Flashback Liga Indonesia: Krisis Moneter 1998, Kerusuhan Massa, dan Terhentinya Kompetisi

Oleh Gregah Nurikhsani pada 01 Apr 2020, 10:30 WIB
Diperbarui 01 Apr 2020, 10:30 WIB
Flashback - Liga Indonesia Distop Tahun 1998 Karena Krismon

Bola.com, Jakarta - Terhentinya Shopee Liga 1 2020 sebetulnya bukan barang baru di persepakbolaan Tanah Air. Sebab, pada tahun 1998, krisis moneter yang menghantam Indonesia dan belahan dunia lainnya, roda kompetisi sepak bola terpaksa dihentikan.

Pada akhir 1997, Asia mengalami krisis keuangan yang parah. Indonesia, meski waswas, sebetulnya dalam kondisi yang stabil pada pertengahan tahun tersebut, bisa jadi saat itu merupakan salah satu periode ekonomi paling baik, sebab nilai inflasi rendah, ekspor lancar dan surplus, layaknya orang yang positif virus corona, seperti tidak ada gejala akan ambruk.

Namun, segalanya berubah tiba-tiba. Pasar bergejolak karena adanya peningkatan harga barang yang melonjak ekstrem. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat meroket. Kekacauan melanda masyarakat. Banyak aspek yang terkena dampak, termasuk olahraga, tentunya sepak bola.

Kompetisi sepak bola Indonesia akhirnya berhenti total pada tahun 1998. Kerusuhan massa akibat krisis moneter, berjalan serempak di berbagai daerah di Indonesia, membuat negara dalam keadaan kacau.

Liga Indonesia (Ligina) edisi keempat yang sedang melewati setengah perjalanan harus terhenti dengan status force majeur. Kompetisi yang bernama resmi Liga Kansas itu masih berada di fase grup, di mana operator liga masih membagi kompetisi menjadi tiga wilayah.

Ketika itu, Ligina 1997-1998 diikuti oleh 31 tim. Sepak bola Indonesia juga sedang hangat-hangatnya menyusul penampilan apik Timnas Merah Putih di ajang Piala Asia 1997. Gol sensasional Widodo C. Putro seakan membakar animo masyarakat untuk menyaksikan laga-laga sepak bola Indonesia.

Tim-tim seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persipura Jayapura, Pelita Jaya Jakarta, dan PSM Makassar saat itu sedang 'nyayur' karena penampilan apik sepanjang Ligina 1997-1998. Apa daya, krisis yang terjadi di Indonesia membuat Panglima ABRI Jenderal Wiranto kala itu memerintahkan untuk menghentikan kompetisi akibat alasan keamanan.

Mantan pesepak bola nasional, Agung Setyabudi, menjadi saksi hidup matinya sepak bola Indonesia karena penghentian kompetisi. Eks pemain Arseto Solo itu mencoba menceritakan apa yang dirasakannya nyaris 22 tahun silam.

"Dulu dihentikan cukup lama, lebih dari enam bulan kalau tidak salah. Ya bosan juga, jenuh, mau kerja apa karena hidupnya dari sepak bola," terangnya kepada Bola.com, Selasa (31/3/2020).

 

2 dari 3 halaman

Kerusuhan Massa dan Hilangnya Tim-tim Eks Galatama

Yusuf Ekodono
Yusuf Ekodono (jongkok tengah) bersama rekan Persebaya pada 1997, termasuk Carlos de Mello dan Jacksen F. Tiago, saat menghadapi klub Korea Selatan dalam turnamen segitiga di Surabaya. (Bola.com/Istimewa/Fahrizal Arnas)

Angin segar harus sirna ditiup badai krisis moneter. Kerusuhan massa yang terjadi di penjuru Indonesia membuat keamanan nasional terancam. Kompetisi Ligina lantas dihentikan.

Aksi kerusuhan merembet juga ke ranah sepak bola. Agung Setyabudi masih ingat kejadian pertandingan terakhir yang berujung kerusuhan massa saat Arseto melawan Pelita Jaya Jakarta di Stadion Sriwedari.

Beberapa hari berselang, kerusuhan merembet membuat kota Solo seperti luluh lantak, karena aksi pembakaran dan penjarahan. Kemudian tim yang dibelanya membubarkan diri, dan ia pun hengkang ke PSIS Semarang, setahun kemudian.

Aksi serupa terjadi juga di Bandung, Jawa Barat. Batalnya laga Persib kontra PSIS Semarang di Stadion Siliwangi berujung pada aksi demonstrasi bobotoh. Mereka bersatu dengan elemen masyarakat lain di Gedung Sate, tempat ikonis di ibukota Jawa Bawat tersebut.

Kondisi tak menentu di Indonesia membuat beberapa klub, terutama eks Galatama, kalang kabut. Sebab, mereka merupakan tim mandiri yang roda ekonominya tidak bergantung pada pemerintah.

Pada Ligina 1996-1997, atau pada edisi ketiga, Bandung Raya sudah lebih dulu terpapar efek krisis moneter. Meski berstatus runner-up pada Ligina II, mereka akhirnya mundur pada Ligina IV.

Semusim pasca penghentian Ligina 1997-1998, selain Bandung Raya, dua tim Galatama lainnya, yakni Arseto Solo dan Niac Mitra juga tidak mengikuti Ligina V atau Ligina 1998-1999. Persoalannya klasik, masalah finansial.

Karena penghentian Ligina itu juga, banyak pemain sepak bola yang akhirnya terjun ke pertandingan tarkam (antar kampung). Bahkan pemain sekelas Robby Darwis pun pernah tampil di tarkam. Agung Setiabudi juga mengaku terpaksa mengikuti liga tarkam demi mendapatkan pendapatan.

"Waktu itu saya belum berkeluarga. Bagaimana dengan pemain lain yang sudah berkeluarga menghidupi anak istrinya," ungkap Agung.

"Untungnya waktu itu masih ada tarkam yang bisa menjadi sumber penghidupan. Lumayan seminggu bisa tiga kali bertanding. Bedanya untuk sekarang ini benar-benar tidak boleh ada kerumunan," imbuh eks kapten Timnas Indonesia.

3 dari 3 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