VIDEO: Teka-Teki Persik Kediri Jelang Liga 1 Bergulir

Oleh Michael Wijaya pada 21 Feb 2020, 12:20 WIB
Diperbarui 21 Feb 2020, 12:20 WIB

Bola.com, Kediri - Liga 1 2020 merupakan kulminasi capaian prestasi bagi Persik Kediri. Setelah dua tahun beruntun jadi jawara Liga 3 2018 dan Liga 2 2019, Macan Putih kembali ke habitat kasta tertinggi sepakbola Indonesia, setelah 'dipaksa' turun tahta pada 2015 oleh PT Liga Indonesia karena dianggap pailit akibat menunggak utang gaji pelatih dan pemain.

Pada musim ini, Persik Kediri penuh dengan teka teki. Manajemen terlihat lamban melakukan gebrakan. Baik itu soal rekrutmen pelatih, pemain, sponsor, hingga persiapan infrastruktur Stadion Brawijaya sebagai kandang Persik menjamu peserta Liga 1 2020.

Tak pelak, kesan lamban ini memunculkan tanda tanya bagi publik Kota Kediri dan Persikmania, pendukung setia Persik. Kegamangan pun mulai menyeruak dengan tengara manajemen Persik tak memiliki dana untuk mengarungi kerasnya persaingan di elite kompetisi Nasional tersebut.

Untuk sektor pelatih, Persik sempat tidak membuka jatidiri calon arsitek mereka. Meskipun, saat itu, sebanyak enam pelatih telah memasukkan lamarannya. Akhirnya keraguan publik itu dijawab dengan penunjukkan Joko 'Getuk' Susilo sebagai nakhoda bagi Faris Aditama dkk.

Sementara di jajaran pemain, Persik juga sering menutup pintu informasi. Mereka baru bergerak memperpanjang kontrak pemain lama yang memberi gelar juara Liga 2 sekaligus promosi ke Liga 1 2020, setelah empat pilar utama, Taufik Febriyanto, M. Edo Firmansyah, Dodi Alexvan Djin, dan Risna Prahalabenta 'dibajak' Persita dan Madura United.

Tak berhenti di sini. Persik juga tidak agresif di bursa transfer pemain. Pada awal pergerakan, mereka memang berhasrat merekrut beberapa nama cukup tenar. Namun, realisasinya hanya pemain muda yang belum memiliki jam terbang di kompetisi tertinggi.

Ada nama seperti Ronaldo Robener Wanma (Persipura), Jordan Zamorano (PSS U20), Reksa Maulana, dan Arif Setiawan berstatus pinjaman dari Bhayangkara FC U-18.

Publik mulai bergairah setelah manajemen sukses memboyong beberapa pemain punya nama, meski mereka bukan kategori pemain kelas A. Mereka antara lain Antony Putro Nugroho (PSS), Munhar (PSM), Dany Saputra (Persija), Vava Mario Zagallo (Tira Persikabo), kiper Dimas Galih (Kalteng Putra), dan duo eks Barito Putera Andri Ibo dan Paulo Sitanggang.

Persik juga bisa mendatangkan eks Laskar Antasari lainnya, Sackie Teah Doe. Sosok naturalisasi ini pernah menyabet gelar topskorer Divisi Utama, namun itu telah berlalu delapan tahun lalu.

Sementara untuk deretan pemain asing, Persik pilih mendatangkan pendatang baru, seperti Gaspar Vega (Argentina) dan Patrick Bordon (Slovenia). Hanya Ante Bakmaz (Australia) yang pernah main bersama Madura United. Itu pun dia hanya main di paruh musim kedua 2019.

Tampaknya manajemen Persik masih terbawa euforia kesuksesan dua musim jadi penguasa dua kasta berbeda dengan mengandalkan para pemain muda di skuatnya.

"Kebijakan kami memang lebih memilih pemain muda. Kami sudah pernah sukses dengan terobosan itu, makanya itu kami lanjutkan di Liga 1 2020 ini. Coach Joko Susilo juga suka dengan talenta muda," kata Beny Kurniawan, Manajer Tim.

Beny Kurniawan bergeming dengan pilihan ini. "Banyak kritikan dan keraguan dari publik, ketika kami pakai pemain muda di Liga 3 dan Liga 2 lalu. Tapi, semua kami jawab dengan prestasi. Jadi tak ada yang perlu diragukan dari kebijakan ini," tuturnya.

Teka teki dan kekhawatiran muncul lagi, saat Persik Kediri babak belur di dua laga penyisihan grup pada Piala Gubernur Jatim 2020. Namun, semua itu pupus, setelah pasukan Joko Susilo membombardir tim bertabur bintang, Bhayangkara FC, dengan skor 3-0. (Gatot Susetyo)