Kekalahan Timnas Indonesia U-19 dari Jepang Bukan Akhir Segalanya

Oleh Juprianto Alexander Sianipar pada 27 Mar 2018, 13:51 WIB
Timnas Indonesia U-19

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia U-19 menelan kekalahan 1-4 dari Jepang U-19 pada laga uji coba di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Minggu (25/3/2018). Sepanjang pertandingan, Egy Maulana Vikri dan kawan-kawan tidak mampu menandingi superioritas tim asuhan Masanaga Kageyama.

Tim Garuda Asia yang ditangani legenda hidup Timnas Indonesia, Bima Sakti Tukiman, seolah tak berkutik menghadapi tekanan bertubi-tubi Timnas Jepang U-19. Gawang Timnas Indonesia U-19 yang dikawal Aqil Savik, empat kali dibobol tim tamu melalui Miyashiro Taisei (15', 49'), Kota Yamada (48'), dan penalti Ando Mizuki (80').

Timnas Indonesia U-19 baru bisa mencetak gol hiburan ke gawang Jepang U-19 jelang akhir laga. Gol itu datang dari pemain pengganti, Aji Kusuma, setelah memanfaatkan kesalahan dari pemain belakang lawan. Gol yang tidak cukup untuk membuat Aji Kusuma dkk keluar dari lapangan dengan kepala tegak dan senyum semringah dari wajah mereka.

Malam itu, para penggawa Timnas Indonesia U-19 menerima kenyataan pahit. Keinginan membuat kejutan di hadapan suporter yang datang langsung ke SUGBK, seperti keajaiban yang dilakukan Evan Dimas dkk saat mengalahkan Korea Selatan 3-1 pada kualifikasi Piala Asia U-19 tahun 2013, tidak terjadi.

Saat pertandingan masih berlangsung, teriakan dari segelintir suporter agar Indra Sjafri kembali melatih Timnas Indonesia U-19 lebih nyaring terdengar. Bahasa sederhananya, mereka kecewa dengan permainan Tim Garuda Asia.

Teriakan tersebut tentu tidak mengenakkan di telinga Bima Sakti yang melakoni laga debutnya sebagai suksesor Indra Sjafri. Pun demikian dengan para penggawa Timnas Indonesia U-19 yang tidak menyangka bakal kalah dengan skor telak. Hal itu bisa dengan mudah diterka dari raut wajah para pemain meskipun saya hanya melihatnya lewat layar kaca.

Kekalahan jelas mengecewakan, apalagi diterima tanpa mampu memberikan perlawanan yang sepadan. Sepanjang pertandingan tidak ada organisasi permainan yang jelas. Tarian atawa 'gerakan ala kelok 9' Egy Maulana Vikri menghilang dan Timnas Indonesia U-19 seperti tak memiliki identitas permainan.

Namun, kekalahan dari Timnas Jepang U-19 bukan akhir dari segalanya, bukan pula kiamat bagi tim yang kelak diharapkan bisa mengharumkan nama Indonesia. Kekalahan ini seharusnya melecut motivasi semua pihak guna berbuat lebih baik lagi. Baik itu tim pelatih, pemain, dan tentu saja federasi, dalam hal ini PSSI.

Buat saya, kekalahan ini tidak perlu didramatisir, apalagi dilebih-lebihkan. Malam itu, Timnas Jepang U-19 memang tim yang lebih baik daripada Timnas Indonesia U-19. Tidak perlu lagi diperdebatkan. Satu yang harus disadari adalah para pemain Timnas Indonesia U-19 tidak punya banyak waktu melakukan persiapan dan memahami strategi yang diinginkan Bima Sakti.

Pertanyaan pun kemudian muncul. Apakah keputusan PSSI tidak memperpanjang kontrak Indra Sjafri tepat? Atau PSSI melakukan blunder dengan mendepak Indra Sjafri dan menggunakan jasa Bima Sakti yang minim pengalaman?

Tidak bisa dimungkiri Indra Sjafri merupakan satu di antara pelatih terbaik yang dimiliki Indonesia untuk kategori timnas kelompok umur dalam satu dekade terakhir. Hal itu dibuktikan pelatih kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Sumatera Barat, 55 tahun silam itu, dengan prestasi dan cara bermain yang membuat banyak pihak berdecak kagum.

Indra Sjafri, yang namanya kala itu bahkan tidak akrab di telinga publik, membuat gebrakan dengan gaya bermain pendek, pendek, panjang atau yang kesohor dengan sebutan Pepepa. Hasilnya luar biasa, Timnas Indonesia U-19 meraih gelar Piala AFF 2013 dan lolos ke putaran final Piala Asia U-19 2014.

Sajian dari ramua Indra Sjafri menjadi prestasi yang membanggakan. Pencapaian itu mengobati kerinduan pencinta sepak bola di tanah air akan prestasi yang tidak mampu diberikan timnas senior.

Namun, keputusan sudah diambil PSSI dengan mendepak Indra Sjafri setelah gagal di Piala AFF U-18 dan Kualifikasi Piala Asia U-19 2018. Bima Sakti menjadi sosok yang terpilih dari sekian banyak nama yang masuk daftar kandidat pelatih Timnas Indonesia U-19.

Apakah Bima Sakti bisa berprestasi bersama Timnas Indonesia U-19? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Namun, satu yang pasti, pemain yang semasa aktif dikenal dengan tendangan geledeknya itu merupakan pribadi yang bisa mengayomi pemain muda.

