Hamka Hamzah Mengupas Match Fixing hingga Perbaikan Timnas Indonesia

Oleh Iwan Setiawan pada 04 Des 2018, 22:00 WIB
Hamka Hamzah

Bola.com, Malang - Sepak bola Indonesia masih ramai tentang bahasan match fixing mulai Liga 3, Liga 2, hingga pengaturan juara di Liga 1 218. Yang terbaru, banyak muncul pembahasan Persija Jakarta jadi juara setingan karena ada kejanggalan saat pertandingan melawan Bali United pada Minggu (2/12/2018).

Satu di antaranya wasit mengakhiri pertandingan tanpa tambahan waktu sehingga Persija kini memimpin klasemen sementara dan unggul satu poin atas PSM Makassar. Peluang juara Persija membesar saat pertandingan menyisakan satu laga terakhir.

Di waktu yang hampir bersamaan, bahasan tentang kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 juga belum pudar. Tim Garuda tidak mampu lolos dari fase penyisihan grup.

Dua hal itu seakan jadi topik hangat di media. Kapten tim Arema, Hamka Hamzah, sebagai pemain senior di kancah sepak bola Indonesia ikut prihatin dengan situasi ini. Dia pun mencurahkan pandangannya kepada Bola.com.

Persoalan tentang match fixing kembali memanas. Kini muncul juara setingan di Liga 1. Rumor tersebut menyudutkan Persija, yang dianggap sebagai juara setingan. Bagaimana pandangan Anda?

Bagi saya, kalau juara kompetisi itu tidak bisa di-setting. Kalau ada yang bicara seperti itu, buktikan dan tangkap pelakunya langsung. Jangan hanya asal bicara. Tapi, cari solusi dan faktanya.

Kalau Persija disebut jadi juara, belum tentu. Meski, sekarang mereka unggul satu poin dari PSM Makassar, masih ada satu pertandingan terakhir. Jadi juara musim ini baru bisa dilihat setelah pekan terakhir.

Di awal musim, Persija tidak bersaing di papan atas. Di pertengahan musim juga memunculkan Persib Bandung. Siapa yang sangka ada kerusuhan (meninggalnya suporter Persija di Bandung) yang membuat sanksi berat diterima Persib. Jadi banyak faktor, bukan karena setting-an karena perjalanannya panjang.

Beberapa waktu lalu sepak bola nasional juga digoncang dengan munculnya nama Vigit Waluyo yang dituding sebagai bandar judi. Anda mengenal sosok itu?

Pasti tahu kalau sama nama itu. Dia manajer tim Gelora Dewata dulu. Saya tidak pernah tahu secara langsung dia melakukan pengaturan skor atau disebut bandar judi. Tapi, kalau untuk suap dalam sebuah pertandingan, ada pengalaman menangkap pelakunya di tahun 2015.

Ketika itu saya bermain di Borneo FC. Ada oknum yang coba menyuap tim kami. Orangnya sudah dijebak dan diserahkan ke pihak berwajib. Setelah dua hari dilepas dan tidak ada kelanjutan kasusnya. Alasannya bukti kurang kuat. Padahal, sudah jelas ada bukti pesan singkat di ponsel beserta uangnya.

Susah memang kalau seperti ini. Tapi, ini bicara konteks pengaturan skor. Bukan pengaturan juara kompetisi.

2 of 3

Tentang Match Fixing

Selama berkiprah dalam sepak bola profesional, apa Anda pernah didekati bandar atau orang untuk mengatur skor?

Tidak pernah. Mungkin takut mendekat sama saya. Dipikir saya ini pemain gila. Hehehe... Tapi, di luar mungkin juga banyak yang melihat saya ini pemain nakal.

Namun, waktu yang bisa menjawab. Pemain yang sudah ada di lingkaran bandar judi tidak akan bertahan lama kariernya karena perlahan akan diketahui dan klub tidak akan memakainya.

Di sini sekaligus saya berpesan kepada semua pesepak bola lainnya, jangan sampai mengambil uang dari lingkaran bandar judi. Meski berupa iming-iming untuk menang (bonus) karena nantinya bisa jadi akan diancam dan disuruh untuk mengalah dalam sebuah pertandingan. Jadi, kalau ingin lama jadi pesepak bola, jangan sampai terlibat. Harga diri pemain harus dijaga.

