Reaksi Manajemen PSS atas Sanksi Komdis PSSI

Oleh Vincentius Atmaja pada 12 Des 2018, 21:00 WIB
Diperbarui 12 Des 2018, 21:00 WIB
PSS Sleman Vs Semen Padang

Bola.com, Sleman - Pesta juara Liga 2 2018 yang dirayakan PSS Sleman harus dibayar mahal. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI melayangkan sanksi kepada tim berjulukan Elang Jawa ini akibat ulah suporternya yang menyalakan flare dan kembang api pada laga final melawan Semen Padang di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor (4/12/2018).

Komdis PSSI menjatuhkan sanksi berupa denda sebesar Rp150 juta ditambah lagi menggelar dua pertandingan kandang tanpa dihadiri suporter. Dengan begitu, dua pertandingan kandang saat kompetisi Liga 1 musim 2019, PSS tidak boleh didampingi penonton.

Pada duel final Liga 2 pada 4 Desember 2018, PSS tampil sebagai pemenang dengan kemenangan 2-0 atas Semen Padang.

Adanya sanksi dari Komdis PSSI, membuat manajemen Laskar Sembada kecewa. PSS masih menunggu surat resmi dari PSSI terkait sanksi terbaru.

Dalam kasus ini, ribuan suporter PSS yang memadati Stadion Pakansari, berpesta kembang api pada menit ke-90 atau saat tim kesayangannya unggul 2-0. Dalam regulasi, kembang api maupun petasan dilarang ketika pertandingan masih berlangsung.

"Terus terang kami belum menerima surat resmi terkait sanksi dari Komdis. Yang jelas sangat disayangkan ketika aksi itu dilakukan saat pertandingan, hanya kurang dari dua menit saja," ujar manajer PSS, Sismantoro, kepada Bola.com, Rabu (12/12/2018).

Sismantoro juga menyesalkan PSS harus melewatkan dua kesempatan bermain di kandang sendiri ketika mengawali kompetisi Liga 1 2019.

"Tentu sangat merugikan tim, dua pertandingan kandang harus dilewati tanpa penonton. Namun, semua sudah terjadi dan kami harus memenuhi kewajiban itu," imbuh manajer yang juga merupakan Lurah Candibinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, ini.

Ketua Panpel PSS, Jaguar Tominangi, mengemukakan dengan adanya hukuman dua pertandingan tanpa penonton, dipastikan PSS akan mengalami kerugian senilai Rp600 juta.

Sebab, secara hitungan kasar, panpel harus mengeluarkan dana senilai Rp300 juta untuk penyelenggaraan pertandingan. "Artinya, kami tidak mungkin cetak tiket di dua pertandingan awal," ungkap Jaguar.