Pasca Dipecat Persebaya, Djanur Berharap Pembentukan Asosiasi Pelatih Profesional

Oleh Erwin Snaz pada 13 Agu 2019, 20:10 WIB
Yaris Riyadi, Djadjang Nurdjaman, dan Herrie Setiawan

Bola.com, Bandung - Eks pelatih Persebaya Surabaya, Djadjang Nurdjaman, berharap Asosiasi Pelatih Profesional segera dibentuk sebagai wadah perlindungan dan pengaduan pelatih yang merasa dirugikan.

Djadjang Nurdjaman menyatakan hal itu penting karena situasi sepak bola Indonesia saat ini belum bagus buat pelatih, di mana setiap tahunnya selalu ada pelatih yang dipecat, walau baru memimpin beberapa pertandingan saja.

"Ini hal serius, yang harus diperhatikan. Kami dari pelatih pro, sedang berembuk bagaimana mengaktifkan kembali asosiasi ini, karena ini sangat penting untuk memikirkan hal-hal seperti ini," kata Djanur, sapaan karib Djadjang Nurdjaman, di Bandung, Selasa (13/8/2019).

Djanur menyebut nasib pelatih jangan terlalu dibuat gampang oleh manajemen klub, sehingga bisa dipecat begitu saja. Itulah mengapa, kalangan pelatih profesional harus memiliki perlindungan atau wadah untuk mengadukan masalah.

"Jadi kami pikir, pelatih-pelatih lagi semangat-semangatnya memikirkan kembali berdirinya Asoasiasi Pelatih," tutur Djanur, yang pernah membawa Persib juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015 ini.

Djanur mengakui selama ini kelemahan pelatih Indonesia adalah kontrak yang hanya satu tahun. Berbeda dengan di luar negeri, semisal Eropa, pelatih bisa dikontrak empat tahun sekaligus.

"Dan tahun pertama pelatih dikasih waktu untuk membuat timnya menjadi kuat, contoh pelatih Liverpool harus butuh empat tahun untuk jadi juara. Beda dengan di Indonesia, dikontrak satu tahun, baru lima enam pertandingan, tidak bagus langsung pecat, itu fenomena di Indonesia," tutur Djanur.

2 of 2

Suporter Ikut Jadi Perhatian

Djadjang Nurdjaman
Djadjang Nurdjaman berpamitan pulang ke Bandung dari Bandara Juanda, Sidoarjo, Minggu (11/8/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Desakan suporter pun harus menjadi perhatian bagi setiap manajemen, seperti halnya Persib, Persebaya, dan Persija. Hal itu berarti tidak bisa langsung memutuskan kontrak pelatih, kecuali dalam membentuk tim diawali dengan asal-asalan, termasuk persiapan yang asal-asalan.

"Saya juga begitu, mendadak langsung diberhentikan pasca pertandingan, dan saya langsung pulang ke Bandung, istirahat dulu, kumpul sama keluarga sambil menunggu kegiatan apa yang akan dilakukan. Saya belum terpikirkan akan melakukan kegiatan apa, sesekali kumpul sama mantan Persib bermain bola," lanjut pelatih kelahiran Majalengka ini.

Lanjutkan Membaca ↓