Stres Berat, Bintang Asing Persik Kritik Keras Cara Pemerintah Indonesia Menangani Penyebaran Virus Corona COVID-19

Oleh Ario Yosia pada 03 Apr 2020, 15:20 WIB
Diperbarui 03 Apr 2020, 15:20 WIB
Ante Bakmaz
Ante Bakmaz diyakini bisa menjadi benteng tangguh Persik Kediri di Liga 1 2020. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Bola.com, Jakarta - Saat wabah virus corona COVID-19 baru muncul di Indonesia, pemain asing Persik Kediri, Ante Bakmaz  tidak merasa risau. Apalagi media-media yang mengutip pernyataan pemerintah Indonesia mengesankan kalau situasi terkendali. Namun, belakangan ia merasa stres sendiri.

Namun lama ke lamaan, hati Bakmaz tidak tenang juga. Apalagi negara di sekitar Indonesia sudah mulai terpapar virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada akhir tahun lalu.

"Saya orang yang taat beragama dan Presiden Indonesia, Joko Widodo mengatakan, 'Indonesia baik-baik saja, karena kekuatan doa dan Indonesia tidak ada kasus, tidak ada yang meninggal'. Tapi saya lihat Filipina, Hongkong, saya mulai berpikir lelucon apa yang mereka buat," kata Bakmaz.

"Pasar penuh, semua orang di jalan. Ramadan akan tiba, orang-orang dari kota akan pulang kampung. Anda bisa bayangkan saat anak-anak muda bertemu orang tuanya. Itu akan jadi mimpi buruk.

Sampai saat ini, Bakmaz dan kekasihnya masih menjalani proses karantina mandiri di Australia. Mereka baru bisa pulang ke rumahnya sehari sebelum perayaan Paskah. Meski terasa membosankan, Bakmaz sama sekali tidak mengeluh.

Kini dia sudah bisa membayangkan apa yang menantinya saat pulang. "Ibuku akan membuat sup ayam. Saya sudah tidak pulang selama 18 bulan, jadi saya ingin memanfaatkannya sebaik mungkin," ujar bek kelahiran 7 Maret 1992 tersebut.

Indonesia bukan negara baru bagi Ante Bakmaz. Tahun lalu pemain jebolan Ajax Amstredam sudah mengadu nasib di persepak bolaan Indonesia bersama Madura United. Musim ini, Bakmaz kemudian pindah ke Persik Kediri yang baru saja promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Shopee Liga 1 2020 ini.

2 dari 3 halaman

Pemotongan Gaji

Persebaya Vs Persik
Gelandang Persebaya Surabaya, Makan Konate (hijau), mengawasi bek Persik Kediri, Ante Bakmaz (kanan), dalam laga pembuka Shopee Liga 1 2020 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (29/2/2020). Persebaya dan Persik bermain imbang 1-1. (Bola.com/Yoppy Renato)

Skuat Persik Kediri bergejolak setelah ada rencana kebijakan pemotongan gaji pada bulan Maret, karena kompetisi dihentikan akibat wabah virus corona.

Pelatih dan pemain dilanda keresahan menyusul rencana manajemen yang akan membayar gaji bulan Maret sebesar 25 persen. Kebijakan ini memang ambigu dan tendensius.

Alasan manajemen membayar hak skuat Macan Putih sebanyak itu berdasar edaran PSSI yang menyarankan klub-klub Shopee Liga 1 2020 memberikan gaji 25 persen untuk periode Maret-Juni.

"Dasar yang dipakai pengurus dari keputusan PSSI. Katanya, kalau mereka tak mematuhinya akan dimusuhi klub-klub lain. Ini sangat aneh," kata pemain yang minta namanya dirahasiakan.

Sementara, suara dari kubu pemain ingin gaji bulan Maret dibayar seratus persen. Mereka telah bekerja dengan memainkan dua pertandingan, latihan bersama tim selama sepekan, dan latihan mandiri di rumah saat kompetisi resmi dihentikan PSSI.

"Kami menuntut gaji Maret dibayar penuh karena selama sebulan, kami sudah kerja. Dua kali Persik bertanding, latihan seminggu, dan latihan di rumah dengan mengirim video sebagai buktinya. Aneh kalau kami hanya dibayar 25 persen," tutur pemain tersebut.

 Sumber: Fox Asia

 

3 dari 3 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