Pemain Persik Kabur Terbirit-birit ke Australia Sanking Takutnya Penyebaran Virus Corona COVID-19 di Indonesia

Oleh Marco Tampubolon pada 03 Apr 2020, 13:40 WIB
Diperbarui 03 Apr 2020, 13:40 WIB
Persebaya Vs Persik
Gelandang Persebaya Surabaya, Makan Konate (hijau), mengawasi bek Persik Kediri, Ante Bakmaz (kanan), dalam laga pembuka Shopee Liga 1 2020 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (29/2/2020). Persebaya dan Persik bermain imbang 1-1. (Bola.com/Yoppy Renato)

Jakarta - Pemain Persik Kediri, Ante Bakmaz belum bisa ke mana-mana. Dia masih dikarantina di salah satu kamar hotel di Sydney, Australia. Namun bagi pemain berdarah Kroasia itu, terperangkap di ruangan sempit masih lebih baik daripada harus tinggal berlama-lama di Indonesia saat pandemi global virus Corona COVID-19.

Jumat lalu, Bakmaz masih di Kediri, menyelesaikan beberapa keperluannya. Saat itu, dia sudah berpikir ingin kembali ke negaranya, Australia, setelah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menghentikan kompetisi menyusul pandemi virus corona COVID-19 yang sudah sampai ke Indonesia.

Tekad Bakmaz untuk pulang kampung sudah bulat. Mantan pemain Madura United tersebut sedikit kesal karena manajemen memotong 75 persen gajinya tanpa pemberitahuan terlebih dulu.

Bakmaz lalu menghubungi organisasi pemain Australia (PFA). Namun secara tidak sengaja kekasihnya, mengacaukan percakapan itu. "Dia mencuci seprai dan kebetulan ponsel saya ada di atasnya. Semua pesan dari PFA, semua kontak, dan dokumen, dan ponsel saya mati," kata Bakmaz menjelaskan.

Bakmaz segera keluar dan mencari ponsel baru. Namun Bakmaz ingin menjernihkan pikirannya di tengah kekacauan yang tengah melanda dunia gara-gara virus vorona COVID-19.

Sempat terlintas dipikirannya untuk tidak buru-buru mengunduh aplikasi percapakan Whatsapp. Namun hatinya merasa tidak tenang. Apalagi, tidak lama setelah ponselnya kembali aktif, Konsulat Jenderal Australia di Indonesia, Chris Barnes menghubunginya dan memintanya kabru dari Indonesia.

"Saya segera mengaktifkannya lagi dan salah satu teman memasukkanku lagi ke grup Whatsapp," kata Bakmaz bercerita.

Robbie Gaspar, pengurus PFA juga meneleponnya. Selama ini, mantan pemain Persib Bandung itu bertugas memantau para pemain dari negaranya yang tampil di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

"Robbie mengatakan, cepat keluar dari sana. Indonesia kelebihan populasi dan pemerintahnya menyembunyikan data--mereka katakan semuanya terkendali," kata Bakmaz menirukan. 

Tanpa pikir panjang, Bakmaz segera mengemasi barang-barangnya. Tanpa sempat mandi dan hanya mengenakan pakaian seadanya, dia bergegas mencari angkutan untuk pulang ke Australia. Seperti dikejar setan, Bakmaz meminta taksi melaju hingga 140 km per jam menuju bandara.

Kemudian dia segera terbang dari Surabaya ke Jakarta dan berhasil mendapatkan penerbangan kedua terakhir menuju Sydney, Australia. Selain Bakmaz, pemain Australia lainnya yang juga bermain di Indonesia, Jacob Pepper, Aron Williams, dan Aaron Evans melakukan hal yang sama.

"Yang dilakukan PFA sangat luar biasa," beber Bakmaz.

"Mereka sangat memperhatikan keselamatan kami, Robbie Gaspar segera menghungi pemerintah dan memastikan kami semua bisa pulang. Robbie juga bisa bahasa Indonesia sehingga dia bisa berbicara kepada pejabat lokal mengenai hak kami, seperti kami berhak berkumpul dengan keluarga dan berhak mendapatkan keselamatan. Patnerku butuh visa dan mereka membantu mendapatkan semuanya." 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Jalani Karantina

Ante Bakmaz
Ante Bakmaz diyakini bisa menjadi benteng tangguh Persik Kediri di Liga 1 2020. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Bakmaz terbang ke Syndey pada Sabtu malam dan tiba pukul 10.00 pagi keesokan harinya. Namun Bakmaz tidak bisa kemana-mana. Dia harus melewati berbagai prosedur pemeriksaan yang ketat. 

Setelah lima jam, dia akhirnya dibawa naik bus menuju lokasi karantina. Sesuai prosedur yang berlaku di negaranya, Bakmaz kemudian diisolasi selama 14 hari di kamar hotel yang salah satu kacanya bahkan tidak bisa dibuka. Bakmaz tidak diizinkan ke mana-mana bahkan untuk sekedar menghirup udara segar. Namun semua itu bagi Bakmaz jauh lebih baik daripada tetap tinggal di Indonesia.

"Saya mungkin menjadi pembawa asimptomatik, jika saya kembali ke rumah, orang tua saya sudah lebih dari 70 tahun, saya tidak ingin mereka tertular," kata pemain 28 tahun tersebut menambahkan.

 

Sumber asli: FOX Asia

Disadur dari: Liputan6.com (Marco Tampubolon, Published 2/4/2020)

 

3 dari 3 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