Rivalitas Suporter di Indonesia Perlu, tapi...

Oleh Aditya Wany pada 28 Sep 2018, 08:15 WIB
Diperbarui 28 Sep 2018, 08:15 WIB
Sepak Bola Indonesia Berbenah_4
Sepak Bola Indonesia Berbenah_4, Suporter Indonesia saat melawan Uni Emirat Arab (UEA) pada laga Asian Games di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Jumat (24/8/2018). Indonesia kalah adu penalti dari UEA. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Surabaya - Meninggalnya suporter Persija, Haringga Sirilla, akibat rivalitas tim pujaannya Persib Bandung dengan masih menjadi bahan perbincangan. Almarhum hanyalah satu dari sekian banyak suporter yang meninggal akibat rivalitas kelompok suporter sepak bola.

Selain suporter Persija dan Persib, sorotan publik juga mengarah kepada Arema FC dan Persebaya Surabaya. Sebab, Aremania dan Bonek sampai saat ini dikenal sebagai dua kelompok suporter yang berseteru.

Pentolan Bonek, Andie Peci merasa rivalitas antar kelompok suporter itu merupakan hal yang sangat wajar. Akan tetapi, perselisihan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain seharusnya bisa dihindari.

 

“Rivalitas antara Aremania dan Bonek itu sangat sederhana. Kalau ditanya kenapa permusuhan itu lahir, saya yakin tidak akan ada jawaban jelas. Orang hanya bisa memberikan asumsi,” ungkap pria yang bernama lengkap Andi Kristianto itu kepada Bola.com, Rabu (27/9/2018).

 

Munculnya perselisihan kedua kelompok suporter itu memang masih menjadi tanda tanya mengingat kedua tim lahir dengan jarak tahun yang cukup jauh. Persebaya lahir pada 1927, sementara Arema didirikan pada 1987.

Banyak yang berpendapat bahwa rivalitas kedua kelompok suporter itu lahir karena persaingan Persebaya dengan Persema Malang untuk menunjukkan yang terbaik di Jawa Timur. Saat Arema lahir, warga malang pun mulai beralih mendukung tim tersebut.

Selama ini, muncul berbagai catatan dan tulisan yang menyebutkan bahwa rivalitas antara Aremania dan Bonek merupakan representasi dari Malang dan Surabaya. Kedua kota itu memang dikenal sebagai dua kota terbesar di Jawa Timur.

“Sepak bola itu melibatkan banyak hal, pemain, suporter, dan identitas daerah juga. Saya selalu bilang rivalitas itu memang ada dalam pertandingan sepak bola. Tidak mungkin rivalitas itu hilang, di pertandingan pasti ada menang dan kalah. Tapi, rivalitas itu tetap ada batasnya,” ungkap Andie Peci.

“Kalau menyanyikan lagu rasis, lalu kekerasan sampai menghilangkan nyawa tentu tidak boleh. Contoh saja suporter Liverpool (klub Inggris) yang menjalin rivalitas dengan Manchester United. Mereka bermusuhan, tapi di stadion tetap saling menghormati. Makanya perlu regulasi juga yang jelas mengenai batasan rivalitas suporter,” imbuhnya.

Kasus kematian suporter sepak bola memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa kompetisi di negera-negara di Eropa juga pernah mengalaminya akibat bentrokan antar suporter.

Setelah insiden kematian Haringga, Andie menjadi salah satu sosok yang memunculkan beberapa ide lewat akun twitternya. Satu di antaranya adalah menghentikan kompetisi Liga 1 untuk sementara waktu yang kini telah menjadi keputusan PSSI.

“Dari Twitter itu, saya lihat banyak Aremania yang mention saya juga menginginkan bahwa sepak bola itu ya urusannya dengan 90 menit, tidak perlu cara kekerasan. Untuk mencapai damai tidak perlu melakukan kesepakatan. Tapi, suporter sendiri harus melakukan langkah konkret agar hubungan memanas bisa mencari,” tegasnya.