2 Mantan Pelatih Komentari Performa Arema yang Tidak Konsisten

Oleh Iwan Setiawan pada 23 Sep 2019, 09:45 WIB
Arema FC

Bola.com, Malang - Performa Arema FC tak konsisten sejak pengujung putaran pertama hingga awal putaran kedua. Empat pertandingan tanpa kemenangan membuat tim berjuluk Singo Edan melorot dari urutan keempat ke posisi kedelapan.

Dua mantan pelatih Arema FC angkat bicara melihat hilangnya kegarangan Arema. Padahal mereka sempat melejit ke posisi tiga besar di putaran pertama.

Asisten pelatih timnas Indonesia, Joko Susilo, yang sempat jadi pelatih kepala Arema musim 2018 menyebut konsistensi belum dimiliki Singo Edan, terutama ketika sejumlah pemain inti absen.

Hal itu terjadi saat Dedik Setiawan dan Ahmad Alfarizi dua bulan berkutat dengan cedera. Begitu juga saat Arthur Cunha yang beberapa kali cedera. Pemain inti lainnya juga beberapa kali turun dalam kondisi yang kurang fit.

“Harus ada evaluasi yang dilakukan oleh tim pelatih. Mereka tahu secara detail apa yang harus dibenahi. Jika bisa konsisten di sisa kompetisi, masih ada peluang untuk ke papan atas,” jelas Getuk, sapaan akrabnya.

Menurut Joko Susilo, dari komposisi pemain saat ini, kualitas pelapis dan pemain inti Arema tidak terlalu timpang. Sejumlah pemain muda seperti Jayus Hariono, Nasir, dan M. Rafli sudah lebih matang. Joko mengatakan sekarang tinggal bagaimana membuat performa Arema FC tetap stabil ketika ada pemain inti yang absen.

 

2 of 2

Jaga Suasana Kekeluargaan

Borneo FC, Arema FC, Liga 1 2019, Shopee Liga 1
Duel antara pemain Borneo FC, Amrizal Umanailo, dan kapten Arema, Hamka Hamzah, dalam pertandingan Liga 1 2019 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jumat (13/9/2019). Arema FC dan Borneo FC bermain imbang 2-2 dalam pertandingan ini. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Sementara pelatih kawakan Arema musim 1992, Gusnul Yakin, menilai Singo Edan kehilangan ciri khas main ngeyel. Justru banyak tim lawan yang bermain lebih ngeyel ketimbang Arema.

“Seharusnya pemain lokal Malang bisa menghidupkan karakter itu,” kata Gusnul.

Menurut Gusnul, kondisi internal juga harus diperhatikan, terutama suasana kekeluargaan harus terus dijaga. Dia berharap jangan sampai pemain terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang bisa mengikis kekompakan tim.

“Saya tidak tahu seperti apa kondisi internal tim sekarang. Yang pasti, Arema itu harus kuat kekeluargaannya. Kalau tidak di lapangan bisa terlihat timnya kurang kompak,” jelas pelatih yang pernah mempersembahkan gelar juara Galatama 1992 ini. 

 

Lanjutkan Membaca ↓