Rekam Jejak Persebaya: dari Degradasi, Dualisme, hingga ke Final Piala Presiden 2019

Oleh Aditya Wany pada 09 Apr 2019, 09:30 WIB
Persebaya Surabaya

Bola.com, Surabaya - Derbi Jatim yang mempertemukan Persebaya Surabaya dan Arema FC akan menjadi suguhan menarik di partai puncak final Piala Presiden 2019. Kedua tim asal Jawa Timur itu dikenal menjalin rivalitas tinggi di sepak bola nasional.

Jauh sebelum partai ini digelar, Persebaya pernah mengalami momen buruk, tepatnya pada Indonesia Super League (ISL) 2009-2010. Saat Arema menjuarai kompetisi tersebut, Persebaya justru mengalami degradasi, namun dengan cara yang aneh.

Ketika itu, Persebaya seharusnya berjumpa Persik Kediri pada 29 April 2010 di Stadion Briwijaya, Kediri. Laga itu amat penting karena kemenangan akan membuat mereka mendapatkan tiket playoff agar tidak terdegradasi. Pertemuan itu ditunggu oleh Pelita Jaya yang juga berjuang mendapatkan playoff.

Sayang, pertemuan itu tak pernah digelar. Saat di Kediri, Persik tidak mengantongi izin keamanan yang membuat laga dipindah ke Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, 6 Mei 2010. Lagi-lagi, Persik tidak mengontongi izin keamanan di Yogyakarta.

Sesuai regulasi, Persebaya seharusnya menang tanpa bertanding dan mendapat kemenangan dengan skor 3-0. Alih-alih melakukannya, PT Liga Indonesia kemudian memindahkan laga ini di Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, pada 5 Agustus 2010. Persebaya enggan datang karena merasa dikerjai oleh PSSI.

Alhasil, klub berjulukan Bajul Ijo itu dinyatakan kalah dan harus puas dengan finis di peringkat ke-17 dan mengoleksi 36 poin. Mereka kalah dari Persik dan Pelita Jaya yang sama-sama mengoleksi 39 poin. Pelita Jaya yang unggul selisih gol mendapatkan tiket play-off dan menang 4-2 dalam adu penalti melawan Persiram Raja Ampat (10/8/2018). Persebaya dan Persik dipastikan degradasi. 

Akibat insiden itu, manajemen Persebaya kemudian mengambil keputusan tak ingin berlaga di Divisi Utama (kasta kedua) 2010-2011. Sebagai wujud protes, mereka berkompetisi di LPI 2011 yang merupakan kompetisi tandingan ISL.

 

2 of 4

Dualisme hingga Tak Diakui PSSI

Persebaya Surabaya
Persebaya saat latihan. (Bola.com/Aditya Wany)

Pada momen inilah, muncul sebuah tim yang bernama serupa. Mereka menggunakan nama Persebaya DU dan mendatangkan pemain Persikubar Kutai Barat untuk menggantikan kiprah Persebaya. Klub terakhir ini sekarang telah bernama Bhayangkara FC.

Keputusan meninggalkan kompetisi resmi berbuntut panjang hingga dualisme. Persebaya 1927, nama yang digunakan untuk membedakan dengan Persebaya DU, masih berkompetisi di IPL pada musim 2011-2012 dan 2013. Dualisme kompetisi masih mewadahi mereka berkiprah.

Tapi, lain halnya dengan musim 2014. Persebaya 1927 telah hilang. Sebagai penggati Persebaya DU yang naik kasta ke ISL 2014 muncul dengan menggunakan nama Persebaya Surabaya. Selama lebih dari lima tahun dualisme, Bonek dalam kondisi gamang melihat klub idamannya tidak bertanding. PSSI pun tak mengakui.

Penantian Bonek itu akhirnya semakin jelas saat Persebaya tandingan berganti nama mulai dari Persebaya, Bonek FC, Surabaya United, hingga Bhayangkara Surabaya United. Klub tandingan itu tak bisa lagi memakai berbagai atribut yang identik dengan Persebaya, sampai akhirnya memakai nama Bhayangkara FC setelah saham mayoritasnya dibeli oleh Polri pada 2016.

Tahun 2017, Bonek semakin tidak sabar melihat Persebaya yang asli diakui oleh PSSI. Pada 8 Januari 2017, harapan semua pecinta Persebaya akhirnya terkabul. Klub yang lahir pada 1927 itu diakui PSSI sebagai anggota. Tapi, mereka harus memulai dari Liga 2, tidak langsung masuk Liga 1.

 

3 of 4

Kembali ke Kasta Tertinggi, Liga 1 2018

Viking, Bonek
Bonek dan Viking atau Bobotoh membaur pada satu tribune di Stadion Gelora Bung Tomo, saat pertandingan Persebaya kontra Persib, Kamis (26/7/2018) malam. (Bola.com/Aditya Wany)

Berada di bawah kepemilikan sebuah media di Jawa Timur, Persebaya kemudian mulai membangun tim untuk melakukan persiapan Liga 2 2017. Beberapa pemain muda didatangkan. Mereka menyesuaikan dengan regulasi kompetisi yang mengharuskan skuat didominasi pemain di bawah 25 tahun.

