Purwaka Yudhi Pasang Badan dari Kritikan Aremania

Oleh Iwan Setiawan pada 22 Jan 2018, 20:30 WIB
Diperbarui 22 Jan 2018, 20:30 WIB
Purwaka Yudhi
Purwaka Yudhi (kanan) pasang badan atas kritikan dari Aremania pasca hasil imbang melawan Persela. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Malang - Arema FC berusaha melupakan skor 2-2 yang diperoleh pada laga pertama Grup E Piala Presiden 2018 di Stadion Gajayana, Malang, Sabtu (20/1/2018). Raihan satu poin memang membuat mereka kecewa. Apalagi gol penyeimbang Persela lahir dari kesalahan bek pengganti M. Zaenuri yang menanduk bola ke gawang sendiri.

Cacian pun mengalir deras kepada Zaenuri. Namun, bek senior Arema, Purwaka Yudhi, mencoba untuk menetralisiasi keadaan.

"Kami tahu hasil melawan Persela tidak sesuai harapan. Tapi, sekarang harus fokus ke depan karena masih ada dua pertandingan tersisa," kata pemain 33 tahun tersebut.

Purwaka melihat di media sosial banyak yang menganggap Zaenuri sebagai penyebab hilangnya kemenangan Arema yang sudah di depan mata.

Selain itu, strategi pergantian pelatih Joko Susilo juga ikut dikritisi karena pergantian pemain di pengujung pertandingan dianggap gagal.

"Sebenarnya tidak tepat mencari kesalahan dengan menghamiki seperti itu karena tidak ada pemain, pelatih, manajemen, dan Aremania yang ingin kalah atau imbang. Semua ingin menang. Jadi, sekarang harus menatap ke depan untuk mencari ganti poin yang hilang untuk lolos ke fase selanjutnya," kata pemain asal Lampung ini.

Purwaka justru khawatir jika hujatan yang berlebihan kepada Zaenuri juga berimbas kepada pemain muda yang lain. Hal ini berarti, pemain yang belum terbiasa dengan tekanan dari Aremania akan grogi di lapangan saat dapat kesempatan.

"Arema ini seperti keluarga. Kalau ada satu sakit, semua akan merasakan sakitnya. Kalau satu senang, semua ikut senang," jelasnya.

Arema kini menyisakan dua pertandingan lagi di Grup E, yakni melawan PSIS Semarang (25/1/2018) dan Bhayangkara FC (30/1/2018). Dua laga ini tidak bisa dianggap enteng karena PSIS sudah dua kali uji coba dengan Arema.

Meski kalah, PSIS sudah paham dengan komposisi dan cara bermain Arema sedangkan Bhayangkara juara Liga 1 yang tidak banyak melakukan perubahan komposisi pemain.