Persija Vs PSM: 7 Kali Berpesta Juara, SUGBK Kandang Keramat bagi Macan Kemayoran

Oleh Ario Yosia pada 21 Jul 2019, 09:00 WIB
Persija Jakarta Vs Mitra Kukar

Bola.com, Jakarta - Persija Jakarta bersua PSM Makassar di final leg pertama Piala Indonesia 2018-2019 pada Minggu (21/7/2019) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Tim Macan Kemayoran punya banyak cerita indah di stadion termegah di Indonesia tersebut

Persija hingga saat ini tercatat sebagai klub terbanyak meraih gelar juara kompetisi kasta tertinggi Tanah Air. Mayoritas di antaranya didapat dengan memenangi laga puncak di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

Persija tercatat menjadi jawara perserikatan edisi tahun 1931, 1933, 1934, 1938 (sebagai VIJ Jakarta), 1954, 1964, 1973, 1975, 1979. Dua gelar lagi didapat Macan Kemayoran di era Liga Indonesia (penggabungan Galatama dan perserikatan), tepatnya pada musim 2001 dan 2018 lalu.

Semenjak SUGBK diresmikan 1962, tim ibu kota menjadi tim terbaik di stadion legendaris tersebut sebanyak enam kali.

Persija jarang gagal meraih trofi juara jika memainkan pertandingan puncak kompetisi berformat grand final. Mereka hanya tercatat tiga kali jadi runner-up, yakni pada edisi 1978, 1988, dan 2015.

Catatan sejarah mencatatersija tidak selalu bermarkas di SUGBK. Di awal masa berdirinya pada 28 November 1928 klub yang satu ini sempat bermarkas di Lapangan Laan Trivelli (nama lama Tanah Abang), Lapangan Pulo Pioen (Petojo), Stadion IKADA, Stadion Menteng.

Beberapa tahun belakangan Persija kerap memainkan pertandingan kandang di Stadion Manahan (Solo), Stadion Kanjuruhan (Malang), dan terakhir Stadion Patriot (Bekasi). Banyak faktor yang menyebabkan Persija kerap jadi tim musafir. Mulai dari urusan sulitnya surat izin pertandingan, biaya sewa stadion yang mahal, hingga terkena hukuman dari PSSI.

Akan tetapi cerita melegenda Persija Jakarta meraih kesuksesan setiap bermain Stadion Utama Gelora Bung Karno, turun menurun berhembus dari mulut ke mulut para fans Tim Macan Kemayoran.

2 of 6

Kejayaan Era Pemain Muda Didikan Endang Witarsa

Pemain Persija merayakan kesuksesan menjadi juara perserikatan 1964. (Bola.com/Repro Aneka)

Persija merupakan raja kompetisi amatir perserikatan. Hal itu tak terbantahkan. Koleksi gelar juara yang diraih Tim Macan Kemayoran mengalahkan klub-klub legendaris lainnya macam, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, PSIS Semarang, atau Persib Bandung.

Pada periode 1950 hingga 1970-an Persija tidak pernah kering mencetak pesepak bola berbakat. Mereka lahir dari binaan kompetisi internal yang tertata rapi.

Persija kerap dijuluki miniatur Timnas Indonesia, sanking banyaknya pemain mereka yang masuk skuat Tim Merah-Putih.

Di era 1960-an sosok Endang Witarsa melegenda sebagai pelatih bertangan dingin yang banyak mencetak pemain-pemain belia berkelas Persija. Di awal masa kepemimpinannya pada tahun 1962, ia dengan berani melakukan perombakan total skuat Tim Macan Kemayoran.  

Pelatih yang berprofesi sebagai dokter gigi itu mencampakkan nama-nama beken macam Tan Liong Ho, Paidjo, San Liong, serta Chris Ong, yang menjadi pilar klub di era 1950-an. Skuat Persija dihuni pemain interval usia 16-19 tahun!

