Kolom: Udah Enggak Usah Pake Marah, Yuk Kita Move On Menatap Piala AFF 2020 Siapa Tahu Timnas Indonesia Juara

Oleh Ario Yosia pada 14 Des 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 16 Des 2019, 08:15 WIB
Kolom Ario Yosia

Bola.com, Jakarta - Kesal. Marah. Kecewa. Sedih. Perasaan campur aduk dirasakan publik sepak bola Indonesia. Timnas Indonesia U-22 gagal menjadi juara SEA Games 2019 usai ditekuk Vietnam dengan skor 0-3 di Stadion Rizal Memorial, Filipina, Selasa (10/12/2019). Penantian selama 28 tahun untuk bisa bergembira merayakan medali emas sepak bola berlanjut.

Cap spesialis runner-up di persaingan level Asia Tenggara kian menstigma Indonesia. Sepanjang sejarah penyelenggaraan SEA Games, mulai bernama Peninsular Games (negara kita belum ikut serta), Tim Merah-Putih tercatat baru dua kali meraih medali emas, yakni pada edisi 1987 dan 1991.

Indonesia tercatat lima kali menjadi runner-up, sama dengan jumlah medali emas yang diraih Myanmar. Thailand mendominasi perhelatan SEA Games dengan raihan 16 medali emas, disusul Malaysia dengan enam emas. Butuh 24 tahun (14 kali SEA Games) untuk menyamai gelar Negeri Gajah Putih. Dengan catatan mulai SEA Games 2021 di Hanoi, Vietnam, Tim Garuda Muda selalu juara.

Julukan spesialis runner-up juga didapat Timnas Indonesia di ajang Piala AFF. Lebih parah lagi. Di turnamen sepak bola paling elite tersebut, Tim Merah-Putih malah belum pernah juara. Paling mentok menjadi finalis, yakni pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016.

Kesialan Indonesia, mirip-mirip Inggris di persaingan level dunia. Negara yang jadi penemu olahraga Si Kulit Bundar itu tercatat baru sekali menjadi juara Piala Dunia pada edisi 1966. Di ajang Piala Eropa, Three Lions bahkan belum pernah merasakan nikmatnya angkat trofi.

Inggris sebetulnya punya basis massa pencinta sepak bola yang belimpah. Mereka amat loyal memberikan dukungan ke tim kesayangannya. Di setiap laga away, suporter Inggris selalu terlihat ada memberi dukungan di tribun. Cerita-cerita negatif keributan suporter yang dilakukan Inggris yang dikenal bapaknya hooliganisme sering tersaji di berbagai event dunia.

Hampir mirip dengan negara kita. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia paling gila urusan sepak bola.

Lihat saja serbuan komentar netizen Indonesia ke akun Instagram pribadi pemain Vietnam, Doan Van Hau, yang aksi kasarnya membuat Evan Dimas menepi dari lapangan pada pertengahan babak pertama pertandingan final SEA Games melawan Vietnam. Netizen +621 gitu lho, jangan coba-coba dilawan. Ambyar.

Apa dosa Timnas Indonesia, yang seperti dikutuk menjadi spesialis nyaris juara?

2 of 5

Vietnam Sukses di Era Park Hang-seo

Timnas Indonesia U-22 Vs Vietnam U-22
Para pemain Vietnam U-22 merayakan gol yang dicetak Doan Van Hau ke gawang Timnas Indonesia U-22 pada laga final SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Selasa (10/12). Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Mari kita tengok bagaimana Vietnam bisa sukses jadi penguasa sepak bola Asia Tenggara beberapa tahun belakangan. Selain menjadi jawara di SEA Games 2019, Tim Negeri Paman Ho juga jadi kampiun Piala AFF 2018.

Sejak kedatangan Park Hang-seo pada Oktober 2017 sebagai pelatih kepala Timnas Vietnam, sepak bola di negara itu mengalami gairah luar biasa, mengacu pada prestasi yang dicatatkan timnas.

