI jadi saya punya kecepatan untuk langsung belajar dan mengikuti perkembangan. KOI dan PSSI tak begitu berbeda, jadi tidak akan sulit," ujarnya di Kantor PSSI.

 

 

 

Tag Terkait

Lebih Dekat dengan Sandy Walsh (Part 2), Beragam Alasan untuk Bisa Bela Timnas Indonesia