Cerita Perdamaian Suporter PSIS-Persijap: Berkat Kemauan Kuat dan Ngopi Bareng

Oleh Ronald Seger Prabowo pada 30 Sep 2018, 20:45 WIB
Diperbarui 30 Sep 2018, 20:45 WIB
Persija Jepara, PSIS Semarang
Suporter PSIS dan Persijap membentangkan spanduk perdamaian dalam laga uji coba di Stadion Jatidiri, Semarang, pada 2017. (Bola.com/Ronald Seger Prabowo)

Bola.com, Semarang - Sepak bola dan suporter tak bisa dipisahkan. Ada pepatah, sepak bola tanpa suporter bagaikan sayur tanpa garam hingga terasa hambar .

Suporter kerap dianggap sebagai pemain ke-12. Kehadiran para pendukung setia mampu mengangkat motivasi dan juga performa di lapangan.

Namun, fanatisme para suporter terhadap klub kesayangan kadang melewati batas. Permusuhan antarsuporter sudah tak asing lagi di persepakbolaan Tanah Air, baik dari kasta terendah hingga kompetisi Gojek Liga 1 bersama Bukalapak. Salah satunya permusuhan antara suporter Persib Bandung, Bobotoh, dengan Jakmania, pendukung setia Persija Jakarta.

Hubungan panas keduanya sulit didinginkan. Perseteruan kedua kelompok suporter telah memakan korban, yang terbaru adalah kematian seorang Jakmania, Haringga Sirila, yang dikeroyok suporter Persib di kompleks Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (23/9/2018),

Padahal, konflik pasti bisa dihentikan jika semua sama-sama memiliki niat dan kemauan untuk berubah ke arah lebih baik. Hal itulah yang ditunjukkan kelompok suporter PSIS Semarang yakni Panser Biru dan Snex, dengan suporter Persijap Jepara, Banaspati.

"Kalau ada niat tulus dan kemauan untuk menjalin hubungan baik pasti bisa terlaksana. Memang tidak mudah, namun harus dilakukan dan bisa dibuktikan hubungan suporter Persijap dan PSIS sekarang kondusif. Apalagi kami sesama suporter dan warga Jawa Tengah," ungkap Ketua Umum Banaspati, Saadi Asirozi, membuka perbincangan dengan Bola.com, Jumat (28/9/2018).

Kelompok suporter dua tim asal pantai utara (Pantura) Jawa Tengah itu pernah terjebak dalam sejarah kelam permusuhan yang dimulai pada kompetisi Divisi Utama, musim 2005.

Bentrok kedua suporter itu sering terjadi hingga menimbulkan korban. Saadi masih ingat betul kejadian memilukan, 12 Maret 2006 di Stadion Kamal Junaidi. Saat itu, kelompok pendukung tuan rumah bentrok dengan suporter PSIS Semarang yang meluas hingga ke jalan.

Sejak saat itulah benih-benih permusuhan kelompok suporter kedua tim muncul. Nyanyian rasial, sweeping suporter kedua tim, hingga tindakan anarkistis lainnya sering menghiasi hubungan kedua kelompok suporter. 

Saadi mengakui butuh usaha keras untuk bisa menghilangkan benih permusuhan dan merajut perdamaian antarkelompok suporter. Di saat sesama pengurus suporter mencoba mendinginkan suasana, pada tingkat akar rumput justru terjadi aksi saling ejek di dunia maya.

 

2 dari 3 halaman

Ambil Resiko Demi Tujuan Baik

Persijap Jepara dan PSIS Semarang
Suporter PSIS dan Persijap membentangkan spanduk perdamaian dalam laga uji coba di Stadion Jatidiri, Semarang, pada 2017. (Bola.com/Ronald Seger Prabowo)

Seiring berjalannya waktu komunikasi intensif yang terus dilakukan. Menurut Saadi, Banaspati mencoba datang ke Semarang saat beberapa kali mendapat undangan kegiatan dari Snex maupun Panser Biru. 

