Ponaryo Astaman dan Pentingnya Regulasi dengan Efek Jera

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 02 Okt 2018, 06:44 WIB
Diperbarui 02 Okt 2018, 06:44 WIB
Wawancara Ponaryo Astaman
Wawancara Ponaryo Astaman (Bola.com/Foto: Vitalis Yogi /Grafis: Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - General Manager Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), Ponaryo Astaman, puas dengan upaya perdamaian di sepak bola Indonesia. Akan tetapi, Ponaryo merasa masih ada langkah yang perlu dilakukan.

Dua hari setelah terjadinya insiden pengeroyokan terhadap suporter Persija Jakarta yang dilakukan suporter Persib di Bandung, Minggu (23/9/2018), para pemain di Liga 1 2018 berkumpul di bawah bendera APPI. Mereka menyatakan sikap untuk tidak bermain pada pekan ke-24 Liga 1 2018.

Dalam poin sikapnya, para pemain juga menginginkan nota perdamaian antarsuporter klub terus dijaga perkembangannya oleh semua stakeholder sepak bola dan juga pemerintah. Kini semua pihak telah mengupayakan perdamaian antarsuporter bisa terwujud.

Puncaknya, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) duduk bersama stakeholder sepak bola Indonesia, baik PSSI, BOPI, APPI, manajemen klub Liga 1, dan suporter, pada Senin (1/10/2018). Namun, bagi Ponaryo Astaman, masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan meski nota perdamaian sudah disepakati.

Regulasi dengan hukuman berefek jera menjadi pilihan bagi Ponaryo Astaman, sebagai langkah berikutnya dari komitmen damai yang telah dibuat oleh stakeholder sepak bola Indonesia, termasuk para suporter. Tujuannya adalah agar mereka yang melanggar nota pedamaian langsung mendapatkan hukuman berat.

2 dari 2 halaman

Setelah Perdamaian, Perlu Regulasi Konkret dengan Efek Jera

Sepak Bola Indonesia Berbenah_8
Sepak Bola Indonesia Berbenah_8 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bagaimana APPI melihat upaya perdamaian untuk sepak bola Indonesia yang coba dilakukan oleh semua pihak?

Saya berpikir kita semua sepakat sudah menunjukkan komitmen untuk pembenahan. Bukan hanya dari suporter, tapi dari semua stakholder sepak bola yang ada di Indonesia dan berujung kepada komitmen untuk damai.

Namun, yang masih menjadi pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana dari komitmen ini menjadi sebuah pijakan, menjadi sebuah regulasi, sehingga ada sanksi yang jelas. Ada hukuman yang jelas terhadap pihak-pihak yang melanggar komitmen ini di kemudian hari.

Jadi, bukan hanya mawas diri dan bukan hanya kesadaran dari pihak yang berkomitmen saja, tapi akan ada fungsi kontrol berupa hukuman atau sanksi untuk pihak yang nantinya melanggar. Komitmen ini jangan hanya menjadi sebuah komitmen, tapi sebuah regulasi yang menjadi payung hukum bagi komitmen damai ini pada hari-hari ke depannya.

Setelah upaya perdamaian sudah dilakukan, apa keinginan konkret APPI untuk sepak bola Indonesia?

Harus ada satu langkah lagi yang segera dilakukan. Mungkin ini akan menjadi ranah Komite Disiplin, yaitu membuat keputusan, atau regulasi melalui PT Liga. Tentu agar bagaimana komitmen ini sekali lagi bisa menjadi regulasi sehingga pihak-pihak yang berkomitmen memiliki kesadaran bahwa hukuman menanti jika suatu hari pelanggaran kembali terjadi.

Peristiwa seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Menurut Anda, apa sebenarnya yang membuat ini terus terjadi?

Saya pikir hukumannya selama ini tidak tegas sehingga akhirnya masalah ini terulang dan terulang lagi. Terus terjadi berkali-kali. Anda dihukum tidak jera, tentu kemudian hari Anda akan mengulanginya. Namun, jika itu membuat Anda jera, pasti Anda tidak akan mau mengulanginya lagi.

Menurut saya harus dipikirkan baik-baik hukumannya yang paling tepat itu apa. Kemudian hukuman yang paling berat itu apa, dan yang paling ditakuti itu apa. Tentu itu akan lebih baik.

Ada wacana para pemain sepak bola Indonesia berhenti bermain ketika terdengar suara-suara bernada rasis dalam nyanyian suporter di stadion. Menurut Anda itu menjadi solusi yang bagus? 

Sekali lagi itu adalah sebuah gerakan, sebuah aksi solidaritas yang ketika dilanggar tidak ada hukumannya. Jika ada nyanyian rasis, kami para pemain berhenti bertanding, lalu pada pertandingan selanjutnya ada nyanyian rasis lagi, kami tentu berhenti lagi. Namun, pertandingan selanjutnya ada lagi nyanyian itu, kami berhenti lagi. Tentu tidak cukup sampai di situ saja.

Harus ada regulasi yang mengatakan bahwa kalau ada nyanyian rasis lagi, yang melanggar harus mendapatkan hukuman. Terserah apa hukumannya, apakah suporternya yang dihukum atau klubnya sekalian dihukum. Jadi pihak-pihak atau suporter yang bernyanyi rasis itu akan berpikir kalau mereka akan mendapatkan hukuman jika menyanyikannya lagi, termasuk klub kesayangannya akan dihukum.

Itu akan menjadi kontrol yang bagus untuk menumbuhkan kesadaran perilaku seperti itu tidak bisa dilakukan lagi karena ada hukuman berat. Kalau hanya sebatas imbauan atau gerakan dan kemudian dilanggar tapi tidak ada sanksinya, tentu harus ada pihak ketiga.

Harus ada alat pengawas, atau kontrol, bisa berupa regulasi yang hukumannya sangat jelas bagi semua pihak yang melanggar regulasi tersebut.

Setelah sepakat tidak bermain pada pekan ke-24 Liga 1 2018, apakah para pemain punya keinginan tentang kapan kompetisi dimulai kembali?

Tentu gerakan yang sudah kami lakukan kemarin sebagai wujud duka cita dan agar masalah ini segera ditindaklanjuti dalam rupa sebuah hukuman. Sekarang dengan adanya nota damai yang sudah disepakati, tentu para pemain yang berada di bawah naungan APPI akan siap untuk kembali bermain.

Nota damai yang kami inginkan sudah terbukti bisa terwujud, jadi kami tentu berharap kompetisi akan segera dimulai kembali.

 

Lanjutkan Membaca ↓