2 of 2

Saatnya PSSI Fokus ke Pembinaan Usia Dini

Timnas Indonesia U-19
Pemain Timnas Indonesia U-19, Rifad Marasabessy gagal melewati adangan para pemain Jepang U-19 pada laga uji coba di Stadion Utama GBK, (24/3/2018). Indonesia U-19 Kalah 1-4. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Saya mengetahuinya secara langsung saat Bima Sakti, yang memperkuat Mitra Kukar melakoni tur ke Spanyol tahun 2013. Selama dua pekan berada bersama tim berjuluk Naga Mekes, saya melihat bagaimana mantan pemain yang merupakan produk PSSI Primavera itu sangat perhatian dengan pemain muda dibandingkan pemain senior lainnya.

Dalam benak saya, Bima Sakti sebenarnya sah-sah saja jika ingin bersikap tak acuh dan mementingkan ego pribadi dengan nama besar yang disandangnya. Maklum, semasa aktif pria yang pernah memperkuat klub Swedia, Helsinborg, itu merupakan satu di antara gelandang terbaik yang pernah dimiliki Tim Merah Putih.

Namun, Bima Sakti rupanya merupakan sosok yang rendah hati dan jauh dari kesan sombong. Asisten pelatih Timnas Indonesia U-23 itu setia berada di samping dua pemain muda Mitra Kukar yang dibawa ke Spanyol dan mencoba menjadi mentor yang baik.

Bima Sakti selalu ada untuk dua pemain muda tersebut, baik saat latihan, saat tim berkumpul untuk makan, maupun saat tim diberikan waktu pergi keluar. Dalam sebuah kesempatan, saya melihat langsung bagaimana pelatih yang kini berusia 42 tahun itu, setia menemani dua pemain muda Mitra Kukar mengitari kawasan wisata, La Rambla di Barcelona.

Selain itu, pria yang mengoleksi 55 caps semasa berkostum Timnas Indonesia itu memiliki etos kerja dan disiplin yang patut dicontoh para pemain muda. Tiga aspek itu membuat saya memiliki keyakinan Bima Sakti bisa menjadi pelatih hebat asalkan diberikan kepercayaan dan diberikan waktu membuktikan kemampuan.

Lantas, apakah kesuksesan itu akan hadir pada era Bima Sakti? Saya pribadi tidak terlalu menganggap penting hal tersebut karena gelar juara di level ini bukan target utama. Gelar juara di level pembinaan ibarat sebuah bonus.

Menit bermain yang memadai, jam terbang pemain dengan tampil di banyak turnamen, hingga kemampuan beradaptasi dengan beragam taktik jauh lebih penting ketimbang ambisi mengejar trofi di setiap turnamen. Harapannya, para pemain muda tersebut bisa memiliki atribut yang lengkap saat dipercaya membawa timnas senior, karena di sanalah target utama untuk berburu gelar.

Saat ini, yang paling penting adalah bagaimana semua pihak mengambil pelajaran dari kekalahan ini. Semua layak sadar, sepak bola kita masih jauh tertinggal dari Jepang, yang sudah 20 tahun terakhir serius dan berkesinambungan melakukan pembinaan demi target besar yaitu menjuarai Piala Dunia 2050.

Dalam sebuah sesi wawancara, Direktur Teknik Japan Football Association (JFA), Kohzo Tashima, mengungkapkan program pembinaan mereka sudah tertata dengan rapi karena mereka meyakini tidak ada timnas yang kuat tanpa didukung pembinaan yang baik. Bahkan, mulai dari timnas Jepang usia 15 tahun diberikan kesempatan berlatih di Italia, Brasil, dan beberapa negara Eropa lainnya guna menimba pengalaman.

Jepang memiliki sebuah komite yang bertugas memperbaiki setiap kekurangan dari program besar yang mereka rancang tersebut. JFA mempunyai total 559 centre of excellence dan 48.774 pelatih yang bekerja untuk target mengantarkan timnas Jepang menjadi kampiun Piala Dunia.

PSSI sudah seharusnya fokus dalam menata pembinaan sejak usia dini dengan lebih baik. PSSI bisa memulai dari menggelar kompetisi kelompok umur yang berjenjang setiap tahunnya, hingga yang paling krusial tidak gampang mengubah kebijakan jika akhirnya program tersebut tidak sesuai harapan.

Keikusertaan di banyak turnamen dan uji coba bermutu tidak kalah penting guna meningkatkan level anak-anak muda ini. Untuk yang satu ini, PSSI harus bisa menata jadwal uji coba dengan lebih baik sesuai dengan periodesasi latihan yang sudah dirancang setiap pelatih kelompok umur.

PSSI harus bisa memahami esensi pembinaan yang tentu 180 derajat berbeda dengan tuntutan sepak bola profesional yang menjadikan gelar sebagai acuan sebuah keberhasilan. Jika itu bisa dipahami, setiap pelatih timnas kelompok umur bisa bekerja dengan tenang untuk menaikkan level permainan para pemain ketimbang ambisi semu meraih gelar juara.

Pembinaan pemain usia muda itu ibarat lari maraton. Butuh kesabaran, keyakinan, dan tekad kuat untuk bisa sampai ke garis finis. Jika hal itu bisa dilakukan, niscaya sepak bola Indonesia bisa kembali disegani di kawasan Asia Tenggara.

Lanjutkan Membaca ↓