Performa Apik Bomber Gaek yang Tidak Tergerus Usia di Era Liga 1

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 23 Mar 2020, 08:45 WIB
Diperbarui 23 Mar 2020, 08:45 WIB
Boaz Solossa, Herman Dzumafo, Alberto Goncalves
Pemain Veteran di Shopee Liga 1 2020: Boaz Solossa, Herman Dzumafo, Alberto Goncalves. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Sejak era Liga 1 dimulai pada 2017 lalu, Ketua Umum PSSI saat itu, Edy Rahmayadi, menetapkan kewajiban klub menggunakan pemain muda di bawah U-23 tahun demi kepentingan Timnas Indonesia yang bakal beraksi di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Satu hal yang menarik, kebijakan tersebut tidak menggerus performa sejumlah bomber berusia senja yang tetap berperan penting bagi tim.

Kebijakan penggunaan pemain muda di Liga 1, di mana setiap tim wajib mendaftarkan 7 pemain berusia U-23 tahun dan memainkan tiga di antaranya di lapangan hijau, memang memiliki efek yang baik. Bukan hanya kepada regenerasi Timnas Indonesia, klub-klub peserta kompetisi kasta tertinggi Indonesia pun mulai mempercayai performa pemain lokal yang masih belia.

Satu hal yang menarik, kebijakan tersebut tidak lantas menggeser para pemain senior berpengalaman dari posisi utama di tim. Bahkan jika ada yang tergeser pun, hingga saat ini mampu memberikan kontribusi besar saat dipercaya masuk sebagai pemain pengganti oleh pelatih timnya.

Boaz Solossa merupakan bukti konkret bagaimana bomber lokal mampu bersaing di tengah ketatnya Liga 1. Pemain yang sejak 2002 sudah berseragam Persipura, dan naik ke tim senior pada 2004 itu, hingga kini selalu menjadi andalan di lini depan Mutiara Hitam.

Persipura Jayapura - Boaz Solossa (Bola.com/Adreanus Titus)

Striker yang baru genap berusia 34 tahun pada 16 Maret lalu itu selalu mendapatkan tempat meski Mutiara Hitam juga memiliki regenerasi yang sangat baik dengan kehadiran Osvaldo Haay pada musim 2017 dan Todd Rivaldo Ferre yang mulai 2018 hingga saat ini menjadi andalan di lini serang Persipura.

Sejak 2017 hingga saat ini, Boaz Solossa tercatat mencetak 31 gol dalam 6.344 menit bermain di Liga 1, atau dalam 83 pertandingan. Bahkan pada musim ini, Boaz Solossa selalu menjadi starter dalam tiga laga yang sudah dimainkan oleh Persipura dan menyumbang satu dari enam gol yang sudah dicetak oleh Mutiara Hitam.

Jika saja Shopee Liga 1 2020 tidak terhenti karena virus corona, performa Boaz Solossa akan tetap dinantikan oleh penggemar sepak bola Indonesia, terutama para penggemar Persipura Jayapura.

2 dari 5 halaman

Dua Naturalisasi Andalan Madura United

Beto Goncalves, Madura United, Liga 1 2019
Striker Madura United, Beto Goncalves, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persela Lamongan dalam laga pekan pertama Shopee Liga 1 2019 di Stadion Surajaya, Lamongan, Jumat (17/5/2019). Madura United menang 5-1 atas Persela dalam laga itu. (Bola.com/Aditya Wany)

Madura United hingga saat ini masih mengandalkan dua orang bomber gaek di lini depan. Menariknya, dua bomber tersebut merupakan pemain naturalisasi yang cukup lama berkecimpung di sepak bola Indonesia, yaitu Alberto Goncalves dan Greg Nwokolo.

Alberto Goncalves, atau yang karib disapa Beto, merupakan pemain asal Brasil yang mencicipi kompetisi Indonesia sejak 2008. Memulai karier di Indonesia bersama Persijap Jepara, Beto sudah berkecimpung di berbagai klub Indonesia, seperti Persipura Jayapura, Arema, Sriwijaya FC, dan kini berada di Madura United.

Bicara era Liga 1, Beto tercatat membela dua klub, yaitu Sriwijaya FC pada 2017 dan 2018, kemudian Madura United pada musim 2019 dan 2020.

