Cerita Hansamu Yama perihal Pernikahan dan Keputusan Tinggalkan Pendidikan Polisi

Oleh Aditya Wany pada 28 Jan 2019, 16:10 WIB
Hansamu Yama

Bola.com, Surabaya - Hansamu Yama Pranata sudah satu pekan lebih bergabung sebagai pemain Persebaya. Dalam beberapa latihan, kapten Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 itu telah menyatu dengan permainan tim.

Pemain asal Mojokerto tersebut tidak terlihat canggung berhadapan dengan pemain lama Persebaya, yang saat ini jadi mayoritas penghuni tim. Bahkan, Hansamu dengan cepat beradaptasi dan akrab dengan pemain yang kebanyakan asli Jawa Timur.

Di luar itu, Hansamu sedang disibukkan dengan persiapan menggelar resepsi pernikahan. Tidak lama lagi, stoper berusia 23 tahun itu akan melepas masa lajang.

Dia mulai menata rencana dalam berkarier di Persebaya sambil ditemani oleh sang istri. Mantan pemain Barito Putera itu sedang mempertimbangan tetap tinggal di Mojokerto atau menetap di Surabaya.

Berbicara kariernya, Hansamu sebenarnya pernah masuk Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jatim. Saat itu, dia masuk pada 2016 bersama pemain jebolan Timnas Indonesia U-19, yang kini akhirnya membela Bhayangkara FC, meski beberapa telah bergabung klub lain.

Beberapa di antaranya adalah M. Hargianto, Putu Gede, M. Fatchu Rochman, Sahrul Kurniawan, Maldini Pali, dan Muchlis Hadi Ning. Namun, Hansamu memilih meninggalkannya dan fokus pada karier profesional.

Belum lama ini, Bola.com bertemu dengan Hansamu dan berkesempatan mewawancarainya setelah latihan Persebaya di Lapangan Polda Jatim, Surabaya. Dia pun membagikan ceritanya mengenai dua hal itu. 

2 of 3

Menikah

Jarak Mojokerto-Surabaya hanya sekitar 50 km. Memilih melaju atau tinggal di Surabaya?

Lihat kondisi latihan dulu, kalau memang agak longgar, saya biasanya pulang ke Mojokerto. Beberapa kali latihannya dua kali sehari, atau hari-hari biasa, saya pilih tinggal di mes pemain. Kalau besoknya libur, saya akan pulang ke Mojokerto.

Memang itu enaknya, jarak ke rumah tidak terlalu jauh. Saya bisa lebih sering bertemu dengan orang tua dan keluarga. Sampai sekarang saya masih menyesuaikan kondisi sesuai dengan kebutuhan latihan.

Jadi belum memutuskan akan menetap di Surabaya atau melaju dari Mojokerto?

Saya pilih tinggal di mes karena pertimbangan kondisi fisik juga. Kalau bolak-balik dari Mojokerto ke Surabaya setiap hari lumayan menguras tenaga. Kalau latihan ada jeda libur misalnya, saya pasti pulang. Jadi tidak pasti memilih salah satunya.

Seperti saya bilang, pertimbangan untuk menerima tawaran Persebaya, salah satunya karena keluarga. Saya ingin dekat dengan mereka. Ini kesempatan untuk lebih sering bertemu dengan orang tua saya di Mojokerto.

Kabarnya Anda segera menikah?

Iya, insya Allah, saya mau menikah Februari nanti. Calon istri saya orang asli Mojokerto juga. Gabung Persebaya itu dipengaruhi oleh faktor, salah satunya, rencana saya setelah menikah tidak jauh dari orang tua saya, atau orang tua istri nantinya.

Setelah menikah, rencananya saya akan tinggal di Surabaya saja sama istri. Lihat saja sambil jalan seperti apa. Kalau latihan libur, atau ada waktu kosong, bisa saja pulang karena memang tidak terlalu jauh.

3 of 3

Keputusan Tepat

Anda dulu pernah tercatat sebagai siswa SPN dan memutuskan keluar. Apakah itu keputusan tepat?

Tepat kalau menurut saya. Masalah hati itu tidak bisa dipaksa. Saya waktu itu mengundurkan diri karena sudah jadi keputusan saya. Tidak ada penyesalan atau bagaimana. Saya merasa jalan saya seperti ini, menjadi pemain profesional.

Ada yang bilang kalau jadi polisi nanti harus bermain untuk Bhayangkara FC. Saya sebenarnya tidak tahu itu. Tapi, waktu itu pertimbangan saya karena memikirkan karier ke depan, tidak ada yang lain.

Anda bilang sudah lama berencana gabung Persebaya. Apakah itu juga faktor yang membuat Anda keluar dari SPN supaya lebih muda memuluskan keinginan itu?

Saya dulu tidak kepikiran sampai sejauh itu. Tapi, dari dulu sudah kepikiran ingin gabung Persebaya. Tidak ada kepikiran kalau jadi polisi akan sulit gabung Persebaya. Pertimbangannya (keluar SPN) bukan itu (ingin bergabung Persebaya).

Sebenarnya yang penting nyaman. Di Bhayangkara banyak juga teman-teman saya yang bisa menjalani kariernya dengan baik. Kalau saya merasa lebih nyaman menjadi pemain profesional. Klub mana pun tidak masalah.

Lanjutkan Membaca ↓