Cerita dari Restoran Sumatra Menjelang Semifinal Piala AFF U-22 di Phnom Penh

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 24 Feb 2019, 10:30 WIB
Diperbarui 24 Feb 2019, 10:30 WIB
Restoran Sumatra, Phnom Penh
Restoran Sumatra menjadi salah satu tempat yang bisa mengobati kerinduan akan masakan Indonesia di Phnom Penh, Kamboja. (Bola.com/Zulfirdaus Harahap)

Bola.com, Phnom Penh - Bagi pelancong asal Indonesia, berkunjung ke luar negeri untuk waktu yang lama terkadang menimbulkan kerinduan akan masakan nusantara. Tak terkecuali dengan para jurnalis peliput Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Beruntung rasanya karena tak sulit menemukan tempat yang menjual makanan Indonesia di Phnom Penh, yakni Restoran Sumatra.

Kesan pertama jika melihat namanya yakni ‘Restoran Sumatra’ ekspektasi yang diharapkan tentu saja tempat ini menyajikan masakan-masakan dari Pulau Sumatra. Pada kenyataannya, tak sekadar masakan Sumatra, restoran yang terletak di 67, Street 123 Sangkat Toul Tum Poung, Phnom Penh, itu menyajikan berbagai masakan dari seluruh nusantara. 

Restoran Sumatra berdiri sejak 2009 ketika sang pemilik, Markus, melihat peluang bisnis di Kamboja. Pria asal Yogyakarta itu kemudian memutuskan untuk berhenti dari tempat kerjanya sebagai koki di salah satu hotel bintang 5 di Jakarta.

Markus memberanikan diri untuk membuka restoran di Phnom Penh, Kamboja, dengan modal dua meja saja. Lambat laun, usaha yang dirintisnya mampu berkembang dan sejauh ini sudah dua kali pindah ke tempat yang lebih besar hingga akhirnya menetap di lokasi sekarang.

“Pada 2008, saya punya kesempatan jalan-jalan ke Kamboja kemudian saya melihat adanya peluang untuk memulai bisnis makanan Indonesia. Saya melihat hanya ada orang asing dan saya yakin mereka suka makanan Indonesia. Saya mulai akhirnya Restoran Sumatra pada 2009,” kata Markus.

Pemilihan nama Restoran Sumatra ternyata punya filosofis. Menurut Markus, nama tersebut dipilih karena mengacu pada lagu yang terkenal di Kamboja yakni Leahaey Sumatra.

“Ada seorang laki-laki Kamboja yang pergi ke Indonesia dan jatuh cinta sama wanita Sumatra. Akan tetapi, tidak jadi menikah. Lalu dia kembali ke Kamboja dan menciptakan satu lagu yang judulnya Leahaey Sumatra yang berarti Selamat Tinggal Sumatra. Jadi, nama Sumatra itu sudah familiar di telinga masyarakat Kamboja,” ujar Markus.

Restoran Sumatra sendiri memiliki menu favorit yang kerap dipesan para pengunjung. Menurut Markus, menu favoritnya adalah terong balado. 

“Ada sate, rendang, dan terong balado. Itu merupakan makanan yang cukup favorit di restoran kami,” ujar Markus.

Dengan biaya sekali makan tak sampai 7 dollar AS, Anda yang sedang berada di Kamboja sesaat akan terobati dengan masakan nusantara. Apalagi lokasi restoran ini yang tak jauh dari pusat kota Phnom Penh, Kamboja dan kerap memberikan potongan harga sebesar 30 persen untuk Warga Negara Indonesia.

Nikmati sajian liputan khusus Piala AFF U-22 2019 dari Kamboja di situs Bola.com dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Pernah Dicicipi Pejabat Negara Hingga Jusuf Kalla

Sejak berdiri pada 2009, Restoran Sumatra menjadi salah satu masakan Indonesia di Phnom Penh, Kamboja, yang jadi favorit pengunjung. (Bola.com/Zulfirdaus Harahap)

Sebagai salah satu tempat yang menyajikan masakan nusantara, tak jarang Restoran Sumatra menerima tamu-tamu penting. Markus berkata, sudah empat kali pergantian Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, selalu mampir ke restorannya.

Selain menyediakan makan di tempat, Markus menyebut Restoran Sumatra juga sering menerima pesanan katering. Salah satu yang paling berkesan buat Markus adalah ketika dipercaya untuk memasak makanan untuk Wakil Presiden Jusuf Kalla pada awal Januari 2019.

“Pasti Bapak Duta Besar sudah berganti hingga empat kali dan selalu mampir ke sini. Begitu juga ketika ada event di KBRi itu juga mereka pesan dari kami,” ucap Markus.

“Selain itu, kami pernah melayani Bapak Jusuf Kalla yakni pesanan untuk pesawat pribadinya. Kemudian Ibu Megawati dan ada beberapa anggota DPR yang pernah ke sini juga,” kenang Markus.

Lanjutkan Membaca ↓