Jadi, menurut Anda bagaiamana cara yang efektif untuk menangani kasus match fixing di Indonesia?

Semua harus bersatu. Federasi, klub, pemain, dan tentunya kepolisian. Saya pernah main di Malaysia. Di sana, kalau ada bukti pemain melakukan pengaturan skor, langsung akan ditangkap kepolisian.

Hal semacam itu yang membuat pemain atau klub berpikir dua kali jika ingin terlibat melakukan pengaturan skor. Sudah ada kejadiannya dan diberitakan.

Berbicara timnas, ada yang mengungkit Timnas Indonesia juga terlibat pengaturan skor di babak final pada Piala AFF 2010, yakni di leg pertama di kandang Malaysia sehingga kalah 0-3. Anda sebagai pemain inti waktu itu, bisa ceritakan?

Yang bicara jika ada perjudian di final Piala AFF 2010 itu sangat menyakiti hati kami sebagai pemain yang membela timnas waktu itu. Kami berjuang di lapangan demi negara. Tidak ada pengaturan seperti itu.

Kalau ada yang bisa membuktikan dan tahu siapa pelakunya, segera tunjukkan. Saya ada di barisan paling depan untuk menghajarnya.

Arema FC
Kapten Arema, Hamka Hamzah, menyapa Aremania setelah timnya meraih kemenangan atas Bali United, Sabtu (20/10/2018) di Stadion Kanjuruhan, Malang. (Bola.com/Iwan Setiawan)
3 of 3

Evaluasi Timnas Indonesia

Sekarang waktunya membicarakan timnas senior di Piala AFF 2018. Analisis Anda, kenapa timnas bisa gagal lolos dari fase grup?

Secara materi pemain sebenarnya hampir sama dengan di Asian Games 2018, hanya ada perubahan beberapa pemain saja. Publik berharap timnas bisa bermain seperti di Asian Games. Perlu di ingat, waktu itu Indonesia tuan rumah. Sementara Piala AFF sistemnya berbeda. Ada pertandingan tandang.

Kita cari solusinya sekarang dari pelatih. Kalau saya ada di posisi senior saya, Bima Sakti, tentu tidak akan menerima tantangan jadi pelatih kepala. Saya harus tahu diri dan terlalu berisiko karena belum pernah menangani klub. Itu masukan saya untuk Bima Sakti.

Sebenarnya ada figur pelatih bagus di Indonesia. Mungkin PSSI bisa meminjam sementara dari klub demi negara kemarin. Tapi, sekarang bukan waktunya mencari kesalahan, harus ada solusi ke depan.

Untuk pelatih, ada beberapa sosok yang punya pengalaman seperti yang dikaitkan di media beberapa waktu lalu. Stefano Cugurra (Persija Jakarta), Simon McMenemy (Bhayangkara FC), dan Robert Alberts (PSM Makassar). Mereka punya kemampuan dan layak dicoba untuk timnas.

Selain faktor pelatih apa lagi yang harus dibenahi agar Timnas Indonesia kembali disegani di ASEAN?

Tentu penjadwalan kompetisi. Idealnya saat ada agenda seperti Piala AFF atau FIFA matchday, kompetisi harus dihentikan dulu. Kalau bisa justru saat Piala AFF bergulir, kompetisi sudah selesai karena pelatih timnas sudah bisa memantau siapa saja pemain terbaik dalam kompetisi.

Saya pikir pemain Indonesia punya kualitas. Mereka mampu untuk jadi juara di Piala AFF.

Agar jadwal sinkron, tentu PSSI, operator kompetisi, dan klub harus duduk bersama. Saya pikir hanya di Indonesia yang kompetisinya jalan saat Piala AFF 2018 digelar.

Harusnya jadwal ini disusun lebih baik. Klub juga harus menyampaikan keberatan jika kompetisi bergulir, tapi pemain terbaiknya dipanggil timnas karena idealnya agenda timnas tidak berbenturan dengan kompetisi.

Lanjutkan Membaca ↓