Andie Peci Ingin Sepak Bola Indonesia Bisa Berbenah

Oleh Aditya Wany pada 28 Sep 2018, 09:15 WIB
Diperbarui 28 Sep 2018, 09:15 WIB
Andie Peci
Wawancara Bola.com dengan tokoh Bonek, Andie Peci, sosok yang menyuarakan agar Liga 1 2018 dihentikan sementara. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Surabaya - Insiden meninggalnya suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla, menyita perhatian banyak pihak termasuk kalangan Bonek, pendukung Persebaya Surabaya. Haringga dikeroyok oknum suporter Persib Bandung jelang pertemuan Persib vs Persija pada pekan ke-23 Liga 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Minggu (23/9/2018).

Haringga merupakan satu dari sekian banyak korban meninggal akibat permusuhan antarkelompok suporter di Tanah Air. Sampai saat ini The Jakmania (suporter Persija) dan bobotoh (suporter Persib) masih menjalin rivalitas panas.

PSSI sebagai induk organisasi sepak bola Indonesia mulai merumuskan dan mencari solusi untuk mengakhiri permusuhan antarkelompok suporter. Namun, belum ada langkah konkret dari PSSI untuk segera menyudahi kebencian antarsuporter.

Paling gres, PSSI memutuskan menghentikan sementara kompetisi Liga 1 2018 sampai waktu yang tidak ditentukan.

Keputusan ini ditengarai satu di antaranya lahir berkat ide Andie Peci, pentolan Bonek, yang menyuarakan hal tersebut melalui akun Twitternya sehari setelah insiden meninggalnya Haringga.

Komentar Andie itu kemudian disetujui Bambang Pamungkas, striker Persija, yang merasa sepak bola lebih baik tidak ada bila mengorbankan nyawa.

Setelah itu, banyak pihak seperti Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) yang mengumumkan untuk tidak bersedia bermain di pekan ke-24.

Andie sempat berkunjung ke kantor Kemenpora di Jakarta untuk memberi masukan mengenai hal ini. Pada Selasa sore (25/9/2018), Menpora meminta PSSI untuk menghentikan Liga 1, dan keputusan itu akhirnya resmi dibuat pada Selasa malam.

Andie merupakan sosok yang cukup paham dengan dinamika sepak bola Indonesia, termasuk pengalaman rivalitas Bonek dengan beberapa kelompok suporter lain. Dia membuktikan hubungan panas antarsuporter itu sebenarnya bisa mencair.

Bonek kini sudah menjalin hubungan baik dengan Pasoepati (suporter Persis Solo) dan LA Mania (suporter Persela Lamongan). Padahal, dulu kedua kelompok suporter itu dikenal menyimpan rivalitas dengan Bonek.

Sayangnya, sampai saat ini Bonek dikenal kurang memiliki hubungan harmonis dengan Aremania, suporter Arema FC. Permusuhan yang lahir sebagai persaingan klub Jawa Timur masih terus muncul.

Andie bersedia untuk memberikan suaranya mengenai permasalahan kelompok suporter yang masih kerap terjadi. Dia juga membeberkan beberapa ide untuk menyelesaikan masalah ini dalam sebuah wawancara dengan Bola.com, Kamis (27/9/2018).

2 dari 4 halaman

Nota Damai Tak Efektif

Apa yang perlu dilakukan PSSI untuk menyelesaikan konflik antarkelompok suporter?

Saya pribadi dari dulu tidak pernah ngomong damai kepada siapa pun. Sebagai contoh, kami pernah menjalin hubungan baik dengan Pasoepati, LA Mania, dan bahkan The Jakmania. Tidak pernah ada kata 'damai' atau simbolisasi.

Sekarang yang dibutuhkan adalah berbicara untuk mencairkan hubungan antarsuporter, itu yang penting saat ini. Daripada ritual seremoni yang tidak jelas buat apa.

Belajar dari pengalaman dan praktik, kita tidak bisa mencari solusi tanpa referensi. Apa yang terjadi pada Bonek dengan LA Mania atau The Jak itu bisa menjadi referensi. Damai itu urusan belakang, yang terpenting mencairnya hubungan semua kelompok suporter ini.

Apakah itu memang bisa dilakukan?

Itu semua sudah terbukti. Kami beberapa tahun lalu masih memiliki hubungan yang memanas dengan LA Mania, sampai ada Bonek yang meninggal di Lamongan. Tapi, semua dilakukan dengan sama-sama sadar, rivalitas itu ada batasnya.

Hubungan baik Bonek dengan LA Mania itu bisa menjadi contoh paling baru. Musim ini, kami bisa berada dalam satu tribune saat Persebaya bertemu dengan Persela di Liga 1.

Memang dibutuhkan orang atau kelompok yang siap menjadi martir, dalam artian siap dibenci untuk kelompoknya sendiri. Bonek misalnya, dulu juga sering kali dibenci sesama Bonek karena punya niatan untuk mencairkan hubungan dengan suporter lain.

Bagaimana dengan nota damai yang sering kali deklarasikan?

Nota damai itu bisa dilakukan dan bahkan dipublikasikan, tapi tidak efektif. Sebaiknya jangan berharap banyak karena bisa blunder bahkan juga ajang pencitraan dan sebagainya.