Di era Endang Persija dibela Sinyo Aliandoe, Yudo Hadijanto, Surya Lesmana, Soetjipto Soentoro. Dan benar saja Persija di tangan Endang jadi tim terbaik dengan bermodal darah muda. Di laga final perserikatan 1964, Persija berjumpa Persebaya.

Saat itu Maung Bandung termasuk tim kuat di perserikatan, selain PSM Makassar. Laporan Majalah Aneka Olahraga menuliskan Stadion Utama Gelora Bung Karno penuh sesak 60 ribu pasang mata. 

Pendukung Persija saat merayakan kesuksesan klub kesayangannya jadi juara perserikatan 1973. (Bola.com/Repro. Kompas)

Di hadapan pendukungnya Persija membungkam Tim Bajul Ijo 4-1. Gelar juara Persija terasa spesial karena sepanjang kompetisi perserikatan mereka tidak pernah kalah. Sukses Persija mengantar Endang Witarsa ke kursi nakhoda Timnas Indonesia.

Tujuh tahun berselang Persija kembali bersua Persebaya di laga puncak perserikatan 1973. Kali ini Persija ditukangi murid Endang, Sinyo Aliandoe.

Kedua tim yang terlibat bentrok bertabur bintang. Persija dibela Sutan Harharah, Anjas Asmara, dan Oyong Liza. Sementara itu, Persebaya diperkuat Rusdi Bahalwan, Abdul Kadir, dan Waskito.

Pertandingan di SUGBK berlangsung panas sejak menit awal. Seperti yang diberitakan Harian Merdeka, sempat terjadi tawuran antarpemain. Insiden baku pukul mencuat seusai Sutan Harharah mentekel Abdul Kadir. Pemain Persebaya lain yang tidak terima rekannya dikasari menyerbu Oyong Liza, kapten Persija.

Selanjutnya giliran Rusdi Bahalwan yang dikeroyok pemain Macan Kemayoran. Pihak keamanan turun ke lapangan buat memisahkan tawuran.

Sepanjang pertandingan Persebaya mengintimidasi Persija. Tim tuan rumah dibuat bertahan total.

Namun, dewi fortuna lebih berpihak pada Persija. Pada menit ke-81, berawal dari tendangan bebas, Risdianto melayangkan umpan terukur pada Andi Lala, yang kemudian dengan aksi individu memperdaya kiper Bajul Ijo, Harry Tjong. Hingga peluit panjang ditiup wasit skor tak berubah 1-0 buat tim ibu kota.

Pemain Persija melakukan aksi selebrasi keliling lapangan dengan membawa bendera berlambang Jaya Raya, yang menjadi simbol Jakarta dan Persija sendiri.

3 of 6

Rivalitas dengan PSMS

Kartu merah Iswadi Idris di final perserikatan 1975 memicu keributan antara pemain Persija dengan PSMS (Bola.com/Repro Merdeka)

Partai final perserikatan 1975 di Stadion Utama Senayan (nama lawas Stadion Utama Gelora Bung Karno) jadi pertandingan yang paling ditunggu-tunggu. Animo penonton amat tinggi saat itu.

Koran Pelita edisi 10 November 1975 menyebut penonton pertandingan ini menembus 125 ribu orang, rekor kedua tertinggi sepanjang masa setelah duel puncak perserikatan 1985 yang mempertemukan PSMS kontra Persib Bandung.

Harian Merdeka menggambarkan pertandingan Persija Vs PSMS amat meriah. Dari sebelah kanan tribun nyaring terdengar teriakan suporter: "Hidup Persija...Hidup Persija!"

Sebagai tuan rumah wajar jika Persija mendapat dukungan lebih banyak massa dibanding PSMS. Walau berstatus sebagai tim tamu kubu Ayam Kinantan lebih dulu unggul pada menit ke-10, lewat sumbangsih Parlin Siagian yang memperdaya gawang, Sudarno, lewat permainan kombinasi dengan Mariadi dan Nobon.

