Egy Maulana Vikri: Hikayat Si Kelok 9, Dari Medan Menuju Polandia

Oleh Ario Yosia pada 13 Mar 2018, 15:15 WIB
Ario Yosia

Bola.com, Jakarta - Raut muka dan gerak-geriknya menunjukkan usaha kerasnya agar tak terlihat nuansa ketegangan. Sempat melirik ke beberapa rekan, ia akhirnya tersenyum. Tapi bukan senyum 'lurus', melainkan karena sorot kamera. Sebelum itu terjadi, ada momen yang bakal tak terlupakan sepanjang hidupnya.

Ia gemetar sebelum dan tengah berhadapan dengan para jurnalis, plus di depan beberapa fans. Kalau di Indonesia, mungkin tak masalah, tapi ini beda: di Polandia!. Saking tak keruan di isi kepala, ia sampai harus berucap 'bismillah' dan 'astaghfirullah'. Tujuannya satu: menenangkan hati.

Grogi, tegang, gemetar dan bahagia, bercampur menjadi satu. Itulah saat sang mimpi tak lagi menjadi sekadar bayangan di atas kening semata. Ingat film '5 cm' garapan Rizal Mantovani?

Begitulah kira-kira ketika sosok Genta (Fedi Nuril) mengatakan pada rekan-rekannya kalau keinginan ke puncak Mahameru bak berjarak 5 cm saja dari kening.

Selebihnya, guna mengejar jarak '5 cm' itulah butuh kerja keras, determinasi, kesungguhan dan pengorbanan.

Kini, sosok 'ia' dan 'nya' di atas adalah bintang masa depan sepak bola Indonesia, Egy Maulana Vikri. Ia mewujudkan mimpinya bermain di Liga Eropa, sesuatu yang sudah berjarak '5 cm' dari sejak dirinya menggeluti si kulit bundar. Egy ke Eropa, tepatnya ke Polandia.

Egy bergabung dengan Lechia Gdansk. Artinya, sebuah babak baru perjalanan pemain kelahiran Medan, 7 Juli 2000 dimulai.

Hingga resmi membubuhkan tanda tangan kontrak di Lechia Gdansk, pemain yang tampil memesona bersama Timnas Indonesia U-19 tetap jadi sosok rendah hati.

Buat Egy Maulana Vikri terbang ke Eropa menjadi sebuah keputusan besar dalam hidup. Baginya, merantau bukan sesuatu hal yang baru. Egy rela berpisah dengan keluarganya sejak usia 13 tahun saat menuntut ilmu di Diklat Ragunan Jakarta. Namun, kepergian Egy kali ini berbeda.

2 of 7

Mengaji dan Bermain Bola

Egy Maulana mendapat perawatan saat latihan Timnas Indonesia U-19 di NYTC-PSSI Sawangan, Depok, Jumat (3/3/2017). Latihan ini merupakan seleksi tim oleh pelatih Indra Sjafri. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bakat sepak bola Egy menurun dari ayahnya, Syariffudin, seorang pemain bola tak terkenal yang berposisi sebagai striker. Pensiun di dunia sepak bola, sang ayah mendiriman Sekolah Sepak Bola (SSB) Asam Kumbang di Medan. Di sana Egy mendapat dasar permainan si kulit bundar.

Hari-hari Egy dilalui berlatih, berlatih, dan berlatih.  "Aktivitas saya setiap hari sekolah, mengaji, dan bermain bola," cerita Egy. 

Sang ayah sempat merasa frustrasi, dan memutuskan untuk mengubur dalam-dalam impian sang anak jadi pesepak bola. Ia tak bisa lagi percaya dengan janji para pencari bakat guna mengorbitkan Egy, dengan syarat membayar sejumlah uang.

Tapi dasar Egy bandel, ia tetap main bal-balan secara sembunyi-sembuyi, karena sepak bola adalah segalanya. Jalan hidup Egy berubah setelah dirinya bersua Subagja Suihan. Pria yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahan BUMN yang bergerak di bidang jasa konstruksi.

Pekerjaan itu menuntutnya menyatroni banyak daerah-daerah di Indonesia, termasuk Medan, Sumatera Utara, tempat di mana dia menemukan bakat Egy Maulana.

Subagja saat muda sempat bermain bola. Sadar kemampuannya pas-pasan ia pensiun dini. Namun, karena cinta pada sepak bola, ia selalu menyempatkan diri menonton pertadingan di berbagai daerah. Mulai dari kelas tarkam hingga kelas liga profesional.