Dalam tiga musim pertama era Liga 1, Beto selalu mencatatkan lebih dari 2.000 menit bermain di setiap musimnya. Pada Liga 1 2017, Beto bermain 33 kali dan selalu menjadi starter. Ia menyumbang 22 gol bagi Laskar Wong Kito. Kemudian pada 2018 ia 25 kali bermain dan menyumbangkan setengah jumlah gol musim sebelumnya, yaitu 11 gol.

Bersama Madura United pada Shopee Liga 1 2019, Beto yang kini sudah berusia 39 tahun bermain dalam 27 pertandingan, dengan 23 di antaranya sebagai starter. Ia pun sukses mencetak 18 gol pada musim tersebut.

Sayang Shopee Liga 1 2020 harus terhenti setelah Madura United memainkan tiga pertandingan. Pasalnya, ketajaman Beto pun jadi seakan terhenti, setelah ia mampu mencetak tiga gol dalam dua laga bersama Madura United pada musim ini.

Bukan hanya Beto Goncalves yang layak diperhitungkan sebagai bomber tajam Madura United di usia senja. Masih ada Greg Nwokolo yang bahkan kini menyandang status sebagai kapten Laskar Sapeh Kerap.

Selebrasi striker Madura United, Greg Nwokolo, setelah mencetak gol ke gawang Mitra Kukar di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, Kamis (13/9/2018). (Bola.com/Aditya Wany)

Tak berbeda dengan Beto Goncalves, Greg juga merupakan pemain naturalisasi yang sudah lama berkiprah di Indonesia. Greg pertama kali bergabung bersama Persijatim Solo pada 2004. Ia kemudian bergabung bersama PSIS Semarang, PSMS Medan, Persis Solo, Persija Jakarta, Pelita Jaya, dan Arema Cronus.

Sempat meniti karier di Thailand ketika sepak bola Indonesia di-banned oleh FIFA, Greg Nwokolo kembali ke Indonesia saat Liga 1 2017 dan langsung bergabung bersama Madura United.

Dalam musim pertamanya bersama Madura United, Greg Nwokolo mengemas 14 gol dan 5 assist di Liga 1 2017 dan bermain dalam 29 laga. Namun, jumlah gol tersebut memang menyusut tajam di musim-musim berikutnya. Greg hanya mengemas 5 gol di Liga 1 2018 dan 3 gol di Liga 1 2019.

Greg Nwokolo memang kini kerap menjadi andalan di sektor sayap. Mengandalkan kecepatannya yang belum habis meski sudah berusia 34 tahun, Greg lebih sering berkontribusi sebagai pengumpan. Tercatat masing-masing 4 assist dibuatnya pada Liga 1 2018 dan 2019.

Pada Shopee Liga 1 2020, Greg Nwokolo yang kini sudah berusia 34 tahun mendapatkan kesempatan dua kali bermain, di mana satu di antaranya sebagai starter. Ia belum mencetak gol, tapi sudah memberikan satu assist.

3 dari 5 halaman

Herman Dzumafo Terlahir Kembali di Bhayangkara FC

Bhayangkara FC Vs PSM Makassar
Striker Bhayangkara FC, Herman Dzumafo, saat melawan PSM Makassar pada laga uji coba di Stadion PTIK, Jakarta, Rabu, (5/2/2020). Bhayangkara FC takluk 0-1 dari PSM Makassar. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Satu lagi pemain naturalisasi yang juga sudah cukup lama berkecimpung di Indonesia ini. Sempat meredup karena kerap berpindah klub, Herman Dzumafo seperti terlahir kembali bersama Bhayangkara FC sejak 2018.

Seperti halnya Greg Nwokolo dan Beto Goncalves, Herman Dzumafo sudah cukup lama berkiprah di Liga Indonesia. Bahkan sejak 2007 bergabung bersama PSPS Pekanbaru, Herman Dzumafo tidak pernah meninggalkan Indonesia.