Sejak awal PSMS mengambil inisiatif menyerang. Permainan keras ala rap-rap mereka peragakan di lapangan basah yang diguyur hujan.

Persija menyamakan kedudukan lewat gol sundulan Andi Lala. Saat skor imbang pertandingan kian memanas. Kedua tim memperagakan permainan keras menjurus kasar.

Wasit Mahdi Thalib, sibuk mengeluarkan kartu dan memperingatkan pemain di kedua kubu.

Pemain PSMS dan Persija sempat bersitegang saat Sarman Panggabean memotong bola Junaidi Abdillah. Pemain Persija tidak terima rekannya dikasari. Para pemain PSMS tidak mau tinggal diam.

Perang mulut dan aksi saling dorong terjadi. Konflik terbuka pun meledak usai Iswadi Idris dikartu merah karena tekel keras ke Nobon. Kapten Persija, Oyong Liza, tidak terima dengan hukuman yang dijatuhkan pada kompatriotnya.

Oyong menilai semestinya Iswadi hanya kena kartu kuning, karena pelanggarannya mirip dengan Sarman. "Keputusan wasit tidak adil!" teriak Oyong seperti yang dikutip dari Harian Merdeka di tengah kerumunan aksi protes ke pengadil.

Perkelahian massal antarpemain pecah di lapangan. Pelipis Nobon luka karena kena pukulan sejumlah pemain Persija. Aparat keamanan turun tangan untuk memisahkan.

Ketua Umum PSSI, Kardono, turun ke lapangan. Ia melakukan pembicaraan dengan manajer kedua tim. Sebagai titik tengah ia mengusulkan juara bersama. "Pertandingan sudah terlalu panas, riskan jika dilanjutkan," ujar Kardono.

Pertandingan pun dihentikan pada menit ke-40. Persija dan PSMS dinobatkan sebagai juara bersama.

Persija kembali mengulang sukses menjadi juara perserikatan edisi 1979, yang menggunakan format final dengan sistem grouping. Persija saat itu ditukangi pelatih asing asal Polandia, Marek Janota.

Kepastian Persija menjadi juara didapat setelah mereka mengalahkan PSMS Medan dengan skor 1-0 di SUGBK. Gol tunggal Tim Merah dicetak Andi Lala di menit ke-64.

Pertandingan lain yang mempertemukan Persebaya kontra PSM yang berkesudahan 2-1 tak memengaruhi klasemen. Persija kembali berjaya di Senayan!

4 of 6

Mengubur Mimpi PSM di Liga Indonesia 2001

Persija saat juara Liga Indonesia 2001. (Bola.com/Dok. Persija)

PSSI memutuskan memutar kompetisi format baru dengan menggabungkan klub-klub galatama dengan perserikatan. Kompetisi berlabel Liga Indonesia dihelat perdana musim 1995-1996 dengan memunculkan Persib Bandung sebagai juara.

Di awal-awal Liga Indonesia, Persija jadi spesialis papan bawah. Kondisi keuangan yang seret membuat klub ibu kota tak bisa kompetitif.

Kehadiran Gubernur DKI, Sutiyoso alias Bang Yos pada 1997 sebagai pembina klub merubah situasi. Persija mendadak jadi klub kaya raya dengan keuangan gemuk kucuran APBD.

Bang Yos juga yang mendorong terbentuknya kelompok suporter The Jakmania. Karena prestasi yang melempem, Persija kehilangan pendukung.

Minggu Malam, 7 Oktober 2001, jadi momen yang tidak bisa dilupakan bagi pendukung Persija, The Jakmania. Warna oranye mendominasi Stadion Utama Gelora Bung Karno. The Jakmania datang ke stadion buat memberi dukungan kepada Macan Kemayoran yang berhadapan dengan PSM Makassar di final Liga Indonesia 2001.

