Aleksandar Rakic, Madura United, dan Kenyamanan di Indonesia

Oleh Aditya Wany pada 27 Jan 2019, 07:15 WIB
Aleksandar Rakic

Bola.com, Bangkalan - Striker Madura United, Aleksandar Rakic, datang ke Indonesia pada 2018 dan gabung PS Tira tanpa reputasi mentereng. Striker asal Serbia itu tidak memiliki catatan prestasi apa pun dalam kariernya sebelum datang ke Indonesia.

Tetapi, namanya melambung di Liga 1 2018 berkat gelar top scorer yang diraihnya di akhir musim. Bahkan, dia sebenarnya tidak terlalu dijagokan meraih gelar itu mengingat ada striker tajam lain, macam Marko Simic (Persija Jakarta) dan David da Silva (Persebaya Surabaya).

Kepastian Rakic menjadi top scorer terjadi pada pekan terakhir. Sebelum pertandingan, Rakic mencetak 19 gol sementara David 20 gol. David gagal mencetak gol saat melawan PSIS Semarang, sementara Rakic mampu melewati torehan itu setelah mencetak dua gol kontra Borneo FC dan total membukukan 21 gol.

Hal itulah yang kemudian membuat Rakic menjadi hot item, yang lantas membuatnya diburu banyak klub. Sebelum resmi diumumkan, rumor Rakic gabung ke Madura United lebih dulu beredar. Madura United menjadi klub yang beruntung karena akhirnya mendapatkan pemain berusia 31 tahun itu.

Di Madura United, Rakic akan berkumpul bersama pemain berkualitas lain. Beberapa di antaranya Jaimerson Xavier, Zulfiandi, Dane Milovanovic, Fandry Imbiri, Marckho Meraudje. Belum lagi, di lini depan dia harus bersaing dengan Alberto Goncalves dan Greg Nwokolo.

Status Rakic sebagai top scorer musim lalu sebenarnya bisa menjadi nilai plus. Namun, bukan perkara mudah juga buatnya serta merta mendapatkan tempat utama tanpa usaha.

Rakic mengaku mendapatkan tawaran dari beberapa klub lain setelah kontraknya habis di PS Tira. Namun, ada beberapa hal yang kemudian membuatnya ingin melanjutkan karier lagi di Indonesia.

Dia pun membagikan rencananya selama membela Madura United di musim 2019. Bola.com mendapat kesempatan menemuinya untuk melakukan wawancara di kediamannya di Surabaya, Sabtu (26/1/2019).

2 of 4

Alasan Gabung Madura United

Apa yang membuat Anda tertarik datang ke Madura United?

Mulanya, saya berbicara dengan agen saya, Gabriel Budi, saat Liga 1 musim 2018 akan berakhir. Dia bilang Madura United punya rencana berkelanjutan dan itu bagus buat saya. Saya tidak tahu banyak tentang Madura. Budi bilang semuanya baik di sini.

Madura sudah lama mengontak saya, sejak sebelum Liga 1 berakhir. Bagi saya, ini menjadi tantangan untuk bergabung dengan Madura United. Klub ini cukup bagus dan terlihat serius mendatangkan pemain.

Apa tidak ada tawaran dari klub lain?

Ada banyak, beberapa dari Indonesia, sisanya luar negeri. Saya berbicara dengan agen, pilihan untuk bertahan di Indonesia untuk karier saya cukup bagus. Saya melihat beberapa faktor yang membuat saya nyaman di negara ini.

Satu di antaranya karena biaya hidup di Indonesia cukup murah untuk pemain Eropa seperti saya. Saya tidak perlu menghabiskan banyak uang di sini. Saya bekerja dan bisa tingal di sini dengan nyaman.

Selain itu, biasanya orang Eropa datang ke Indonesia untuk berlibur, ke Bali atau Lombok misalnya. Saya tidak perlu melakukan itu. Kalau memang agenda tim sedang kosong, saya bisa langsung pergi saja liburan dengan tenang ke sana.

Bagaimana dengan target tim musim 2019?

Madura United mendatangkan pelatih yang bagus, Dejan Antonic. Mereka juga mendatangkan pemain bagus. Mereka memiliki target setidaknya finis tiga besar di Liga 1. Kalau semuanya berjalan baik, kami bisa saja meraihnya.

Kalau berkaca musim lalu, klub yang bersaing di perebutan juara memiliki nama besar, banyak pemain bintang, dan mereka berjuang sampai akhir di lapangan. Mereka bekerja sama dengan baik, tidak egois. Jika kami melakukan seperti itu, juara bukan hal yang mustahil.

