Mengenang Momen Persebaya Bikin Heboh di Pentas Liga Indonesia 2005: Semusim Berselang Juara Divonis Degradasi

Oleh Ario Yosia pada 18 Jun 2020, 15:50 WIB
Diperbarui 18 Jun 2020, 15:50 WIB
Persebaya dan Liga Indonesia 2005
Persebaya dan Liga Indonesia 2005 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Status Persebaya Surabaya sebagai tim besar tak dibantahkan, baik di era Perserikatan hingga Liga Indonesia. Seabrek gelar juara diraih Tim Bajul Ijo.

Dua kali Persebaya menjadi kampiun Perserikatan pada tahun 1978 dan 1988. Lima kali mereka menjadi runner-up pada tahun 1965, 1971, 1973, 1987, dan 1990.

Di era Liga Indonesia, klub kebanggaan Kota Buaya tercatat dua kali menikmati madu gelar juara, yakni pada musim 1996-1997 dan 2004.

Sebagai tim besar, perjalanan Persebaya di pentas sepak bola nasional tak selalu berisi cerita indah, ada juga hal-hal kontroversial yang mencuat. Persebaya lekat dengan hal-hal bombastis yang menghebohkan.

Tak sampai setahun setelah merayakan gelar juara Liga Indonesia 2004, Persebaya Surabaya menggegerkan sepak bola nasional.

Bukan prestasi, tapi keputusan walk out pada babak 8 besar Liga Indonesia 2005 pada 21 September 2005. Manajer tim, mendiang H. Susanto, menjadi aktor di balik keputusan ganjil tersebut.

Kejadian kontroversial ini terjadi ketika Persebaya bertemu Persija Jakarta pada laga ketiga Grup Wilayah Barat. Alih-alih bertarung, sang juara bertahan itu justru memilih mundur setelah peluang mereka lolos ke fase selanjutnya sangat tipis, usai hasil minor dalam dua laga sebelumnya, bermain seri 2-2 versus PSM Makassar dan tumbang 0-1 dari PSIS Semarang.

Situasi menjelang pertandingan Persebaya kontra Persija memang memanas. Selain hubungan antara Bonek Mania dan The Jakmania yang tak harmonis, isu skenario memuluskan langkah Persija menjadi kampiun kompetisi kasta tertinggi di Indonesia sebagai pemicunya. Meski faktanya, Persija akhirnya gagal setelah kalah 2-3 dari Persipura di final.

Bentrokan yang melibatkan Bonek Mania dengan The Jakmania di sekitar Stadion Gelora Utama Bung Karno pun pecah. Bonek juga bergesekan dengan ormas yang melakukan penghadangan terhadap mereka saat tiba di Jakarta.

Saat itu, keselamatan para suporternya, Bonek Mania, dijadikan alasan untuk mengambil keputusan sepihak tersebut.

"Keselamatan suporter menjadi prioritas. Mereka tidak mendapatkan perlindungan yang layak," ujar Penasihat Persebaya saat itu, Bambang Dwi Hartono sehari sebelum laga Persebaya melawan Persija, 20 September 2005.

2 dari 4 halaman

Kembalikan Piala

Haryanto Badjuri dan H. Susanto
Haryanto Badjuri dan H. Susanto duet maut petinggi Persija di musim 2007-2008. (Bola.com/Repro Buku Gue Persija)

Suasana sepak bola Tanah Air semakin gempar setelah Ketua Harian, yang pada 2005 menjabat sebagai manajer Persebaya, H. Susanto menitipkan Piala Presiden ke PSSI Pers untuk diserahkan ke PSSI.

Pria yang akrab disapa Haji Santo ini kemudian membawa pulang skuat Persebaya ke Surabaya meski tindakan ini belakangan dianggap melecehkan PSSI.

"Kami tidak berniat melecehkan PSSI. Kami hanya mengkhawatirkan keselamatan suporter dan mencegah terjadinya kerusuhan yang lebih besar bila Persebaya tampil lawan Persija," ujar mendiang H. Susanto kala itu.  

Pada waktu itu, PSM Makassar menyesalkan keputusan Persebaya. Pasalnya, kans mereka melaju ke final tertutup rapat.

Apapun hasil pertandingan PSM lawan PSIS, tak lagi memengaruhi posisi Persija sebagai pemuncak klasemen babak perempat final wilayah barat. Macan Kemayoran melaju tanpa hambatan ke partai final setelah menikmati kemenangan 3-0 tanpa berkeringat.

Komite Displin PSSI pun bergerak cepat menyikapi pelanggaran fair play yang dilakukan Persebaya.

Sanksi berat itu berupa larangan mengikuti kompetisi liga nonamatir di lingkungan PSSI selama dua tahun berturut-turut. Kemudian denda Rp 25 juta kepada Persebaya dijatuhkan. Namun, hukuman itu dikurangi menjadi 16 bulan dan degradasi ke Divisi Satu setelah melalui mekanisme banding.

3 dari 4 halaman

Pahlawan Menjadi Pesakitan

Saleh Mukadar
Saleh Mukadar (tengah) (Antara)

Bukan hanya Persebaya, Bambang Dwi Hartono, yang menjabat sebagai Wali Kota pada saat itu, dihukum 10 tahun larangan berkecimpung di sepak bola Indonesia.

Sementara, Saleh Ismail Mukadar yang berperan sebagai manajer Persebaya, juga dijatuhi sanksi larangan mengikuti kegiatan sepak bola selama 2 tahun. Saleh juga harus mengembalikan seluruh dana kompensasi sponsor, termasuk uang dari tayangan langsung.

Saleh pun memprotes keras keputusan Komdis PSSI tersebut. Menurutnya, hukuman bagi Persebaya terlalu berat.

"Jadi hukum saja saya atau pengurus lain, jangan timnya," kata Saleh saat itu.Ia keberatan bila Persebaya juga dijatuhi sanksi. Alasannya, tim tidak tahu menahu soal keputusan mundur dari babak 8 besar lantaran itu murni keputusan pengurus.

Ia menilai, Komdis PSSI menggunakan pasal dendam dalam mengambil keputusan. Menurutnya, PSSI hanya menggunakan tangan besi dalam melihat persoalan ini.

Saleh juga membeberkan fakta bahwa ada banyak Bonek yang mengalami luka-luka.

"Siapa bilang tidak ada korban dari suporter Persebaya. Kami punya data valid dan tidak mengada-ada," bantah Saleh soal komentar IGK Manila, manajer Persija kala itu, yang mengatakan bahwa tidak ada kejadian apa pun yang melibatkan Bonek di sejumlah lokasi bentrokan di Jakarta.    

Upaya Saleh pun sia-sia, karena PSSI bergeming. Hukuman tetap dijalankan oleh Persebaya dan para petingginya. Saleh dan Haji Santo yang semusim sebelumnya dianggap sebagai pahlawan berubah menjadi pesakitan. 

4 dari 4 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