Yang bisa menyelesaikan permasalahan suporter adalah suporter itu sendiri. Pihak lain juga perlu turut andil, tapi suporter juga harus mau menyelesaikannya. Caranya tidak perlu sampai menyatakan damai secara langsung.

Kami dulu bersama Bonek melakukannya dengan senyap saja, tidak perlu berkoar-koar atau dilakukan secara terbuka. Akan tiba masanya dan ujungnya itu bisa jadi cair, dan momentumnya memang diperlukan akan jadi terbuka.

3 dari 4 halaman

Peran PSSI dan Pemerintah

Banyak hal kecil terjadi seperti nyanyian ejekan di stadion. Bagaimana dengan hal itu?

Suporter memang harus berupaya menghilangkan rasisme di pertandingan. Kalau itu tidak dilakukan, damai tidak akan mungkin terjadi. Ini menyangkut banyak orang, kelompok, dan pandangan. Damai itu tidak semudah tanda tangan saja.

Yang paling penting dari suporter itu sendiri untuk mencairkan hubungan. Saya yakin jumlah yang sepakat lebih banyak yang ingin mencairkan hubungan masih lebih banyak dibanding yang tidak sepakat. Tapi, banyak yang tidak berani bersuara karena takut dibenci kelompoknya sendiri.

Bagaimana dengan peran PSSI dan pemerintah?

Memang semua upaya suporter itu harus ditunjang dengan kemapanan sepak bola nasional. Kalau masih ada praktik permainan wasit atau hukuman yang dijatuhkan PSSI kepada klub tidak adil, juga kurang mendukung upaya ini.

Soal elite PSSI, sebaiknya memang memberikan contoh kepada suporter karena akan berpengaruh secara psikologis. Makanya, elite PSSI harus baik dan memapankan sepak bolanya.

Misal di Brasil yang sebenarnya lebih parah, suporter perempuan didahulukan masuk. Itu hanya contoh, ada banyak sekali metode dan memang federasi harus responsif dengan berbagai masukan.

Sekarang, Ketua Umum PSSI merangkap jabatan, secara legal memang bisa, tapi itu akan menjadi contoh buat suporter. Ada banyak yang meremehkan, kalau Ketum PSSI saja rangkap, ada pemikiran yang kurang baik sehingga hubungan suporter sulit untuk menjadi sejuk.

Kalau memang pemerintah mau memediasi persoalan ini, tidak boleh terpisah. Selama ini pemain, manajemen, dan suporter sangat jarang dipertemukan. Harusnya, semuanya bisa duduk bersama, berkomitmen bersepakat melakukan upaya konkret.

Persebaya Surabaya vs Persela Lamongan
Bonek (suporter Persebaya) dan LA Mania (suporter Persela) akur di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (5/8/2018). (Bola.com/Aditya Wany)
4 dari 4 halaman

Pengaruh Medsos

Aparat keamanan kan juga memiliki tugas. Bagaimana porsinya?

Aparat keamanan kadang menjadi pihak yang tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Misal ada suporter yang ikut away klubnya, tiba-tiba ada sweeping dari suporter tuan rumah, dari situ sebetulnya bisa saja melakukan tindakan represif.

Aparat itu dipersenjatai dan bisa membubarkan aksi sweeping atau apa pun bentuknya agar ketegangan antarsuporter tidak terjadi. Polisi sebagai institusi kemanan pertandingan sepak bola juga, harusnya bekerja di dalam maupun di luar stadion. Itu memang wajib dijalankan supaya tidak sering menimbulkan persoalan baru.

Saat ini, media sosial juga memiliki pengaruh untuk berseteru

Media sosial memang punya pengaruh besar untuk menyebarkan permusuhan dan sebagainya itu. Ada wadah untuk melakukan ujaran kebencian yang sangat berdampak besar.

Makanya, saya mengusukan ke Menpora untuk dibuat regulasi khusus. Itu memang harus ada regulasi mengenai sepak bola selain pertandingan 2x45 menit. Selama ini, tidak ada hukum lain yang mengatur relasi antarsuporter, klub dengan suporter atau bahkan dengan pemerintah daerah juga.

Kalau ada persoalan seperti ini, sanksinya memang harus jelas seperti apa. Misalnya suporter melakukan tindak kejahatan apakah aparat klub disanksi atau tidak. Sekarang hukumnya masih belum jelas dan belum bisa diterapkan karena tidak ada regulasi. KUHP pun belum mencakup secara utuh ke sepak bola.

Regulasinya harus diatur secara ketat dan berlaku kepada seluruh klub. Pemberlakuannya juga harus dilakukannya secara adil agar semuanya benar-benar bisa mengarah ke hal yang lebih baik.

Relasi Aremania dan Bonek yang kurang baik juga menjadi sorotan. Bagaimana tanggapan Anda?

Banyak yang menyatakan damai lewat akun sosial media, tapi kami tidak benar-benar tahu apakah kenyataannya itu akan terjadi. Bagi saya, damai itu menjadi urusan belakangan. Yang pertama adalah mencairkan hubungan dulu.

Saya melihat, baik Aremania atau pun Bonek, banyak yang sepakat untuk mendukung klub sepak bola itu, ya hanya sepak bola. Tidak perlu sampai melahirkan permusuhan. Upaya untuk tetap menjaga hubungan itu harus didorong oleh banyak pihak juga.

Lanjutkan Membaca ↓