Viola Kurniawati dan Impian Bersama PSS Sleman

Oleh Vincentius Atmaja pada 24 Mei 2019, 17:15 WIB
Wawancara Viola Kurniawati

Bola.com, Sleman - Sepak bola tidak selamanya identik sebagai olahraga kaum pria. Pemain, tim medis, hingga pengurus di manajemen mulai diramaikan oleh kaum wanita. Termasuk yang dilakukan oleh Viola Kurniawati bersama PSS Sleman.

Nama Viola Kurniawati menghiasi persepakbolaan Indonesia belakangan ini dengan menjadi wanita pertama yang menjadi CEO klub di kasta tertinggi yang tampil di Shopee Liga 1 2019. Viola kini resmi menjadi orang nomor satu di PSS Sleman menggantikan posisi Soekeno.

Viola memang memiliki pengalaman dalam dunia sepak bola dengan menjadi media officer Persija Jakarta dan staff PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), yang merupakan operator kompetisi sepak bola profesional di Indonesia.

Berbagai pengalamannya itu yang dibawanya dan ingin ditularkan untuk membantu perkembangan tim Elang Jawa.

Banyak hal yang menjadi impiannya bersama PSS Sleman untuk menjadi role model banyak klub lainnya. Dengan karakteristik yang dimiliki PSS, Viola yakin dapat mengembangkan potensi tim promosi Liga 1 2019 ini.

Berikut petikan wawancara dengan CEO PSS Sleman, Viola Kurniawati, yang berbeicara kepada awak media, termasuk Bola.com dalam kesempatan buka puasa bersama di Sleman, Kamis (23/5/2019) petang.

 

2 of 2

Berkecimpung di Dunia Sepak Bola dan Rencana untuk PSS

PSS Sleman Vs Arema FC
Para pemain PSS Sleman bersiap menghadapi Arema FC pada laga Liga 1 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu (15/5). PSS menang 3-1 atas Arema. (Bola.com/Yoppy Renato)

Bagaimana awal cerita bisa terjun di dunia sepak bola?

Awalnya dari kampus, kemudian pertama kali kenal sepak bola Indonesia saat di Persija U-15 yang ikut dalam Liga Soeratin di level Provinsi DKI pada 2008. Makanya sampai sekarang saya concern terhadap pembinaan pemain-pemain junior.

Background keluarga saya tidak ada yang dari dunia sepak bola. Boleh dibilang saya kecebur saja di olahraga ini.

 

Punya pemain atau tim favorit?

Kalau di Indonesia, tidak ada pemain yang menjadi favorit saya karena semua pemain adalah teman. Kalau luar negeri, tentu sudah tahu dong kalau saya penggemar berat Liverpool.

 

Bagaimana cerita awal ingin mengurus PSS Sleman?

Saya hampir merapat ke PSS Sleman pada 2013. Saat itu masih ada almarhum Pak Supardjiono. Suatu saat saya akan membantu PSS dan akhirnya terwujud sekarang. Kemudian ada tawaran dari Pak Soekeno dan saya menerimanya.

 

Bagaimana melihat potensi yang ada di PSS Sleman?

PSS akan menjadi tim hebat di masa mendatang. Ada teman-teman suporter yang menjadi potensi kami. Seharusnya menjadi role model dengan memaksimalkan peran suporter.

Memang tidak bisa membuat PSS akan seperti Persija atau Persib, karena masing-masing klub punya karakteristik. Kelasnya berbeda-beda. Saya lebih nyaman dengan ibarat kolam kecil tapi ikannya banyak.

 

Suporter PSS Sleman memberikan dukungan saat melawan Arema FC pada laga Liga 1 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu (15/5). PSS menang 3-1 atas Arema. (Bola.com/Yoppy Renato)

 

Bagaimana pendapatnya tentang peran petinggi di struktur manajemen sebuah tim?

Belum ada model struktur yang ideal untuk klub di Indonesia. Peran manajer dan pelatih tidak sama di luar negeri. Sementara peran CEO tim luar negeri, tidak hanya senior yang diurusi, tapi juga bagaimana bisnisnya, akademinya. Tugas CEO lebih banyak di balik layar. Seperti tim-tim luar negeri, CEO tidak tampak langsung.

 

Apa perkembangan yang sudah ada sejak menjadi CEO baru PSS?

Kami bekerja sama dengan pemda. Pak Bupati sangat mendukung seperti slogan Visit Sleman. Ada rencana musim ini kami akan punya store, tapi belum bisa memastikan kapan waktunya.

Soal Stadion, jika mengambil jangka panjang hitungannya berbeda. Untuk saat ini biar berjalan seperti sebelumnya, yakni dilakukan setiap pertandingan. Seperti kemarin ada beberapa kerusakan, kami ganti rugi sebagai penyewa. Sejauh ini bench dan gawang yang kami benahi karena paling krusial.

 

Apa rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk PSS?

Untuk jangka pendeknya, agar PSS bisa bertahan di Liga 1 ya membenahi performa tim. Kemudian akademi PSS berjalan, sebagai role model yang kami inginkan. Musim ini memang berat, tapi ke depan bakal ada yang didapat secara positif.

Sementara untuk jangka panjangnya, PSS harus punya unit bisnis, bukan sekadar sponsor atau tiket. Tapi, juga bisa dari merchandise dan turunan-turunan bisnis lainnya.

 

Lanjutkan Membaca ↓