Laporan pertandingan PSSI menyebut angka penonton laga ini menembus 60 ribu orang. Dukungan The Jakmania membakar semangat Bambang Pamungkas dkk. di lapangan.

Persija unggul tiga gol sumbangan Imran Nahumarury dan Bepe (2 gol), sebelum akhirnya Tim Juku Eja memangkas skor menjadi 3-2.

Gol kedua Bambang masuk kategori gol indah. Playmaker Persija kala itu, Luciano Leandro berperan besar dalam proses terjadinya gol tersebut.

Pemain asal Brasil itu menyodorkan umpan lambung ke Bepe yang dalam posisi bebas di sisi luar pertahanan PSM. Bek Ayam Jantan dari Timur, Joseph Lewono, kelimpungan mengejar lari Bambang. Tendangan keras sang striker mengoyak gawang PSM yang dikawal Hendro Kartiko.

"Saya sudah menduga kiper akan mempersempit ruang tembak, tapi dengan kaki kiri saya arahkan bola ke kanan atas yang tak terjangkau olehnya," ujar Bepe yang di Liga Indonesia 2001 mencetak 15 gol dan mencatatkan diri sebagai pemain terbaik.

"Gol yang brilian. Bambang cerdik sekaligus licin bisa melepaskan diri dari pemain belakang kami. Saya sudah mencoba mempersempit ruang tembak, tapi ia masih bisa melihat celah kosong," komentar Hendro Kartiko.

Pelatih PSM, Syamsuddin Umar mengakui Persija pantas menjadi kampiun. "Mereka unggul materi pemain. Kualitas tim inti dan pengganti sama bagus. Sementara di tim kami hal itu menjadi masalah."

Di Liga Indonesia 2001 skuat Persija memang mentereng. Selain Bambang, Tim Oranye punya pemain-pemain berkelas macam Luciano Leandro, Gendut Doni, Anang Ma'ruf, Nuralim, Antonio Claudio, Imran Nahumarury.

The Jakmania berpesta usai Persija mengangkat piala. Bepe dkk. diarak keliling jalan besar ibu kota. Suporter sempat merayakan kesuksesan tim kesayangannya di Bundaran Hotel Indonesia.

Akankah cerita-cerita sukses Persija di SUGBK akan berulang pada Sabtu (17/2/2018)? Persija akan berjumpa Bali United dalam laga puncak Piala Presiden 2018.

5 of 6

Titik Balik Piala Presiden 2018

Gasak Bali United, Persija Jakarta Juara Piala Presiden 2018
Pemain Persija Jakarta merayakan selebrasi usai laga final Piala Presiden 2018 melawan Bali United di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (17/2). Persija menang 3-0 atas Bali United. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Tahun 2018 lalu Persija kembali angkat trofi di SUGBK, ketika mereka menjadi jawara turnamen pramusim Piala Presiden 2018.

Persija menjadi juara  setelah mengalahkan Bali United 3-0 pada final, Sabtu (17/2/2018) malam, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Persija unggul 2-0 pada babak pertama melalui gol Marko Simic pada menit ke-20 dan 45+2. Pada babak pertama, Persija memang menguasai jalannya laga dengan perbandingan 53 persen berbanding 47.

Pada babak kedua, Persija langsung tancap gas meski sudah mengantongi dua gol. Tekanan demi tekanan dilakukan anak asuh Stefano Teco untuk memastikan trofi Piala Presiden 2018.

Namun, Bali United juga tak mau kalah, walau mereka hanya menciptakan peluang melalui tembakan jarak jauh. Alih-alih memperkecil ketertinggalan, Bali United justru kebobolan lagi.

Pada menit ke-62, Novri Setiawan membuat puluhan ribu The Jakmania di SUGBK bergemuruh. Novri membobol gawang Wawan Hendrawan lewat tendangan keras dari sisi kiri setelah memanfaatkan umpan Rohit Chand.

