Pemain Sayap Arema Belum Terlepas dari Kutukan Awal Musim

Oleh Iwan Setiawan pada 29 Jan 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 29 Jan 2019, 16:00 WIB
Nasir Arema

Bola.com, Malang - Pemain sayap Arema FC, Nasir masih mengalami nasib sial. Ketika kesempatan jadi starter terbuka lebar, justru kini kondisinya tidak fit.

Itu tampak ketika leg pertama 32 besar Piala Indonesia melawan Persita Tangerang di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pekan lalu (26/1/2019). Nasir yang dipercaya turun sejak menit awal jadi pemain pertama yang diganti pada menit ke-44.

“Saya sendiri bingung. Tiba-tiba seperti meriang. Kemarin waktu coba untuk latihan rasanya juga masih tidak enak. Padahal sekarang tidak dalam kondisi cedera. Tapi kondisi saya yang kurang fit,” kata mantan pemain Persatu Tuban ini.

Saat ini, Arema tengah kekurangan pemain di sektor sayap kiri. Rivaldi Bawuo yang diturunkan sebagai pengganti Nasir juga bermain dibawah performa terbaik. Dia sering kehilangan bola ketika coba melewati pemain lain.

Nasir mengaku belum bisa memastikan kondisinya untuk leg kedua di kandang Persita akhir pekan ini (3/2/2019). Tapi, dia berusaha untuk segera sembuh. “Sekarang masih terasa tidak enak badan. Jadi belum tahu leg kedua nanti main atau tidak. Semoga saja segera fit,” jelasnya.

Bukan kali ini saja Nasir mengalami nasib sial. Awal musim lalu nasibnya justru lebih buruk. Dia mengalami retak di tulang metatarsal sehingga Nasir harus menepi lebih dari tiga bulan. “Saya tidak tahu kedepan. Semoga saja segera fit dan bisa bermain penuh,” harapnya.

Nasir sempat mencuri perhatian ketika awal gabung Arema musim 2017. Waktu itu, dia jadi pilihan utama sektor sayap kiri. Ia mendapat kesempatan tampil lantaran ada regulasi setiap klub waktu menurunkan tiga pemain U-22 dalam putaran pertama Liga 1.

Nasir pun terpanggil mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-22 waktu itu. Sayang, performanya menurun setelah kembali ke Arema. Dia sering jadi cadangan saat putaran kedua.

Bima Sakti Jelaskan Latihan Timnas Indonesia U-16 yang Berbeda di Tengah Pandemi COVID-19