Stefano Teco Mengutuk Suporter yang Menyerang Pelatih Semen Padang

Oleh Muhammad Adiyaksa pada 12 Mar 2019, 05:40 WIB
Suporter Semen Padang.

Bola.com, Bekasi - Pelatih Bali United, Stefano Cugurra Teco mengutuk aksi sejumlah suporter yang merangsek masuk lapangan dan berusaha menyerang skuat Semen Padang. Arsitek asal Brasil ini menilai kelakuan pendukung seperti itu akan mencoreng sepak bola nasional.

Sejumlah suporter Semen Padang memasuki lapangan seusai tim kebanggaannya takluk 1-2 dari Bali United pada partai kedua Piala Presiden Grup B di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Senin (11/3/2019). Serangan lalu coba diarahkan kepada skuat tim berjuluk Kabau Sirah itu. Beruntung, petugas keamanan dengan sigap menghalau percobaan tindakan anarkistis tersebut.

Segelintir suporter tersebut diduga emosi menyusul kekalahan Semen Padang dari Bali United yang juga membuat Kabau Sirah tersingkir dari Piala Presiden 2019. Sebelumnya, Irsyad Maulana dan kawan-kawan juga nihil poin ketika dibantai Bhayangkara FC 2-4.

"Saya melihat di pertandingan. Dua tim bekerja keras. Saya pikir suporter harus memberikan apresiasi. Tapi, saya melihat situasi sangat buruk untuk sepak bola Indonesia. Setelah pertandingan ada suporter masuk ke lapangan untuk pukul tim pelatih lawan," ujar Teco pada konferensi pers setelah pertandingan.

"Di sepak bola, suporter harus tahu. Hanya ada tiga hasil. Menang, seri, dan kalah. Hasil apapun di sepak bola, suporter harus terima. Ini contoh buruk untuk sepak bola Indonesia," kata arsitek asal Brasil itu menambahkan.

Ketika konferensi pers akan dimulai, suporter Semen Padang sempat berdemo menuntut pelatih Syafrianto Rusli untuk mundur. Hanya saja, Syafrianto Rusli bergeming. Sesi konferensi pers tetap dilaksanakan, alih-alih ditunda karena puluhan suporter terus memprotes menginginkan perbaikan di dalam tim.

Teco pernah ada di dalam keadaan yang mirip dengan Syafrianto Rusli. Ketika itu dirinya masih menangani Persija Jakarta pada dua tahun lalu. Tim berjuluk Macan Kemayoran ini menuai hasil buruk di awal musim. Nama Teco mulai tercoreng di mata suporter. Meski begitu, mantan asisten pelatih Persebaya Surabaya ini malah berhasil membawa tim ibu kota bangkit di tengah tekanan bertubi-tubi.

"Waktu itu di Persija mendapatkan hasil buruk, saya harus terima. Tekanan dari suporter saya menerima. Lalu saya harus kerja ekstra keras untuk tim saya untuk dapat keluar dari raihan negatif."

"Waktu keluar dari hasil negatif, kami menang dan suporter senang. Suporter harus menerima hasil. Pelatih harus menerima saat tim bermain kurang baik. Tapi suporter harus menerimanya juga. Tidak boleh main pukul. Tidak boleh masuk ke lapangan. Di lapangan tidak boleh ada suporter. Suporter di tribune," imbuh Teco.