Hooligans dan Virus Sepak Bola

Oleh Okky Herman Dilaga pada 01 Okt 2018, 09:01 WIB
Sepak Bola Indonesia Berbenah

Bola.com - Sepak bola tanpa suporter diibaratkan seperti sayur tanpa garam. Hubungan sepak bola dengan suporter begitu erat.

Suporter tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Mereka mendukung klub kesayangannya, ataupun hanya menjadi penikmat olahraga tersebut.

Bagi sebagian orang, menjadi suporter fanatik sebuah tim sepak bola merupakan sebuah kebanggaan. Kebanggaan tersebut semakin besar saat melihat tim kesayangannya menjadi juara.

Akan tetapi, kadang, kebanggaan itu disalahartikan. Kebanggaan yang terlalu besar tanpa mengerti arti sebuah dukungan positif justru bisa mengarah ke hal-hal negatif.

Sering dijumpai kerusuhan antarsuporter terjadi dalam sepak bola. Dari sekadar saling ejek dengan suporter lawan hingga berujung adu jotos ataupun tindakan kriminal lain.

Di Indonesia, dukungan suporter yang mengarah kepada hal-hal negatif juga sering terjadi. Kasus terbaru, beberapa oknum suporter Persib Bandung yang biasa disebut Bobotoh melakukan penganiayaan yang berujung kematian kepada seorang suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla.

Imbas tindakan tersebut bagi sepak bola Indonesia adalah penghentian sementara Liga 1 2018 sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kasus itu cukup untuk menjelaskan sebuah hubungan erat antara suporter dengan sepak bola.

Sebenarnya, tindakan suporter yang kelewat batas itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Jauh sebelum ada istilah sepak bola modern, ulah-ulah anarkis suporter sudah dilakukan pada awal perkembangan sepak bola.

 

2 of 3

Hooligans

Fans Borussia Dortmund
Fans Borussia Dortmund yang terkenal memiliki kreativitas tinggi saat mendukung tim kesayangannya. (AFP/Sascha Schuermann)

Dalam bahasa asing, istilah suporter sering disebut sebagai fans. Namun saat ini, sebutan hooligans juga lumrah didengar kebanyakan orang.

Jika fans lebih mengarah kepada anggapan positif, hooligans justru kebalikannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan hooligan sebagai ungkapan asing (Inggris) yang berarti: orang yang kasar (brutal) atau orang yang melakukan kekerasan.

Usut punya usut, kata hooligan tidak ada kaitan sama sekali dengan sepak bola. Beberapa teori terkemuka tentang asal-usul kata hooligans justru mengarah kepada sebuah nama keluarga Irlandia yang sering membuat onar di konser musik ataupun teori lain mengatakan hooligan adalah nama seorang tukang pukul dan pencuri di Inggris, Patrick Hooligan.

Apapun itu, hooligans memang identik dengan kekerasan. Istilah itu semakin meluas dengan adanya beberapa kerusuhan pada sepak bola Inggris.

Di Inggris, sepak bola pernah dilarang pada kepemimpinan Raja Inggris Edward II pada abad ke-14. Alasannya, sang raja berdalih, sepak bola (yang saat itu masih kuno) bisa menyebabkan bentrokan antarpemain maupun penonton karena belum ada peraturan yang jelas.

Setelah sepak bola mulai berkembang, hooligans juga tidak bisa dihilangkan. Sepak bola yang mampu menghadirkan puluhan ribu orang dalam suatu waktu, memang rawan terjadi gesekan antarsuporter dari dua kubu yang bertanding.

3 of 3

Bagai Virus

Ivan Bogdanov
Suporter Serbia, Ivan Bogdanov, berdiri di pagar pembatas tribune penonton pada laga Kualifikasi Piala Eropa 2012 antara Italia kontra Serbia, di Genoa, 12 Oktober 2010. Laga tersebut ditunda karena suporter tidak bisa dikendalikan. (AFP/Giuseppe Cacace)

Seiring waktu berlalu, hooligans mulai hadir di berbagai belahan dunia lain. Wilayah Eropa Timur dan Amerika Selatan dikenal saat ini memiliki banyak hooligan.

Negara-negara yang berada di kawasan tersebut memang kurang pengamanan dibandingkan negara-negara mapan sepak bola, macam Inggris, Jerman, ataupun Spanyol. Meskipun, negara-negara mapan juga tidak bisa menjamin 100 persen keamanan di dalam dan luar pertandingan, namun dengan kemungkinan terjadinya kerusuhan sangat kecil.

Laga ditunda karena kerusuhan antarsuporter juga lumrah terjadi di Eropa Timur dan Amerika Selatan. Kadang, fanatisme positif kepada tim kesayangannya terlupakan hanya karena andrenalin meningkat saat bertemu kelompok suporter lawan ataupun sekadar eksistensi ingin dipandang sebagai sosok pemberani.

Satu di antara hooligans yang menyita perhatian dunia adalah Ivan Bogdanov. Hooligans asal Belgrade itu membuat laga Italia kontra Serbia, 12 Oktober 2012, ditunda karena ulahnya yang kelewat batas, seperti memotong jaring pembatas tribune, hingga melempar flare yang membahayakan para pemain di lapangan.

Yang lebih ekstrem, Bogdanov melakukan hal itu di markas Italia, jauh dari "kandang"-nya di Serbia. Bagi rekan dan hooligans lain, aksi Bogdanov mungkin mendapat apresiasi.

Tetapi, apakah hal itu menguntungkan bagi Serbia, negara yang didukung Bogdanov pada laga tersebut? Jelas jawabannya adalah tidak. Serbia dinyatakan kalah 0-3 dari Italia oleh Komisi Disiplin UEFA.

Di Amerika Selatan, khususnya Brasil, keberadaan suporter garis keras juga tidak bisa dimungkiri. Sebuah data mencatat, 60.000 suporter tergabung dalam sebuah wadah bernama Torcidas Organizadas atau bisa disebut pendukung terorganisasi.

Mayoritas anggotanya sering terlibat aksi kriminal seperti perkelahian, perdagangan narkoba, hingga ancaman kepada para pemain sepak bola. Bahkan, mereka membuat jadwal perkelahian antarsuporter yang bisa memakan korban jiwa.

Di manapun itu, keberadaan hooligans merupakan sesuatu yang nyata dalam sepak bola. Akan tetapi, bila cara mendukung sebuah tim justru berimbas pada sesuatu yang merugikan, pantaskah mereka disebut suporter sejati?

"Olahraga adalah persahabatan, olahraga adalah kesehatan, olahraga adalah pendidikan, olahraga adalah kehidupan, dan olahraga bisa menyatukan dunia," - Juan Antonio Samaranch, Presiden ke-7 Komite Olimpiade Internasional.
Lanjutkan Membaca ↓