"Misalnya saat Snex mengundang di ulang tahun, kami datang ke Semarang. Bahkan Mas Yoyok (CEO PSIS, Yoyok Sukawi) sampai terkejut dan memuji nyali kami datang ke Semarang. Kami datang karena dengan tujuan baik, kenapa tidak dicoba apapun risikonya. Bahkan kami juga pernah berdiskusi dan saling bercanda dengan pengurus Panser Biru. Hingga suasana semakin dingin," urai Saadi. 

Proses rekonsiliasi mencapai titik terbaik saat perhelatan Piala Polda Jawa Tengah 2015. Saat itu kompetisi vakum karena Indonesia kena sanksi FIFA. Di babak penyisihan, PSIS dan Persijap masuk dalam satu grup bersama Persis Solo. Diawali dengan Panser Biru dan Snex yang diterima baik di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK), hubungan baik itu berlanjut hingga sekarang.

"Memang saat itu pihak kepolisian sempat melarang. Namun kami tetap memfasilitasi suporter PSIS di tribun VIP, kami jaga dan alhamdulillah sampai pulang tidak terjadi masalah. Proses perdamaian ini juga tak lepas dari teman-teman di Jabodetabek yang sering menggelar ngopi bareng, hingga bermain futsal. Virus perdamaian itu akhirnya terbawa ke Jawa Tengah," tegasnya.

Dedengkot Snex, Donny Kurniawan, memaparkan proses perdamaian bisa terjadi karena kedewasaan masing-masing suporter. Mereka berusaha selalu mengedepankan sikap saling menghormati dan keinginan untuk menghilangkan rasa permusuhan. 

Dia menjelaskan salah satu bentuk konkretnya adalah menghilangkan lagu-lagu rasial yang sering dinyanyikan suporter untuk menghina tim lawan. Komunikasi intensif dan berusaha berpartisipasi kegiatan yang dilakukan suporter PSIS dan Persijap juga menjadi kunci.

"Sering-sering komunikasi dan setiap salah satu suporter ada acara saling mengundang dan menjamin keamanan tamu. Dengan berjalannya waktu, akhirnya bisa seperti sekarang," jelas Donny.

 

3 dari 3 halaman

Lapang Dada

Ketua Harian Panser Biru, Galih Eko Putranto, membenarkan proses perdamaian tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Apalagi, dirinya jadi saksi dan melihat langsung bentrokan di Jepara pada 2005. Luka akibat kasus itu sulit dihilangkan.

Namun perlahan, sikap emosional dengan pikiran sempit coba dihilangkan. Bagi Galih, tidak ada untungnya saling bermusuhan dalam sepak bola yang sejatinya memiliki jargon sebagai alat pemersatu.

"Kami dari pengurus pusat lantas meberikan edukasi maksimal bagi suporter. Apa yang sebenarnya kita cari dari permusuhan di sepak bola? Lebih baik mencari persaudaraan. Itu yang penting," kata Galih.

Dia menyebut tidak ada perseteruan abadi antara Panser Biru dengan Banaspati, namun ego yang besar dari masing-masing suporter. Untuk itu, komunikasi coba dibangun antarpengurus untuk meredakan suasana panas. Komunikasi tak sebatas antara petinggi suporter, namun terpenting justru sampai akar rumput.

"Apalagi kami juga berpikir saat di Liga 2 mau tak mau pasti bertemu. Makanya kami bangun komunikasi yang baik dan ternyata Banaspati menyambut dengan antusias dan mereka berharap seperti itu. Mungkin selama ini ada rasa takut akan diterima atau tidak. Ya istilahnya pucuk diminta ulam pun tiba," paparnya.

Galih menggambarkan perseteruan Panser Biru dan Banaspati seperti perselisihan antara kakak dan sang adik. Sehingga harus ada salah satu yang mau berlapang dada agar tidak berlanjut.

"Awal 2000-an dulu Banaspati belajar dari Panser Biru seperti kreasi dan juga seni musik saat memberikan dukungan. Kami sering menggelar pertemuan di Semarang, berbincang bersama, dan alhamdulillah hubungan kami semakin baik hingga saat ini," pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓
Lebih Dekat dengan Sandy Walsh (Part 2), Beragam Alasan untuk Bisa Bela Timnas Indonesia