Sosok yang satu ini yang menemukan bakat playmaker legendaris Timnas Indonesia yang baru saja gantung sepatu, Firman Utina di Manado. Bagja yang sedang menggarap proyek Bandara Kualanamu, secara tak sengaja melihat kemampuan Egy saat menjalani sesi latihan di SSB Tasbih.

Sama seperti saat melihat kemampuan Firman, Bagja yakin Egy punya potensi jadi bintang besar. Ia kemudian mengontak Firman untuk melihat kemampuan Egy.

3 of 7

Mirip Cerita Hidup Messi dan Ronaldo

Gelandang Timnas Indonesia, Egy Maulana, saat tampil melawan Islandia pada laga persahabatan di SUGBK, Jakarta, Minggu (14/1/2018). Timnas Indonesia kalah 1-4 dari Islandia. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Cerita berlanjut hingga Bagja bersua ayah Egy, Syariffudin, meminta izin untuk bisa membawa anaknya ke ibu kota. Pada awalnya Syariffudin berkeras menolak, karena sudah berulangkali dibohongi orang mengaku pencari bakat, ujung-ujungnya meminta duit.

Sambungan telepon ke Firman, membuat Syariffudin berubah pikiran. Ia yakin Egy ada di tangan orang yang tepat.

Waktu berjalan, Subagja jadi sosok yang selalu mendampingi Egy. Ia diberi kepercayaan menjadi ayah angkat. Subagja jadi orang yang mendampingi Egy menggapai mimpinya di Polandia.

Cerita di atas mirip-mirip dengan dengan perjuangan Lionel Messi, jauh hari sebelum jadi superstar dunia.

Pemain penuh bakat alami dari Argentina ini adalah satu diantara sekian banyak pemain sepakbola yang sempat menjalani kehidupan dalam kemiskinan.

Ayahnya hanya seorang pekerja pabrik dan ibunya adalah kebersihan paruh waktu. Ia mengawali kariernya di satu klub lokal Grandrolli sebelum akhirnya pindah ke Old Boys Newell yang tidak jauh berada di dekat rumahnya.

Nasib kurang menyenangkan ketika ia berusia 11 tahun,  ia didiagnosa kekurangan hormon perkembangan. Namun, pada tahun 2012 Messi di ajak oleh saudaranya yang berada di Catalonia untuk mengikuti seleksi di akademi La Masia. Pada saat itu pula Messi di kontrak oleh pihak Klub yang telah membukakan jalannya menuju kesuksesan seperti sekarang.

Cerita pilu juga dialami Cristiano Ronaldo. ia sempat mengalami kehidupan yang sulit bersama keluarga dan saudara-saudaranya. Ayahnya hanya seorang tukang kebun, dan ibunya hanya sebatas tukang masak. Seringkali rumah mereka hancur terkena badai.

Ia memulai kariernya di klub amatir, Andorinha. Dengan bakatnya yang luar biasa, ia menarik perhatian banyak orang dan pemandu bakat dari Sporting Lisbon. CR7 bermain di klub itu selama lima tahun sebelum akhirnya jadi bintang besar di Manchester United dan Real Madrid.

Mungkinkah jalan hidup Egy Maulana Vikri akan akan seperti Messi atau Ronaldo?

4 of 7

Mengekspor bukan Mengimpor

Pesepak bola, Egy Maulana foto bersama fans saat peluncuran Nike Born Mercurial 360 di Fisik Football, Jakarta, Rabu (7/3/2018). Nike merilis model terbaru Nike Mercurial Superfly dan Vapor 360. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Berbeda dengan Ronaldo atau Messi, perjuangan Egy Maulana Vikri ke level top sepak bola dunia lebih terjal. Indonesia bukan Portugal atau Argentina, negara yang masuk percaturan elite sepak bola internasional. Pesepak bola berkualitas dari kedua negara itu seabrek.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pemberitaan sepak bola negara kita di dunia internasional lebih didominasi hal berbau negatif dibanding prestasi sensasional. Mulai dari konflik organisasi, skandal suap, kematian pemain, hingga utang gaji pemain.

