Takdir Haringga Sirla dan Harapan Keluarga agar Tak Ada yang Bernasib Sama

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 03 Okt 2018, 06:01 WIB
Diperbarui 03 Okt 2018, 06:01 WIB
Santunan Klub Liga 1, Haringga Sirla
Sejumlah petinggi klub Liga 1 2018 menyambangi keluarga Haringga Sirla, Selasa (2/10/2018), untuk memberikan hasil dari laga amal Arema vs Madura United yang memang ditujukan untuk keluarga suporter Persija Jakarta itu. (Bola.com/Benediktus Gerendo)

Bola.com, Jakarta - Siloam Tumangkeng, ayah dari Haringga Sirla, sudah cukup ikhlas dengan kepergian putranya. Melihat ada sejumlah kebetulan yang terjadi, Siloam melihat sudah takdir bagi Haringga untuk menutup usia. Namun, sang ayah juga berharap agar putranya menjadi yang terakhir kehilangan nyawa karena rivalitas suporter sepak bola.

Sejumlah perwakilan klub Liga 1 2018 mengunjungi kediaman keluarga Haringga Sirla, suporter Persija Jakarta yang tewas dikeroyok oleh suporter Persib Bandung di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada 23 September lalu. Kunjungan yang dilakukan oleh beberapa petinggi klub pada Selasa (2/10/2018) siang itu dilakukan untuk memberikan amanah dari suporter laga amal antara Arema FC kontra Madura FC yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (29/9/2018).

Sebelum Haruna Soemitro, Rudi Widodo, Gede Widiade, Ferry Paulus, dan Yunan Achmadi, yang menjadi perwakilan klub tiba, Bola.com menyempatkan untuk berbincang dengan ayah Haringga, Siloam Tumangkeng. Sang ayah menyebut ada sebuah kebetulan yang muncul di benaknya saat sang anak menutup usia terkait angka 23. Namun, Siloam menegaskan dirinya tak berpikir apa pun selain itu menjadi takdir bagi anaknya.

"Saya memang sedikit heran karena peristiwa itu terjadi pada tanggal 23, dan anak saya juga berusia 23 tahun. Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-3. Seperti kebetulan kalau saya rasa. Namun, saya tak berpikir aneh-aneh, mungkin memang sudah takdir baginya. Itu saja yang saya pikirkan," ujar ayah Haringga Sirla kepada Bola.com.

Kehilangan sang putra bungsu memang diakuinya membuat suasana di rumah sedikit berbeda. Sang ibu yang paling merasakan karena sosoknya yang paling dekat dengan Haringga.

Namun, dengan keikhlasan Siloam berharap agar tak ada lagi suporter sepak bola di Indonesia yang mengalami hal seperti yang dialami oleh putranya.

"Kami pun sekeluarga sempat membayangkan menjadi dirinya dan bisa merasakan sakit yang dialaminya. Walau anak saya meninggal dengan begitu menderita, saya merasa cukup dia saja yang harus merasakan penderitaan itu untuk kebaikan semua suporter di kemudian hari. Jangan sampai ada lagi yang seperti Haringga meski kami juga berharap hukum tetap harus berjalan bagi pelaku-pelakunya," ujar ayah Haringga Sirla itu.