Vietnam boleh dikatakan mendominasi pentas sepak bola ASEAN dan bahkan mampu menjadi sorotan level Asia dalam rentang dua tahun terakhir ini.

Sebagai pelatih kepala di timnas senior, U-23, dan U-22, Park Hang-seo menghadirkan berbagai prestasi prestius dan membantu Vietnam mengukir rekor-rekor baru.

Mulai mengantar Timnas Vietnam U-23 sebagai finalis Piala AFC U-23 2018, semifinalis Asian Games 2018, serta membawa timnas senior jadi juara Piala AFF 2018 dan perempat final Piala Asia 2019.

Bicara pencapaian bersama timnas senior, dominasi Park Hang-seo di ASEAN sangat terasa. Seperti dilansir dari The Thao, sejak membesut the Golden Dragon, pelatih asal Korea Selatan itu membukukan rekor memukau, khususnya saat menghadapi melawan tim-tim asal ASEAN.

Dari total 13 pertandingan melawan tim ASEAN, Park Hang-seo dan Timnas Vietnam memenangi 10 laga, imbang tiga kali, belum pernah kalah, dan mencapai rataan mencapai 76,9 persen, dengan memasukkan 24 gol serta hanya kemasukan tujuh gol.

Jumlah 13 laga itu datang dari pertandingan resmi maupun persahabatan melawan tujuh negara ASEAN, yakni Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Indonesia, dan Thailand.

Tiga negara yang sejauh ini berhasil menahan Vietnam di era Park Hang-seo adalah Myanmar (di penyisihan grup Piala AFF 2018), Malaysia (leg pertama final Piala AFF 2018), dan Thailand (penyisihan grup kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia).

Data-data ini belum termasuk SEA Games 2019. Tim Negeri Paman Ho menjadi juara dengan rekor mentereng, memenangi enam pertandingan dan hanya bermain imbang 2-2 kontra juara bertahan Thailand di fase penyisihan. Statistik mempertegas bahwa Vietnam memang pantas menjadi kampiun SEA Games.

Jadi sukses Vietnam murni karena jasa Park Hang-seo? Tidak juga begitu.

3 of 5

Sejak Jauh Hari Berbenah

Timnas Indonesia U-22
Para pemain Vietnam U-22 merayakan kemenangan atas Timnas Indonesia U-22 pada laga final SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Selasa (10/12). Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Vietnam membangun kekuatan sepak bolanya sejak jauh-jauh hari. Mulai 2006 negeri penganut paham sosialis tersebut berbenah. Langkah awal dilakukan Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) adalah melakukan pemberantasan pengaturan skor di negaranya.

Pihak kepolisian membongkar 348 kasus yang melibatkan 1.554 orang yang bertaruh selama Piala Dunia di Jerman pada tahun 2006.

Sejak bulan Agustus 2005, polisi negara tersebut telah menemukan sekitar 50 wasit lokal, dewan direksi, dan pelatih yang terlibat korupsi dari beberapa kesebelasan.

Pada tahun 2005, 14 orang termasuk beberapa wasit dan pelatih dituduh terlibat suap selama V.League musim 2004-2005. Perputaran uang lebih dari satu miliar dolar AS secara ilegal terjadi, dengan uang 200 juta Dolar AS ditransfer ke negara-negara asing dan daerah, terutama Hong Kong, Cina, Macau, dan Singapura.

Yang paling menghebohkan VFF dibantu pihak kepolisian membongkar kasus pengaturan skor kakap yang melibatkan delapan pemain di Timnas Vietnam U-23. Mereka menerima suap dari sindikat judi untuk pengaturan skor pertandingan melawan Myanmar selama SEA Games di Filipina 2005.

Pengadilan memutuskan bahwa saat bermain melawan Myanmar, para pemain sengaja untuk menahan selisih gol kemenangan Vietnam tertahan pada angka satu gol saja. Mereka dibayar total 15 ribu Dolar AS oleh bandar judi.

Tidak berhenti sampai di situ, pada 2007 sebanyak tujuh wasit dan dua pejabat olahraga dinyatakan bersalah dalam kasus pengaturan skor dengan nilai suap mencapai 8.440 Dolar AS.