Sebagai pemanasan, Persebaya kemudian mengikuti Piala Dirgantara 2017. Mereka berhasil meraih gelar juara di turnamen tersebut di bawah arahan pelatih kepala Iwan Setiawan. Sayang, perjalanan Iwan tidak lama karena berkonfrontasi dengan Bonek pada Mei 2017.

Setelah sempat ditangani Ahmad Rosidin sebagai interim, Persebaya lalu menunjuk pelatih asal Argentina, Angel Alfredo Vera. Nama satu ini agak asing di telinga Bonek. Tapi, Alfredo sendiri punya prestasi membawa Persipura Jayapura menjuarai ISC A 2016.

Alfredo kemudian mulai menata skuat yang dimilikinya. Dia benar-benar memoles pemain muda macam Irfan Jaya, Muhammad Hidayat, Miswar Saputra, Abu Rizal, Oktafianus Fernando, Misbakus Solikin, dan Rachmat Irianto. Semua nama itu belum dikenal publik secara luas sebelum bergabung Persebaya.

Pelatih berusia 46 tahun itu sempat kesulitan dan kalah 0-1 dari PS Badung dan imbang 1-1 dari Persik Kediri dalam laga uji coba. Begitu tampil di Liga 2, Alfredo mampu mengubah semangat juang dan mental pemberani para pemainnya.

Dari babak penyisihan, Persebaya berhasil menjuarai grup. Sampai seterusnya Bajul Ijo masuk ke perempat final, semifinal, hingga menjadi juara dengan mengalahkan PSMS Medan di partai puncak kompetisi kasta kedua itu. Persebaya akhirnya promosi ke Liga 1.

Mental juara para pemain Persebaya mulai terbangun sejak saat itu. Tapi, kebanyakan dari mereka belum berpengalaman di kasta tertinggi. Hal itulah yang kemudian membuat Persebaya sempat terseok-seok di beberapa pekan awal.

Padahal, nama-nama beken dan berpengalaman sudah bergabung dengan klub ini. Sebut saja Otavio Dutra, Robertino Pugliara, Osvaldo Haay, Ruben Sanadi, Nelson Alom, Fandi Eko Utomo, hingga David da Silva yang merupakan striker fenomenal.

Setelah tiga kekalahan beruntun, Alfredo mendapat tekanan mundur dari Bonek. Manajemen menyebut dirinya mundur pada awal Agustus, tapi belakangan Alfredo mengaku dipecat.

Persebaya saat itu masih tercecer di peringkat ke-15 setelah melewati 18 pertandingan. Manajemen menunjuk Sugiantoro sebagai pelatih interim. Lisensinya yang masih AFC B belum bisa membuatnya menjadi pelatih kepala. Beberapa pekan kemudian, Djadjang Nurdjaman muncul sebagai pengganti.

Pelatih yang akrab disapa Djanur itu tidak langsung menjalani pertandingan debutnya dengan mulus bersama Persebaya. Dia justru menelan kekalahan 0-2 dari PS Tira (kini Tira Persikabo) di hadapan Bonek (11/9/2018).

Titik keberhasilan Persebaya terjadi justru melawan mantan klub Djanur, Persib Bandung. Dalam laga bertajuk Perang Dulur, merujuk pada persaudaraan suporter kedua tim, Persebaya menang 4-1 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, 20 Oktober 2018.

Berikutnya Madura United, Persija Jakarta, PSM Makassar, Bali United, dan Bhayangkara FC menjadi korban keganasan Persebaya. Padahal, semua klub tersebut dikenal sebagai klub papan atas selama beberapa musim terakhir. Persebaya finis di peringkat kelima Liga 1 2018 dengan 50 poin.

 

4 of 4

Mengawali 2019 dengan Tak Terkalahkan hingga Final Piala Presiden

Djadjang Nurdjaman
Pelatih Persebaya, Djadjang Nurdjaman, saat mendampingi tim dalam sesi latihan. (Bola.com/Aditya Wany)

Memasuki tahun 2019, Persebaya masih mempertahankan Djanur sebagai arsitek tim. Djanur kemudian mendatangkan sejumlah pemain berpengalaman macam Novan Sasongko, Hansamu Yama, dan Manuchehr Jalilov. Tak lupa, dua pemain asing baru yang sangat berkualitas pada diri Amido Balde dan Damian Lizio.

Kehadiran pemain baru itu dikombinasi dengan pemain lama yang masih muda seperti yang sudah disebutkan di atas. Nama-nama pemain yang bergabung sejak Liga 2 dipertahankan dan semakin matang menghadapi musim baru.

Alhasil, Persebaya menjadi satu-satunya tim tak terkalahkan selama 2019, termasuk Piala Indonesia dan Piala Presiden. Kini, mereka malah masuk ke final Piala Presiden 2019 dan kembali ke persaingan elit setelah jalan panjang. Lawan yang akan dihadapi pun bukan sembarangan, yakni Arema FC yang tak lain rival sesama klub Jawa Timur.

Lanjutkan Membaca ↓