Pernah dikenal sebagai negara berjulukan Macan Asia di era 1950 hingga 1960-an, fakta nyatanya Indonesia tidak pernah menjadi kampiun di ajang bergengsi. Jangankan bicara Piala Dunia, untuk kelas regional Piala AFF negara kita hanya mentok sebagai spesialis runner-up.

Agak ironis karena jumlah penggemar sepak bola di Indonesia amat berlimpah. Ketika mereka kecewa negara tercintanya tak pernah jadi tim nomor satu, obat satu-satunya menjadi penghibur lara melihat ada pesepak bola di Indonesia bisa mentas di level dunia.

Pelatih kawakan asal Belanda, Foppe de Haan, yang pernah menukangi Timnas Indonesia U-23 di Asian Games 2006, pernah berujar kalau di negara kita banyak pesepak bola secara individu bertalenta.

"Kalian punya banyak pemain bagus, tapi mereka tidak dibina dengan baik. Semestinya Indonesia tidak menjadi pengimpor pemain, melainkan mengekspor pemain. Kirim banyak pemain ke Eropa agar bakat pemain bertalenta tidak sia-sia. Ketika mereka jadi nanti akan membawa dampak bagi timnas negara Anda," ujar  Foppe sosok yang menemukan bakat Marco van Basten dalam sebuah percakapan santai medio 2007 di Jakarta.

Apa yang dikatankan pria kelahiran 26 Juni 1943 itu masuk akal. Indonesia yang statusnya negara berkembang mirip-mirip negara Afrika macam Kamerun, Pantai Gading, Nigeria atau Amerika Latin seperti, Argentina, Brasil, Uruguay, yang doyan mengimpor pesepak bola ke Benua Eropa, yang jadi Tanah Perjanjian bagi pesepak bola profesional untuk menjadi bintang kaliber dunia.

Mereka tidak bisa membuat kompetisi wah, prestasi timnasnya bisa terkerek karena pemain-pemainnya matang jam terbang di Eropa.

Jauh-jauh hari sebelum Foppe berbicara soal mengekspor pemain, sejatinya sudah ada sederet pesepak bola Indonesia berkelana ke luar negeri.

Iswadi Idris sempat melanglang buana ke Australia membela Western Suburbs (1974-1975), Ricky Yakobi di Jepang Matsushita (1988), Kurniawan Dwi Yulianto di FC Luzern Swiss (1994), hingga yang terakhir Alfin Tuasalamony yang sempat mentas di klub Belgia CS Vise (2011-2013).

Sayangnya tak satupun di antara pesepak bola Indonesia yang ajek, berkarier panjang di luar negeri. Mereka pulang ke Tanah Air dengan membawa cerita tak mengenakkan. Lho kok bisa begitu?

5 of 7

Peran Pendamping

Penyerang muda Timnas Indonesia, Egy Maulana, bersiap mengikuti latihan di SUGBK, Jakarta, Sabtu (13/1/2018). Timnas Indonesia menggelar latihan terakhir sebelum laga persahabatan melawan Islandia. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pesepak bola Indonesia yang berkiprah di luar negeri gagal beradaptasi dengan budaya berbeda. Istilah Nenek Moyangku Seorang Pelaut, yang menggambarkan orang Indonesia doyan berjelajah tak berlaku di dunia sepak bola.

Cerita klasik kendala bahasa, cuaca, dan kesulitan menikmati makanan selalu terdengar dari pesepak bola yang mudik dari negara lain.

"Tak mudah hidup di negara orang. Saat ke Jepang saya yang bujangan merasa sendirian, tak ada tempat mengadu. Problematikanya bertumpuk, mulai dari susah berkomunikasi, cuaca yang berbeda jauh, makanan yang tak sesuai selera lidah, dan tekanan harus selalu tampil bagus," cerita Ricky Yakobi kegagalannya berkarier panjang di Negeri Sakura.

Entah kenapa curhat Ricky terus berulang dari generasi ke generasi lainnya.

Penulis melihat langsung betapa stresnya Andik Vermansah membayangkan dirinya harus tinggal sendirian di mes klub Jepang, Venforet Kofu. Sementara ia tidak bisa sama sekali berbahasa Jepang.

Pertanyaan apakah dirinya bisa sering-sering mudik ke Surabaya selalu dilontarkan ke agennya, Muli Munial, saat menjalani sesi trial tahun 2013 silam.

Venforet Kofu yang ngebet menggaet sang penyerang sayap sempat menawarkan opsi keluarga Andik bisa bebas datang berkunjung ke Jepang dengan biaya ditanggung klub.