Perang menghadapi match fixing terus dilakukan hingga saat ini. Vietnam menjaga kemurnian sepak bola negaranya dengan langkah-langkah kongkrit dan tegas.

Berlanjut pada 2014, sepak bola Vietnam kembali diguncang kasus besar pengaturan skor. Laporan Vietnam Investment Review, enam pemain Dong Nai Club terbukti memanipulasi skor pertandingan saat bersua Quang Ninh.

Mereka antara lain Pham Huu Phat, Nguyen Thanh Long Giang, Nguyen Duc Thien, Ha Niem Tien, Phan Luu The Son, dan Dinh Kien Trung.

Pemain tersebut membuat Dong Nai Club mengalah dari Quang Ninh dengan defisit dua gol. Laga itu berakhir dengan skor 5-3 untuk kemenangan Quang Ninh. Pemain Dong Nai Club dibayar 18.500 Dolar AS. Mereka juga terlibat match fixing di laga lain kala Dong Nai Club berjumpa Thanh Hoa pada musim yang sama.

Keenam pemain Dong Nai Club itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan Dong Nai. Sang kapten, Pham Huu Phat, divonus penjara selama enam tahun. Sedangkan hukuman buat lima rekannya belakangan ditangguhkan.

Salah satu klub profesional Vietnam, Vissai Ninh Binh, terjun dalam manipulasi skor laga melawan klub asal Malaysia, Kelantan FA, pada ajang Piala AFC 2014.

VnExpress melaporkan bahwa kasus tersebut melibatkan sembilan pesepak bola dan bandar judi. Salah satu pemain Vissai Ninh Binh, Tran Manh Dung, dijatuhi hukuman kurungan selama 30 bulan. Delapan pemain lainnya diberi hukuman percobaan dan mendapatkan sanksi berupa denda.

Tak lama setelah pemainnya dinyatakan bersalah, Vissai Ninh Binh mengundurkan diri berlaga di V-League.

Selain perang dengan judi sepak bola, VFF juga melakukan pembenahan besar-besaran kompetisi domestik mereka. Pada 2012 dibentuk VPF atau Vietnam Professional Football Joint Stock Company untuk mengelola V League.

VFF tetap akan memiliki saham sebesar 36 persen di perusahaan baru tersebut, dan sisanya akan dimiliki oleh klub-klub yang berlaga. Nama V League diubah menjadi Vietnam Super League sebelum akhirnya pada musim selanjutnya kembali ke nama asal.

VPF melakukan seleksi ketat peserta kompetisi. Klub-klub yang kondisi keuangannya rapuh dilarang ikut kompetisi, mereka dipersilahkan melakukan merger dengan klub lain yang kondisi finansialnya sama.

V League 1 (kompetisi kasta utama Vietnam) kini diikuti 14 klub. Sementara itu, V League 2 menyertakan delapan tim.

VPF dikelola oleh kalangan profesional dan jauh dari interupsi politik. Mereka fokus mengelola kompetisi, sementara VFF melakukan pembinaan yang berujung pembentukan timnas yang tangguh.

VFF saat ini memiliki kantor megah di kota Hanoi. Mereka juga punya lahan luas yang dipakai buat Timnas Vietnam latihan. VFF bermitra dengan kepolisian Vietnam untuk memantau pengelolaan sepak bola. Jika ada bau tak sedap mereka dipersilahkan turun tangan. VFF tak melakukan intervensi karena kasus itu dilarikan ke ranah kriminal.

Apa PSSI sudah melakukan hal itu?

 

4 of 5

Komitmen dan Kesabaran

Timnas Indonesia U-22 Vs Thailand
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, memberikan dukungan untuk Timnas Indonesia U-22 saat melawan Thailand pada SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Selasa (26/11). Indonesia menang 2-0 atas Thailand. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Mirip-mirip dengan Vietnam, belakangan sepak bola Indonesia sedang bersih-bersih. Lewat tangan besi Kapolri Tito Karnavian (yang kini menjadi Menteri Dalam Negeri) terbentuklah Satgas Antimafia Bola yang membongkar banyak kasus match fixing di pentas kompetisi domestik setahun belakangan.