Setelah meninggalkan PSPS pada 2011, Herman Dzumafo sempat merasakan kiprah bersama Arema Indonesia, Persib Bandung, Sriwijaya FC, Mitra Kukar, Gresik United, Persela Lamongan, hingga kembali ke PSPS Riau. Namanya cukup diingat pecinta sepak bola, tapi tak banyak yang bisa mengingat klub mana saja yang sudah dibelanya saat itu.

Herman Dzumafo seakan kembali terlahir ketika bergabung bersama Bhayangkara FC pada Liga 1 2018. Saat itu, usianya sudah menginjak 38 tahun dan banyak yang meragukan performanya bersama tim yang menjadi juara Liga 1 pada musim sebelumnya itu.

Namun, pelatih Bhayangkara FC saat itu, Simon McMenemy, seakan menyulap Herman Dzumafo menjadi seorang supersub yang luar biasa. Bahkan saking luar biasanya, Herman Dzumafo kemudian kerap dipercaya masuk dalam starter. Ia bermain 33 kali, 22 di antaranya sebagai starter. 11 gol pada musim pertamanya bersama Bhayangkara FC membuktikan dirinya belum habis meski sudah berusia 38 tahun.

Terbilang sukses di usianya yang sudah senja pada musim pertama bersama Bhayangkara FC, Herman Dzumafo kembali membuktikan dirinya belum habis di Shopee Liga 1 2019. Total 10 gol dalam 30 laga bersama Bhayangkara FC di Liga 1 2019 menjadi bukti pemain yang kini berstatus warga negara Indonesia itu masih bisa menjadi andalan.

Kini Herman Dzumafo sudah menginjak 40 tahun. Namun, ia tetap mendapatkan kepercayaan meski dalam tiga laga pertama Shopee Liga 1 2020 selalu menghiasi bangku cadangan. Tapi dalam dua pertandingan di antaranya, Paul Munster memberinya kesempatan untuk bermain.

4 dari 5 halaman

Jangan Lupakan Samsul Arif

Shopee Liga 1 : Persita Tangerang Vs PSM Makassar
Penyerang Persita Tangerang, Samsul Arif, berebut bola dengan pemain PSM Makassar, Asnawi Mangkualam, pada laga Shopee Liga 1 di Stadion Sport Center Tangerang, Jumat, (6/3/2020). Kedua tim bermain imbang 1-1. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Pecinta sepak bola Indonesia tidak boleh melupakan sosok striker lokal yang satu ini. Meski kini sudah berusia 35 tahun, performanya di era Liga 1 terbilang luar biasa untuk ukuran striker lokal.

Samsul Arif Munip, striker kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan seorang pemain yang kerap berkelana di panggung sepak bola Indonesia. Persibo Bojonegoro, Persela Lamongan, Arema Indonesia, Persib Bandung, dan Barito Putera, merupakan tim-tim yang pernah dibelanya sebelum bergabung bersama Persita Tangerang pada musim 2020 ini.

Bicara soal era Liga 1, Samsul Arif memulainya bersama Persela Lamongan setelah meninggalkan Persib Bandung. Samsul Arif tampil menggebrak dengan raihan 16 gol dalam 34 penampilannya bersama Laskar Joko Tingkir.

Namun, Samsul Arif kemudian mencoba peruntungan ke Barito Putera. Penampilannya pada musim perdana bersama Laskar Antasari cukup memukau. 14 gol, termasuk empat gol ke gawang Mitra Kukar di Tenggarong, menjadi bukti Samsul Arif merupakan striker lokal yang patut di perhitungkan oleh lawan pada Liga 1 2018.

Sayang, ketajaman tersebut seolah menurun pada musim keduanya bersama Barito Putera. Samsul Arif yang mendapatkan kesempatan tampil di semua pertandingan yang dijalani Laskar Antasari pada Shopee Liga 1 2019, hanya mampu mempersembahkan lima gol saja.

Kini, striker berusia 35 tahun itu mencoba peruntungan bergabung bersama tim promosi, Persita Tangerang. Dalam tiga laga pertama Shopee Liga 1 2020, Samsul Arif selalu mendapatkan kepercayaan dari Widodo Cahyono Putro untuk menjadi starter.

5 dari 5 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓
Lebih Dekat dengan Sandy Walsh (Part 2), Beragam Alasan untuk Bisa Bela Timnas Indonesia