Tapi tawaran itu diabaikan Andik yang akhirnya memilih berkiprah di klub Malaysia, Selangor FA, yang ia anggap lebih 'aman' buat dirinya menjalani hari-hari.

Permintaan unik sempat dilontarkan Evan Dimas ke promotor yang mengatur sesi latihan bareng klub Spanyol, Espanyol B, pada awal tahun 2015 silam. Gelandang serang yang kemampuan passingnya kerap dibandingkan Andres Iniesta itu minta ditemani teman masa kecilnya selama tiga bulan di Barcelona.

Evan yang sebelumnya sempat menjalani trial di klub Negeri Matador lainnya, Llagostera, pusing tujuh keliling harus ngapain saat tidak sedang latihan. Pemain yang kini bermain di Selangor FA itu memilih mendekam di kamarnya dibanding melihat keindahan kota Girona.

Cerita di atas bukan tentang benar atau salah, penulis hanya memberi gambaran betapa sulitnya pesepak bola Indonesia bisa survive saat keluar kandang. Sejatinya kondisi sama juga dialami pesepak bola-pesepak bola negara lain saat meninggalkan negaranya untuk mengembangkan kariernya.

6 of 7

Usia Rawan

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri memeluk gelandang Egy Maulana Vikrin usai gagal melangkah ke final Piala AFF U-18 2017 setelah kalah dari Thailand lewat adu penalti di Stadion Thuwunna, Yangon, Jumat (15/9). (Liputan6.com/Yoppy Renato)

"Usia 17-19 adalah momen-momen krusial bagi pesepak bola. Ia bisa jadi pemain besar jika bisa melaluinya," ujar Foppe de Haan.

Di usia seperti itu, anak muda tengah bergejolak. Secara kejiwaan mereka belum benar-benar dewasa. Mereka ingin jadi pemain hebat, namun di sisi lain juga memiliki keinginan untuk bersenang-senang seperti kebanyakan remaja seusia mereka.

"Banyak pesepak bola gagal mentas di persaingan elite Liga Belanda karena mereka gagal melalui fase-fase rawan itu. Ribuan anak-muda memperebutkan ratusan tempat, hanya yang fokus saja dan bertahan," ujar Foppe yang melahiran sosok Klaas-Jan Huntelaar, Ron Vlaar, Michel Vorm saat menukangi Jong Belanda yang jadi kampiun Piala Eropa U-21 20016.

Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim, dan Raphael Maitimo, tiga pesepak bola berdarah Belanda yang gagal di level elite, sekalipun saat level junior ketiganya punya modal sebagai pesepak bola berbakat.

Pentingnya peran sosok pendamping bagi pemain muda menjadi sesuatu yang mutlak jika melihat masalah kejiwaan yang dihadapi pemain-pemain muda Indonesia.

Tengok saja Arsene Wenger mencarikan keluarga angkat bagi bintang muda Spanyol, Cesc Fabregas, di London untuk menciptakan kenyamanan bagi sang pemain.

Sampdoria pernah melakukan hal yang sama saat Timnas Indonesia Primavera menggelar TC jangka panjang di Italia pada 1993-1995. Awak tim didampingi keluarga angkat untuk membantu mereka beradaptasi sehingga bisa nyaman.

Sayangnya saat salah satu rising star Timnas Primavera, Kurniawan Dwi Yulianto, memulai petualangannya sendiri di Siwss, sang pemain dibiarkan hidup sendirian. Dalam suatu kesempatan Kurniawan mengakui di usia 19 tahun ia kejeblos pergaulan bebas. 

Egy Maulana Vikri bisa dibilang beruntung, ia menapaki karier di Eropa tidak sendirian. Selain Subagja Suihan, Si Kelok 9 juga didampingi eks mentornya di Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri, dan juga Ustad Yusuf Mansur yang tergabung dalam agensi yang menanungi sang pemain.

Mereka tentu ingin terbaik dari sang pemain. Bukan sekadar menjadikan pemain sebagai sebuah komoditas bisnis. Namun, semua berpulang ke Egy Maulana Vikri. Ia yang bisa menentukan hikayat kariernya. Bermain di Lechia Gdansk baru permulaan. Masih banyak cerita yang bisa diukir sang pemain. 

7 of 7

Polling Egy Maulana Vikri

 
Lanjutkan Membaca ↓