Puncak gunung es sengkarut itu adalah penangkapan Joko Driyono, Plt Ketua Umum PSSI, yang kemudian divonis bersalah dalam kasus perusakan barang bukti pengaturan skor. Joko adalah sosok kunci dalam pengelolaan kompetisi profesional Tanah Air, yang sejak medio 2000-an dicurigai marak kasus pengaturan skor.

Walau terkesan terlambat, pembenahan sepak bola Indonesia mulai dilakukan. Ketua Umum PSSI baru Mochammad Iriawan alias Iwan Bule yang punya background kepolisian diharapkan melanjutkan bersih-bersih masalah di federasi dan dunia sepak bola secara keseluruhan.

Komitmen membenahi perlu dijaga, karena hingga kini PSSI masih terkesan tertutup, atau bahkan menutup-nutupi banyaknya persoalan di tata kelola sepak bola nasional. Keseriusan Iwan Bule membenahi agak dipertanyakan publik, karena masih banyak orang-orang lama di kepengurusan teras PSSI jadi pendampingnya.

Pembenahan internal PSSI amat krusial dilakukan. Jika federasi bisa bersih dan punya program-program bermutu, maka cepat atau lambat pembinaan buat kepentingan membentuk Timnas Indonesia yang tangguh akan terwujud. Hal ini butuh kesabaran.

Iya, kesabaran. Membentuk timnas yang bisa jadi raja Asia Tenggara layaknya Vietnam atau Thailand butuh waktu. PSSI harus menjalani sebuah proses perubahan dengan sabar.

Jangan grasa-grusu seperti yang sudah-sudah. Pola-pola potong kompas masih terlihat saat ini. Lihat saja bagaimana cara PSSI menyeleksi calon pelatih Timnas Indonesia. Mereka mewajibkan pelatih baru Tim Garuda pengganti Simon McMenemy bisa memenangi tiga laga sisa Kualifikasi Piala Dunia 2022, plus wajib menyajikan gelar juara Piala AFF 2020.

Saya pribadi tak yakin ada pelatih berani mengiyakan hal itu. Penulis setuju dengan komentar Luis Milla, salah satu kandidat nakhoda Timnas Indonesia. "Kalau ada pelatih yang menjanjikan juara, berarti dia berbohong."

Jose Mourinho, pelatih top seabrek gelar, jika diberi target yang sama oleh PSSI pasti akan memberikan jawaban yang sama. Lho kok?

Timnas Indonesia di Piala AFF 2018, gagal lolos semifinal. Di fase Kualifikasi Piala Dunia 2022 timnas kalah beruntun lima pertandingan. Hanya hitungan bulan dan kurang setahun, pelatih baru harus membalik realita tersebut. Mungkin yang dibutuhkan PSSI bukan pelatih, melainkan tukang sulap semisal Deddy Corbuzier.

Sama seperti PSSI, publik sepak bola Indonesia juga harus panjang sabar. Untuk bisa menjadi juara kita perlu menjalani sebuah proses panjang. Tapi tentu prosesnya yang benar, bukan berproses asal-asalan. Proses yang baik tidak akan mengkhianati hasil.

Jadi, udah enggak usah pake marah, yuk kita move on menyongsong perhelatan bergengsi terdekat, Piala AFF 2020. Siapa tahu Timnas Indonesia bisa juara.

Kalaupun gagal lagi, mari kita nikmati kesedihan bersama, karena terkadang sepak bola tak melulu tentang kemenangan, tapi bagaimana kita menyatukan hati di atas perbedaan untuk sebuah rasa cinta yang sama. Semoga bisa menghibur. Saya tahu jadi budak cinta Timnas Indonesia tidak mudah. Sakitnya tuh bagaimana gitu.

 

Ario Yosia

*) Penulis editor senior Bola.com

 

 

 

5 of 5

Video

Lanjutkan Membaca ↓