Perjalanan Arema Menapaki Persaingan Elite di Liga Indonesia

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 27 Mar 2020, 07:45 WIB
Diperbarui 28 Mar 2020, 07:43 WIB
Trivia - Pasang Surut Arema di Pentas Kompetisi Kasta Tertinggi

Bola.com, Jakarta - Arema adalah klub yang menjadi identitas masyarakat Malang, Jawa Timur. Klub berjulukan Singo Edan itu memiliki suporter yang loyal, Aremania.

Arema merupakan klub dengan sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Klub yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan itu berdiri pada 11 Agustus 1987 dengan nama Arema Malang.

Pada masa Galatama, Arema pernah diperkuat Mecky Tata hingga Singgih Pitono. Pencapaian terbaik klub asal Jawa Timur itu adalah menjadi juara pada Galatama 1992-1993 bersama pelatih M. Basri/Gusnul Yakin.

Setelah menjadi juara, Arema mengalami pasang surut performa. Ujian terberat kemudian dialami Arema pada 2003 yakni harus turun kasta ke Divisi 1 karena finis ke-19.

Manajemen kemudian menunjuk Benny Dollo sebagai pelatih Arema. Pria asal Manado itu mengaku tak mudah menukangi tim yang baru turun kasta.

"Tidak mudah melatih tim yang mentalnya tengah terpuruk. Beruntung saya mendapat dukungan penuh dari pihak Bentoel, yang saat itu mengelola Arema, untuk membangun tim. Jadilah Arema tim yang solid di kompetisi kasta kedua musim 2004," kata Benny.

Berkat dukungan dari manajemen dan sponsor, Benny Dollo membentuk tim dengan materi pemain berkualitas. Arema akhirnya tak berlama-lama di kasta kedua Indonesia itu dan bangkit menjuarai Divisi 1 2004 sehingga promosi ke Divisi Utama.

"Saya sangat menikmati masa-masa melatih Arema. Tim amat solid luar dan dalam. Kebersamaan antaranggota tim amat erat," tegas Benny Dollo.

Setelah promosi ke Divisi Utama pada 2005, hingga saat ini Arema konsisten tampil di kompetisi elite Indonesia. Sayangnya, Benny Dollo gagal mempersembahkan gelar buat Arema pada masa Divisi Utama.

Tim asuhannya hanya mampu mencapai babak delapan besar dalam dua musim beruntun, yakni 2005 dan 2006. Manajemen kemudian menunjuk Miroslav Janu untuk menggantikan Benny Dollo.

Akan tetapi, kehadiran pelatih asal Republik Ceska itu tak membawa dampak signifikan. Arema hanya mencapai babak 8 besar Divisi Utama 2007.

Pada 2008-2009, kompetisi tertinggi Indonesia berganti nama menjadi Liga Super Indonesia. Arema pada musim ini diasuh dua pelatih yakni Bambang Nurdiyansyah dan Gusnul Yakin dan bertengger di peringkat ke-10.

2 dari 5 halaman

Penantian Panjang

Aremania
Aksi Aremania saat uji coba Arema melawan Timnas Indonesia U-22 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (10/2/2019). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Memasuki musim 2009-2010, manajemen Arema menunjuk Robert Alberts sebagai pelatih. Pelatih asal Belanda itu kemudian membuat gebrakan dengan mendatangkan pemain-pemain berkualitas.

Arema merekrut Pierre Njanka dari Persija dan duo Singapura, Muhammad Ridhuan dan Noh Alam Shah dari Tampines Rovers. Mereka dipadukan dengan Beny Wahyudi, Zulkifli Syukur, Ahmad Bustomi, hingga Roman Chemelo.

Sementara itu di bawah mistar gawang ada sosok Markus Horison. Namun, Markus hanya bertahan setengah musim. Robert Alberts akhirnya mempromosikan Kurnia Meiga yang ketika itu berusia 19 tahun. Meiga berhasil memberikan penampilan apik di bawah mistar gawang.

Kehadiran para pemain di atas membuat Arema bertransformasi menjadi tim yang tangguh di lini belakang dan tajam di lini depan. Arema akhirnya berhasil menyudahi penantian panjang setelah menjadi juara Liga Super Indonesia 2009-2010.

Arema ketika itu mencatatkan 23 kemenangan, empat kali imbang, dan tujuh kalah. Klub asal Jawa Timur mencetak 57 gol dan hanya kebobolan 22 kali, jumlah paling sedikit di liga kali itu. Ini menjadi gelar perdana Arema di Liga Indonesia.

Musim selanjutnya, Arema ditinggal Robert Alberts yang merapat ke PSM Makassar. Manajemen kembali menunjuk Miroslav Janu sebagai pelatih. Sayang, Arema gagal mempertahankan gelar karena finis di peringkat kedua.

