Komite Eksekutif Terbelah Menyikapi Prahara Nepotisme di PSSI dan PT Liga Indonesia Baru

Oleh Ario Yosia pada 05 Mei 2020, 15:50 WIB
Diperbarui 05 Mei 2020, 15:50 WIB
Liga 1 2020, Liga 1, Emtek, PT LIB, Indosiar
Direksi PT Liga Indonesia Baru bersama Direktur Programming Surya Citra Media, Harsiwi Achmad, saat mengumumkan Emtek Group sebagai pemegang hak siar Liga 1 2020. (Bola.com/Yoppy Renato)

Bola.com, Jakarta - Riak-riak perpecahan di jajaran kepengurusan teras PSSI kian terlihat di publik. Persoalan yang tengah hangat adalah isu KKN di PT Liga Indonesia Baru, administrator kompetisi profesional milik PSSI, dan juga di tubuh organisasi federasi sendiri.

Kegelisahan ditujukkan sejumlah pengurus PSSI. Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Juni Ardianto Rachman mengaku miris dengan polemik yang sedang menimpa PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Operator kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 itu sedang tersandung dugaan nepotisme yang dilakukan Direktur Utama (Dirut) mereka, Cucu Soemantri.

Cucu dikabarkan mengangkat anaknya, Pradana Aditya Wicaksana sebagai General Manager (GM) PT LIB secara sepihak tanpa mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

"Seharusnya, PT LIB berpikir keras tentang strategi dan inovasi yang akan dilakukan agar dunia sepak bola kita tetap berdenyut di tengah wabah virus corona," kata Juni dalam keterangan persnya, Senin (4/5/2020).

Untuk meluruskan masalah ini, Juni mendesak PT LIB untuk mengadakan RUPS dalam waktu dekat ini.

"Bila duduk bersama di dalam forum bernama RUPS, saya yakin persoalan ini akan tuntas," katanya.

Supaya RUPS bisa terlaksana, PSSI sebagai pemegang saham golden share berhak memerintahkan PT LIB untuk melakukan RUPS.

Menurut Juni, perbaikan kondisi persepak bolaan di Indonesia harus segera dilakukan karena rintangan yang akan dihadapi sepak bola Indonesia ke depan akan semakin berat. “Terutama dalam menghadapi dinamisasi sepakbola tanah air pasca terhenti akibat virus corona,” katanya.

Dalam beberapa pekan terakhir, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru menuai sorotan publik karena dugaan isu nepotisme.

Isu tersebut muncul karena Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengangkat Maaike Ira sebagai Wakil Sekjen PSSI.

Maaike Ira sendiri merupakan adik ipar dari Mochamad Iriawan atau yang karib disapa sebagai Iwan Bule.

Di sisi lain, Direktur Utama  PT LIB, Cucu Soemantri mengangkat putranya, Pradana Aditya Wicaksana sebagai General Manager (GM) PT LIB tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Mau ikuti challenge 5 tahun Bola.com dengan hadiah menarik? Klik Tautan ini.

 

2 dari 3 halaman

Suara Plt Sekjen PSSI

PSSI, Yunus Nusi
Anggota Exco serta Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi (kiri). (Istimewa)

Terkait hal itu, pelaksana tugas (Plt) Sekjen PSSI, Yunus Nusi menerangkan bahwa keputusan Iwan Bule mengangkat Maaike Ira tidak melanggar ketentuan federasi.

"Statuta PSSI mengatur bahwa pengangakatan sekjen menjadi kewenangam Ketua Umum PSSI. Pun penunjukan Wasekjen adalah hak Ketua Umum PSSI dalam rangka percepatan pelayanan PSSI kepada member yg berjumlah ratusan anggota, baik itu klub Liga 1, Liga 2, Liga 3, Asosiasi Provinsi se-Indonesia, asosiasi-asosiasi sepak bola dan juga organisasi-organisasi sepakbola yang berafiliasi dengan PSSI," kata Yunus Nusi kepada para wartawan.

"Wasekjen juga tidak bersentuhan dengan uang. Murni administratif berbagi tugas dengan Sekjen, dan tidak langsung bertanggungjawab kepada Ketua Umum PSSI," imbuhnya lagi.

Sementara itu, terkait polemik di PT LIB di mana muncul kabar Cucu Soemantri selaku Direktur Utama yang mengangkat anaknya, Pradana Aditya Wicaksana sebagai General Manager (GM), Yunus Nusi menyayangkan hal tersebut.

Meski Cucu sudah membantah kabar tersebut, namun isu ini terlanjur menjadi komsumsi publik yang harus segera diluruskan lewat forum resmi. Pasalnya, berbeda dengan pengangkatan Wasekjen PSSI, posisi GM di PT LIB menurut Yunus harus diputuskan lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bersama klub-klub.

"Karena itu, pengangkatan staf level atas harus melalui rapat direksi. Hal-hal yang menyangkut pengelola keuangan begitu banyak maka memang sebaiknya dihindari hal-hal yang menjadi sorotan publik," tutur Yunus Nusi yang notabene masuk jadi salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI.

3 dari 3 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