Aleksandar Rakic
Striker baru Madura United, Aleksandar Rakic. (Bola.com/Aditya Wany)
3 of 4

Target Pribadi

Pelatih Madura United, Dejan Antonic, juga berasal dari Serbia. Apakah itu juga jadi pertimbangan Anda?

Saya sudah mengenal Dejan sejak musim lalu. Betul, kami berasal dari negara yang sama. Saya pertama bertemu saat masih berseragam PS Tira, dan dia pelatih Borneo FC. Saat itu pertandingan digelar di Yogya (Stadion Sultan Agung, Bantul, 20 Juli 2018).

Setelah pertandingan, saya berbicara dengan dia. Dia pelatih yang bagus. Saya mencari tahu dia pernah berkarier sebagai pemain di Indonesia. Dia bisa membuat Madura United lebih baik karena pengalamannya.

Bagaimana dengan target pribadi?

Saya sebenarnya bahkan tidak terlalu dijagokan sebagai top scorer musim lalu. Saya beberapa kali hanya menembus tempat kedua di daftar pencetak gol setelah David da Silva (saat itu membela Persebaya) yang berada di puncak.

Di pertandingan terakhir, saya punya kans menyalip David, tapi sepertinya tidak banyak yang membicarakan itu. Tapi, saya kemudian berhasil mencetak dua gol dan mengungguli torehan David (20 gol). Saya mencetak 21 gol.

Mungkin, saya tidak bisa bilang akan jadi top scorer lagi, tapi saya bisa bilang akan berusaha meraih tiga atau empat besar daftar pencetak gol. Itu adalah target pribadi saya, semoga bisa meraihnya.

Suporter Madura United punya ekspektasi besar kepada Anda. Bagaimana menyikapinya?

Saya tahu itu. Kedatangan saya ke Madura United membuat saya senang. Saya pun juga senang karena membela klub yang memiliki cukup banyak suporter. Bukan bermaksud menyinggung, seperti semua orang tahu, PS Tira klub yang tidak memiliki banyak suporter.

Suporter Madura United menyambut saya dengan hangat saat saya awal bergabung. Kehadiran mereka akan sangat membantu membuat saya lebih semangat bertanding membela tim. Tapi, saya tidak suka membicarakan target gol. Saya jarang sekali berbicara itu.

Saya memang memiliki bayangan bisa menjadi top scorer. Tapi, saya tidak terlalu memikirkannya. Karakter saya memang seperti ini. Saya senang menempa diri sendiri. Saya seorang pekerja keras. Itu saja.

4 of 4

Rencana Memboyong Keluarga

Anda tinggal di Surabaya, sementara latihan tim di Stadion Gelora Bangkalan. Jaraknya sekitar 50 km. Apakah itu menjadi kesulitan buat Anda?

Saat pertama datang ke Surabaya, saya merasa agak kesulitan. Butuh waktu yang cukup lama, sekitar 30-45 menit untuk ke latihan di Bangkalan. Setelah saya pikir, itu hal yang wajar saja sebenarnya.

Saat di Yogya (membela PS Tira), saya juga butuh waktu selama itu untuk berangkat ke tempat latihan, tergantung kemacetan jalan. Buat saya, ini bukan masalah.

Yang harus dipahami, Madura United punya lapangan yang bagus untuk latihan. Rumputnya memang berkualitas. Saya sangat menikmati setiap latihan. Kondisi di sana yang membuat saya senang.

Anda sudah menikah, ada rencana mengajak istri tinggal di Indonesia?

Ya, musim lalu istri saya ikut saya ke Indonesia. Tapi, situasinya sekarang kurang bagus mengajak dia. Istri saya sedang hamil, dan usia kandungannya sudah 36 pekan. Mungkin Februari atau Maret akan melahirkan.

Memang sulit harus menjalani long distance relationship (LDR). Selama ini, dia selalu ikut ke negara mana pun saya berkarier. Rencananya, saya akan membiarkan dia tinggal di Serbia dulu.

Setelah itu, saya harus menunggu anak pertama saya lahir, dan itu tidak bisa langsung memboyong keluarga ke Indonesia. Saya harus menunggu anak saya berusia enam bulan dulu. Mungkin musim panas, sekitar Juni atau Juli, saya akan mengajak mereka tinggal di sini.

Lanjutkan Membaca ↓