Sejak saat itu, Arema FC belum lagi mampu meraih gelar. Pencapaian terbaiknya adalah meraih peringkat kedua pada musim 2013 dan runner-up Indonesia Soccer Championship 2016 ketika dilatih Milomir Seslija.

3 dari 5 halaman

Bidik Konsistensi

Final Piala Presiden 2019: Arema FC Vs Persebaya Surabaya
Kapten Arema FC, Hamkah Hamzah, merayakan gelar juara Piala Presiden 2019 usai menaklukkan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Jumat (13/4). Arema FC menang 2-0 atas Persebaya. (Bola.com/Yoppy Renato)

Memasuki era Liga 1, Arema FC mengawalinya dengan harapan besar. Arema berhasil meraih gelar Piala Presiden 2017, sebuah turnamen yang digelar sebagai pemanasan jelang bergulirnya liga.

Arema ketika itu diasuh oleh Aji Santoso. Namun, situasi yang berbeda justru dialami Arema pada kompetisi sesungguhnya. Hingga bergulirnya Liga 1 2017, Arema masih kesulitan bersaing. Aji Santoso sadar diri kemudian mengundurkan diri setelah pekan ke-17.

Padahal, Arema ketika itu berada di posisi yang tak buruk-buruk amat yakni peringkat ketujuh. Kursi kepelatihan kemudian dialihkan ke Joko Susilo yang semula merupakan asisten pelatih. Arema finis di posisi kesembilan klasemen akhir.

Pada 2018, Joko Susilo kembali dialihkan sebagai asisten pelatih. Posisi pelatih kepala diberikan kepada Milan Petrovic. Performa Arema sempat naik. Pada akhir musim, Hamka Hamzah dkk finis di peringkat keenam dengan raihan 50 poin. Namun, pencapaian itu tak mampu menyelematakan karier Milan Petrovic.

Kursi pelatih kemudian kembali ke tangan Milomir Seslija. Pada awal musim, harapan akan kesuksesan kembali hadir setelah Arema menjuarai Piala Presiden 2019.

Akan tetapi, pada kompetisi sesungguhnya, Arema kembali kesulitan bersaing. Milomir Seslija hanya mampu mengantarkan Arema finis di posisi kesembilan.

Pada musim ini, Arema mendatangkan Mario Gomez. Pada Shopee Liga 1 2020, Arema masih membidik konsistensi karena terpuruk di posisi ke-12 dengan raihan tiga poin hasil tiga pertandingan. Meski demikian, manajemen Arema masih menaruh kepercayaan pada Mario Gomez.

"Kami masih sangat percaya dengan tim pelatih. Ibarat memasak, kokinya Gomez. Dengan bahan yang ada, kalau kokinya bagus hasilnya akan bagus juga," kata General Manager Arema, Ruddy Widodo.

4 dari 5 halaman

Pencapaian Arema Sejak era Liga Indonesia

Arema FC Logo
Arema FC Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

Divisi Utama 1994-1995: Peringkat ke-6 Wilayah Timur

Divisi Utama 1995-1996: Peringkat ke-12 Wilayah Timur

Divisi Utama 1996-1997: Tersingkir di Babak 12 Besar

Divisi Utama 1997-1998: Kompetisi Dihentikan

Divisi Utama 1998-1999: Peringkat ke-3 Grup 3 Wilayah Barat

Divisi Utama 1999-2000: Peringkat ke-3 Grup 2 Babak 8 Besar

Divisi Utama 2001: Peringkat ke-4 Grup 2 Babak 8 Besar

Divisi Utama 2002: Peringkat ke-4 Grup 1 Babak 8 Besar

Divisi Utama 2003: Peringkat ke-17

Divisi 1 2004: Juara

Divisi Utama 2005: Peringkat ke-4 Grup Timur Babak 8 Besar

Divisi Utama 2006: Peringkat ke-3 Grup Barat Babak 8 Besar

Divisi Utama 2007: Peringkat ke-3 Grup A Babak 8 Besar

Indonesia Super League 2008-2009: Peringkat ke-10

Indonesia Super League 2009-2010: Juara

Indonesia Super League 2010-2011: Peringkat ke-2

Indonesia Super League 2011-2012: Peringkat ke-12

Indonesia Super League 2013: Peringkat ke-2

Indonesia Super League 2014: Peringkat ke-2

Indonesia Super League 2015: Kompetisi Dihentikan

ISC 2016: Runner-up

Liga 1 2017: Peringkat ke-9

Liga 1 2018: Peringkat ke-6

Liga 1 2019: Peringkat ke-9

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