Unggul 3-0 membuat Persija sedikit menurunkan tekanan. Namun, mereka kembali panas setelah Bali United mencuri kesempatan dan dua kali membuat peluang. 

Persija kembali mendapat kans dari tendangan sudut. Namun, bola hasil eksekusi Rezaldi Hehanussa diamankan Ricky Fajrin. Persija menggempur Bali United habis-habisan. Marko Simic lolos dari kawalan, sayang bola tendangannya kurang akurat dan berhasil ditangkap Wawan Hendrawan.

Memasuki 10 menit terakhir, Persija tak menurunkan tekanan. Serangan balik cepat dibangun Riko Simanjuntak dkk. namun belum menghasilkan gol tambahan.

Persija akhirnya memastikan trofi Piala Presiden edisi ketiga setelah kedudukan 3-0 bertahan hingga wasit Oky Dwi Putra meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Persija Jakarta menjadi juara Piala Presiden 2018 dan berhak mendapatkan hadiah Rp 3,3 miliar sementara Bali United mendapatkan Rp 2,2 miliar.

Marko Simic dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Presiden 2018. Striker Persija Jakarta tersebut mengoleksi 11 gol sepanjang turnamen.

Sebelum partai final Persija melawan Bali United, Marko Simic telah menorehkan 9 gol. Dua gol tambahan terjadi pada partai puncak.

Simic pun kini jadi ikon baru lini depan Persija selepas era Bambang Pamungkas.

 

6 of 6

Drama di Pengujung Musim Liga 1 2018

Persija Jakarta Vs Mitra Kukar
Bek Persija Jakarta, Rezaldi Hehanussa, merayakan gelar juara usai mengalahkan Mitra Kukar pada laga Liga 1 di SUGBK, Jakarta, Minggu (9/12). Persija menang 2-1 atas Mitra. (Bola.com/Yoppy Renato)

Persija Jakarta memastikan gelar juara setelah mengalahkan Mitra Kukar 2-1 pada laga penutup Liga 1 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Minggu (9/12/2018).

Hasil positif ini itu membuat Persija membukukan 62 poin di peringkat pertama klasemen akhir. Tim Macan Kemayoran unggul satu angka dari PSM Makassar yang menguntit dari urutan kedua.

Ini merupakan trofi ketiga bagi Persija sepanjang 2018. Sebelum menjuarai Liga 1, Tim Macan Kemayoran merengkuh gelar Piala Presiden dan Boost Fix Super Cup di Malaysia.

Akan tetapi, gelar Liga 1 merupakan trofi yang spesial bagi Persija. Mereka harus menunggu 17 tahun untuk kembali menjadi yang terbaik di kompetisi kasta tertinggi Indonesia, sejak kali terakhir pada 2001.

Menariknya rivalitas juara di pentas Liga 1 2018 sama persis dengan 2001, yakni PSM.

Kedua tim mulai terlibat rivalitas sengit memasuki putaran kedua kompetisi. Di awal Liga 1, Persija masih tercecer di jajaran papan tengah. Persib Bandung jadi juara paruh pertama kompetisi.

Petaka muncul usai Maung Bandung terkena skorsing tak boleh menggelar pertandingan kandang di Bandung gara-gara kasus kematian suporter Persija saat kedua tim bersua di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang. Persib harus mengungsi di luar pulau Jawa. Seluruh pertandingan mereka dimainkan tanpa boleh menghadirkan bobotoh.

Pukulan telak ini membuat performa Persib melorot, kemudian rivalitas berganti antara Persija dengan PSM.

Uniknya, Persija dan PSM kembali bersua di laga puncak Piala Indonesia 2018-2019. Siapa yang akan jadi tim terbaik di ulangan rivalitas ini? Akankah Persija bisa memaksimalkan magi SUGBK saat mereka menjamu Juku Eja pada leg pertama final pada Minggu (21/7/2019)?

Lanjutkan Membaca ↓